Gelombang Tinggi, Sejumlah Perahu Nelayan Rusak dan Karam
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG — Dua pekan terakhir, cuaca buruk masih melanda perairan Timur Kabupaten Lampung Selatan, dan berimbas sejumlah perahu nelayan rusak dan karam. Dua kapal milik nelayan setempat karam di perairan dermaga tambat Desa Ketapang Laut, Kecamatan Ketapang.
Sumari (30) menyebut, perahu miliknya karam pada Sabtu (3/2/2018) malam akibat gelombang tinggi menghantam pantai Ketapang. Beruntung, perahu miliknya karam di dekat dermaga, sehingga bisa ditarik ke daratan.
Karamnya perahu kedua nelayan tersebut, kata Sumari, karena gelombang tinggi mengakibatkan kapal kecil jenis perahu kasko berbenturan dengan perahu lain, dan menyebabkan kebocoran pada bagian lambung. Beruntung, ungkapnya, perahu yang sedang ditambatkan hanya berada dekat dengan dermaga, sehingga proses perbaikan bisa segera dilakukan dengan penambalan menggunakan dempul, serta proses pengecatan pada bagian perahu yang rusak.
“Kejadiannya malam, sehingga kami tidak mengetahui persis, tahu-tahu pagi harinya air sudah menggenangi sebagian perahu saya, sementara perahu milik kawan saya karam. Namun, mesin tempel sedang dibawa ke darat hanya jaring dan pancing yang ada di perahu,” terang Sumari, nelayan warga Desa Ketapang Laut, saat ditemui Cendana News, Senin (5/2/2018).
Sumari juga menyebut, kondisi gelombang perairan pantai Timur yang melanda wilayah Desa Legundi, Desa Sumbernadi, Desa Sumur dan pesisir pantai tersebut, mengakibatkan nelayan masih enggan melaut untuk menghindari risiko kecelakaan di laut, terutama jenis kapal kasko yang kecil.
Penambatan perahu yang dilakukan di dekat dermaga dengan jarak tambat antarperahu terlalu dekat, bahkan mengakibatkan perahu mengalami benturan yang menyebabkan kerusakan pada bagian lambung perahu.
Selain merusak perahu, dampak gelombang yang masih cukup tinggi juga berimbas tali tambat perahu milik nelayan sempat putus dan perahu mengalami larat akibat jangkar ikut putus.

“Risiko terbentur dengan tiang dermaga yang terbuat dari cor beton dan perahu lain kami siasati dengan membuat tali pengikat ganda di bagian buritan dan haluan, ditambah tali pada lambung kanan dan kiri, agar perahu tak bergeser,” terang Sumari.
Sumari pun memilih tidak beroperasi menangkap ikan dengan sistem payang menggunakan jaring, dan memilih menyelesaikan perbaikan perahu miliknya. Selain itu, sejumlah nelayan memilih untuk mencari pekerjaan lain, seperti menjadi buruh pembersihan ubur-ubur.
Para buruh pembersih ubur-ubur tersebut memiliki tugas memisahkan bagian kepala dan kaki, lalu membersihkan lendir yang masih menempel dengan garam.
Selama tidak melaut dan bekerja sebagai buruh pembersih ubur-ubur, nelayan yang sehari-hari melaut tersebut memperoleh penghasilan Rp70.000 per orang, dengan rata-rata mampu membersihkan sepuluh keranjang atau basket ubur-ubur.
“Hasilnya lumayan, sembari menunggu cuaca membaik, sehingga kami bisa menangkap ikan bilis dan lapan-lapan bahan ikan asin dan teri,” terang Deni, salah satu nelayan.
Akibat kondisi cuaca yang tidak bersahabat berimbas nelayan tidak melaut membuat nelayan pesisir Timur Lampung harus kehilangan penghasilan ratusan ribu per hari. Pekerjaan sampingan sebagai pembersih ubur-ubur yang bahan bakunya didatangkan dari kabupaten lain disebut Deni menjadi pengisi waktu luang, sekaligus menghasilkan saat dirinya tidak mencari ikan di laut.
Saat kondisi cuaca membaik, ia dan nelayan pesisir Timur Lampung kerap melakukan penangkapan ikan layur, ikan bilis dan ikan lapan-lapan yang kerap diawetkan menjadi ikan asin.