Dengvaxia Tidak Siap Digunakan Secara Masal di Filipina

Ilustrasi Bendera Filipina - Foto: Dokumentasi CDN

MANILA – Filipina mengatakan, bahwa vaksin anti-demam berdarah Dengvaxia dapat dihubungkan dengan kematian tiga warga negara tersebut. Hasil penyelidikan otoritas pemerintah setenpat, obat tersebut dinilai tidak siap untuk imunisasi massal.

Sang produsen Dengfvaxia, Sanofi mengungkapkan, bahwa vaksin demam berdarah pertama di dunia Dengvaxia dapat meningkatkan risiko penyakit berat pada orang-orang yang tidak pernah terpapar virus. Berita tersebut memicu kegemparan di Filipina, di mana lebih dari 800.000 anak usia sekolah telah divaksinasi dengan serum tersebut pada 2016.

“Kami bersimpati dengan seluruh keluarga yang telah kehilangan anak. Misi Sanofi Pasteur adalah untuk mengurangi atau menghilangkan penderitaan bagi jutaan orang di seluruh dunia melalui vaksinasi, termasuk di Filipina, “kata seorang juru bicara produsen obat Prancis tersebut dalam sebuah pernyataan yang disampaikan dalam surat elektronik, Sabtu (3/2/2018).

Kementerian Kesehatan Filipina telah menghentikan imunisasi Dengvaxia pada November tahun lalu. Upaya tersebut dilanjutkan dengan membentuk panel ahli beranggotakan 10 orang untuk menentukan apakah obat tersebut terkait langsung dengan kematian 14 anak setelah diberi vaksin.

Penyelidikan menemukan bahwa hal itu mungkin terkait dengan kematian tiga orang. “Tiga kasus ditemukan memiliki hubungan kausal. Mereka meninggal karena demam berdarah bahkan (meskipun) mereka diberi Dengvaxia. Dua dari mereka mungkin meninggal karena kegagalan vaksin,” kata Wakil Menteri Kesehatan Enrique Domingo.

Temuan tersebut memperkuat keputusan Departemen Kesehatan untuk menghentikan vaksiniasi demam berdarah. Kegiatan tersebut dinilai telah gagal pada beberapa anak. “Dengvaxia belum siap untuk vaksinasi massal dan kita perlu tiga sampai lima tahun lagi untuk melihat dan memantau apakah akan ada reaksi merugikan lainnya dari vaksin ini,” tambahnya.

Demam berdarah yang disebabkan nyamuk adalah penyakit menular dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Penyakit tersebut telah membunuh hingga 100 juta orang di seluruh dunia. Menyebabkan setengah juta infeksi yang mengancam jiwa dan membunuh sekitar 20.000 orang dimana kebanyakan adalah anak-anak, setiap tahunnya. Domingo mengatakan temuan panel tersebut akan dibagikan dengan departemen kehakiman. Lembaga tersebut mempertimbangkan untuk mengkasuskan mereka yang dinilai bertanggung jawab atas program imunisasi massal.

Dokter anak dan anggota panel Juliet Sio-Aguilar, dari Universitas Filipina-Rumah Sakit Umum Filipina (UP-PGH) mengatakan, bahwa tim tersebut merekomendasikan penelitian lebih lanjut karena sulit untuk menghubungkan langsung tiga kematian tersebut ke Dengvaxia. “Tidak ada vaksin yang memiliki tingkat keberhasilan 100 persen. Angka kematian demam berdarah di Filipina adalah 60 kali lebih tinggi dari tingkat global,” kata Sio-Aguilar.

Sanofi mengatakan, temuan UP-PGH saat ini tidak memiliki bukti yang secara langsung menghubungkan vaksin Dengvaxia ke salah satu dari 14 kematian tersebut. “Dalam uji klinis Dengvaxia yang dilakukan selama lebih dari satu dekade dan lebih dari satu juta dosis vaksin yang diberikan, tidak ada kematian terkait vaksin yang telah dilaporkan kepada kami,” kata perusahaan tersebut dalam sebuah pernyataan.

Filipina menghabiskan 3,5 miliar peso (68 juta dolar) untuk program Dengvaxia untuk mengurangi 200.000 kasus demam berdarah yang dilaporkan setiap tahun. Sanofi mengatakan bukti klinis mengkonfirmasikan vaksinasi demam berdarah di Filipina akan memberikan pengurangan pada penyakit demam berdarah, termasuk demam berdarah parah. Filipina telah mendenda Sanofi secara simbolis sebesar 2.000 dolar, dengan alasan pelanggaran dalam pendaftaran produk dan pemasaran. (Ant)

Lihat juga...