JAKARTA – Atraksi Barongsai menghibut pengunjung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di kawasan Klenteng Kong Miao, Jumat (26/2/2018). Hiburan tersebut menjadi bagian dari perayaan Imlek 2569 Konglizi di Klenteng Kong Miao TMII.
Atraksi barongsai Hailung dari Tangerang yang ditampilkan berhasil memukau pengunjung. Masyarakat yang hadir tampak antusias menyaksikan gerakan lincah barongsai. Antusiasme pengunjung sangat terlihat dari tak berhentinya mereka untuk mengabadikan pertunjukan dengan sarana smartphone.
Tak puas hanya mengabadikan secara biasa, banyak diantara pengunjung yang memilih naik ke atas klenteng untuk lebih leluasa menonton dan mengambiol foto maupun video.
Warga Pondok Gede yang mengaku bernama Yuda menyebut, sengaja datang ke Klenteng Kong Miao TMII untuk menontong Barongsai. “Anak saya minta nonton barongsai. Ya mumpung saya libur juga untuk menyenangkan hati anak. Dia senang banget,” kata Yuda kepada CendanaNews di sela-sela mensaksikan barongsai di pelataran Klenteng Kong Miao TMII.
Ketua Pertunjukkan Barongsai Hailung, Miky Setiawan mengatakan, baru pertama kali tampil dalam perayaan Imlek di Klenteng Kong Miao TMII. “Tampil di TMII suatu kebanggaan bagi kami. Mudah-mudahan bisa tampil lagi penghibur pengunjung,” kata Miky.
Menurut Miky, barongsai memiliki filosofi ritual untuk mengusir roh jahat. Dengan tabuhan tambur yang berbunyi keras, dipercaya bisa mengusir roh-roh jahat. Dalam kepercayaan umat Khonghucu, liong dan barongsai merupakan hewan suci. Sebelum Nabi Khung Ce Lahir muncullah penampakan hewan suci Qilin menyemburkan kitab Kumala.
Dalam kitab tersebut disebutkan, akan lahir seorang putra yang suci tanpa mahkota. Pada saat kelahiran Nabi Khung Ce, muncullah dua ekor naga. Jadi, kata Miky, liong dan barongsai ini menjadi lambang-lambang suci umat Khonghucu.
Karena lambang suci, sebelum pentas barongsai, dilakukan ritual persembayangan terlebih dulu. “Dengan sesajian minimal buah-buahan, air minum dan tiga batang hio. Buah-buah nantinya akan dipersembahkan untuk para dewa yang ada di klenteng ini. Dalam persembayangan, kami panjatkan doa semoga pertunjukan lancar dan sukses tidak ada kendala dapat berjalan dengan baik. Penonton terhibur,” tutur Miky.
Menurut Miky, untuk bisa menjadi penari barongsai membutuhkan waktu antara satu hingga dua tahun untuk belajar. Proses menjadi penari barongsai disebutnya tidak instan. Dalam setiap atraksi barongsai dibutuhkan 10 orang penari. Satu tim yang terdiri dari dua barongsai berisi empat pemain. Lalu, empat orang pemain musik tabuhan tambur, dan dua orang lagi sebagai cadangan.

“Budaya barongsai dan budaya tradisional apapun itu harus dilestarikan bukan sekedar untuk menghibur mencari uang. Tapi kita harus mengimani kesenian ini dengan hati,” tandasnya.
Salah satu penari barongsai, Luky mengatakan, berlatih sudah dilakoni sejak kelas 4 SD. Pada awal berlatih disebutnya, mengalami kesulitan. Namun ketekunan dan kemauan untuk bisa menjadikannya tidak mau menyerah dan terus berlatih untuk melestarikan budaya Tionghoa ini.
“Saya tertarik karena main barongsai ini jarang ada yang bisa. Saya berjuang terus, hasilnya sering tampil jadi bangga,” kata siswa kelas 3 salah satu SMP Swasta tersebut.