Harga Gabah di Aceh Utara Turun

Ilustrasi gabah kering hasil panen - Foto: Dokumentasi CDN

LHOKSUKON – Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani di Kabupaten Aceh Utara, mengalami penurunan. Penurunan dilaporkan sudah dialami dalam dua pekan terakhir.

Dua pekan lalu, harga gabah kering panen di petani masih di kisaran Rp5.600 perkilogram. Kini harga gabah kering hanya Rp4.900 perkilogram. “Turunnya bertahap-tahap, dua pekan terakhir atau pada awal panen di beberapa daerah di Aceh Utara harga beli tembus Rp5.600, lalu menjadi Rp5.200 dan terakhir turun menjadi Rp4.900 perkilogram,” kata Seorang Pedagang Gabah Eceran Muhammad Rafan, Senin (26/2/2018).

Rafan mengaku tidak mengetahui persis penyebab anjloknya harga gabah, Namun diyakini, salah satu faktornya adalah rata-rata daerah di Indonesia sedang memasuki panen raya. Panen raya di musim tanam awal tahun ini akan dialami pada Februari hingga Maret 2018.

Panen raya di banyak daerah tersebut berpengaruh pada turunnya permintaan pasar gabah kering ke luar Aceh. Selama ini gabah kering aceh sering dikirim ke Medan, Sumatera Utara. Saat ini, pedagang memilih untuk mengoptimalkan pasokan gabah bagi kebutuhan lokal.

“Meski saat ini saya telah menghentikan sementara pembelian gabah karena terbentur anggaran, tetapi soal harga kita terus update. Bahkan saya menyakini harga beli ini terus akan merosot,” tandasnya.

Seorang petani di Kecamatan Baktiya yang bernama Mahazir membenarkan adanya penurunan harga jual gabah kering. Bahkan penurunan yang dialaminya cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir. Anjloknya harga hingga Rp700 perkilogram sangat memberatkan petani.

“Pada awal-awal panen sepekan terakhir, beberapa petani sempat menjual gabah eceran Rp5.600 perkilogram. Tetapi tak lama kemudian turun secara bertahap dan sekarang hanya Rp4.900 perkilogram,” keluhnya.

Selain panen raya, cuaca hujan yang terjadi beberapa hari terakhir juga berpengaruh pada proses pengeringan. Dampaknya harga jual menjadi anjlok di tingkat petani. Senada dengan Rafan, Mahazir juga memprediksi harga gabah masih akan terus merosot.

Kerugian yang akan dialami petani akan semakin menjadi, jika melihat saat ini daerah yang panen di Aceh Utara baru sebagian saja. Saat ini panen baru terjadi di Kecamatan Baktiya dan Kecamatan Seunuddon. Harga diyakini akan semakin merosot ketika semua daerah sudah mendapatkan panen.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah diharpakan dapat melakukan pemantauan dan segera mengambil kebijakan untuk menstabilkan harga beli gabah dari petani agar tidak terus mengalami penurunan.

Kepala Ranting Daerah Irigasi (DI) Jambo Aye Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PU-PR) Aceh Utara, Khairil mengatakan, sesuai SK pemerintah daerah, maka pintu air bendungan Langkahan untuk seluruh jaringan irigasi sudah ditutup pada 15 Februari 2018. Hal tersebut menandai bahwa semua daerah sudah mengalami musim panen.

“Semestinya saat ini sudah musim panen. Tetapi karena terhambat banjir kemarin, maka masih terdapat sejumlah desa di beberapa kecamatan di antaranya Baktiya, Seunuddon dan Tanah Jambo Aye belum memasuki masa panen dan tanaman padinya masih masa pembuahan,” jelasnya.

Atas permintaan petani, sebut Khairil, maka pintu air irigasi Bendungan Langkahan yang seharusnya ditutup 15 Februari, terpaksa dibuka lagi. Saat ini untuk memenuhi kebutuhan petani pembukaan dilakukan kapasitas kecil hingga 20 hari dari jadwal penutupan. Kebijakan tersebut untuk membantu agar seluruh tanaman padi yang masih pembuahan dapat tercukupi airnya hingga panen. (Ant)

Lihat juga...