Harga Jagung Pipilan di Lamsel Turun ke Rp2.300 per Kilogram
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Petani jagung di wilayah Kabupaten Lampung Selatan sebagian sudah mulai memasuki masa panen. Namun berita gembira tersebut juga diiringi dengan merosotnya harga di pasaran.
Usman (36) salah satu petani menyebutkan, harga jagung di tingkat petani terus mengalami penurunan dibandingkan panen pada bulan Juni 2017 lalu. Harga jagung pipilan sebelumnya mencapai Rp3.900 per kilogram namun turun ke level Rp3.500 per kilogram. Pada panen bulan Januari hingga Februari harga jagung hanya Rp2.300 per kilogram.
“Penurunan harga memang sangat terasa terutama semenjak sejumlah petani sudah tidak bekerjasama dengan perusahaan sehingga petani menjual secara bebas ke sejumlah tempat penampungan,” terang Usman, salah satu petani jagung di Desa Kuripan Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu (3/2/2018).
Putusnya kerjasama petani jagung dengan perusahaan penyedia benih dan penerima hasil panen tersebut diakui Usman memiliki dampak petani tidak harus menjual jagung ke perusahaan tersebut. Namun hal tersebut justru mengakibatkan sejumlah perusahaan penampung jagung lain membeli jagung pipilan dengan harga rendah.
“Pola kemitraan dengan kemudahan bibit, penggunaan mesin perontok dan pengering tersebut bahkan sebagian sudah ditarik oleh perusahaan,” sebutnya.
Usman menyebut pola kemitraan dengan salah satu perusahaan yang dicanangkan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia Andi Amran Sulaiman pada bulan Februari 2017 tersebut bahkan terhenti akibat sebagian petani tidak mampu membayar atau mengembalikan modal pinjaman. Padahal dengan pola kemitraan tersebut sempat digadang-gadang menjadi solusi penyerapan jagung petani di Lampung Selatan sekaligus menjaga kestabilan harga.
“Programnya memang bagus namun karena pendampingan kurang maksimal berimbas sistem kemitraan tidak berjalan dengan baik dan harga jagung kembali anjlok karena banyak agen yang membeli dari petani,“ beber Usman.

Harga di kisaran tersebut mulai terjadi saat sebagian petani jagung belum panen raya sehingga ia dan petani lain mengkhawatirkan harga akan semakin anjlok saat panen raya.
Kondisi anjloknya harga tersebut juga diakui oleh Subandi salah satu pemilik jagung di Desa Tamansari Kecamatan Ketapang. Harga jagung yang rendah merupakan dampak dari melimpahnya pasokan di wilayah Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Mesuji.
Sejumlah gudang penampungan bahkan menyebut harga tertinggi jagung pipilan saat ini hanya berkisar Rp3.100 sehingga petani lebih memilih menjual secara gelondongan.
“Seharusnya harga bisa lebih tinggi karena petani sudah mengeluarkan biaya yang lebih mahal,” terang Subandi.
Subandi bahkan menyebut biaya operasional tersebut diiringi dengan kesulitan petani dalam memperoleh pupuk bersubsidi yang harus ditebus melalui kelompok tani menggunakan billing sistem. Selain pupuk, serangan hama yang mengurangi produksi tanaman jagung juga membuat petani harus merugi kondisi harga seperti saat ini.