Polisi Turki Tahan 82 Orang Terkait IS

Ilustrasi bendera Turki - Foto: Dokumentasi CDN

ISTANBUL – Otoritas kepolisi Turki menahan 82 terduga anggota kelompok Islamic State (IS). 77 di antaranya disebut sebagai warga negara asing. Penahanan merupakan hasil dari penggerebekan di Istanbul.

Regu polisi kontra-teror menarget tersangka yang diyakini telah bertindak atas nama para milisi. Mereka adalah orang yang pergi ke zona konflik di Suriah dan Irak dan mempersiapkan serangan di perkotaan di Turki. Penggerebekan itu dilakukan secara serentak di 16 alamat di 10 distrik di Istanbul.

Dalam penggerebekan tersebut, polisi disebut-sebut telah menyita dokumen digital. Namun belum terkonfirmasi keberadaan bukti yang mengkaitkan mereka yang ditahan dengan IS.

Turki telah menjadi mitra dalam koalisi pimpinan A.S melawan gerilyawan IS. Mereja telah menahan lebih dari 5.000 tersangka IS dan mendeportasi beberapa ribu militan asing dalam beberapa tahun terakhir. Polisi Turki sebelumnya meningkatkan operasi terhadap tersangka anggota kelompok IS pada akhir tahun lalu menjelang peringatan satu tahun serangan senjata di malam Tahun Baru di sebuah klub malam di Istanbul yang menewaskan 39 orang.

Kelompok IS mengaku bertanggung jawab atas penembakan tersebut, yang merupakan satu dari serangkaian serangan yang diyakini telah dilakukan oleh para pelaku di Turki dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya seorang jaksa penuntut Turki mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap 120 personil militer.

Penangkapan itu merupakan bagian dari perburuan besar-besaran dari pemerintah terhadap orang-orang yang duduga terlibat dalam kudeta yang gagal di 2016 lalu. Pihak kepolisian kini sudah mulai melakukan razia serentak di 43 provinsi untuk menangkap para pelaku kudeta.

Pemeringtah Turki telah melarang penggunaan aplikasi ByLock sejak terjadinya upaya kudeta dua tahun lalu. Aplikasi tersebut banyak digunakan oleh para penggikut ulama Muslim, Fethullah Gullen. Aplikasi digunakan untuk berkomunikasi pada malam terjadinya kudeta.

Saat itu sejumlah tentara mengkoordinasikan tank-tank dan pesawat tempur untuk menyerang parlemen sehingga menewaskan lebih dari 240 orang. Gulen, yang tinggal dalam pengasingan di Amerika Serikat sejak 1999, membantah terlibat dan bahkan mengecam upaya kudeta yang berakhir dengan kegagalan itu.

Sejak saat itu sudah lebih dari 50.000 orang dipenjara karena dekat dengan ajaran Gullen. Sementara 150.000 lainnya dipecat atau dipaksa cuti di luar tanggungan dari pekerjaannya dalam angkatan bersenjata, perusahaan-perusahaan swasta, dan lembaga pemerintah.

Pihak pemerintah sendiri menangkis tudingan pelanggaran hak asasi manusia dari sejumlah pihak. Mereka mengatakan bahwa operasi pembersihan besar-besaran merupakan satu-satunya cara untuk menangkal ancaman dari jaringan Gullen yang dianggap sudah menginfiltrasi berbagai institusi negara seperti pengadilan, angkatan bersenjata, dan sistem pendidikan. (Ant)

Lihat juga...