Christine Hakim: Akting Butuh Personality dan Karakter Kuat
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk, artinya semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya. Demikian peribahasa yang tepat ditujukan pada aktris senior Christine Hakim, yang sudah sangat berpengalaman dalam perfilman, namun merasa masih dalam taraf belajar.
“Saya menolak kalau diminta untuk mengajarkan akting, karena saya yang sudah 40 tahun lebih dalam perfilman masih belajar, apalagi kalau mengajarkan akting hanya dua jam itu imposible, jadi saya tolak, tapi kalau untuk berbagi mungkin ada pengalaman yang saya bagikan,“ kata Christine Hakim, dalam acara Plaza Indonesia Film Festival 2018 di Atrium Plaza Indonesia Jakarta, Selasa (20/2/2018).
Lebih lanjut, perempuan kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956 itu menerangkan, bahwa banyak orang yang tidak paham kalau bisa menangis tersedu-sedu dikatakan aktingnya sudah hebat, tapi sebaliknya kalau hanya diam dikatakan belum akting.
“Banyak orang yang belum menyadari bahwa ada bahasa oral, bahasa hati, bahasa tubuh, dan ada bahasa film. Seorang aktor harus mampu melakukan semua bahasa tersebut,” terang peraih enam Piala Citra kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik, ini.
Menurut Christine, banyak yang sering melupakan manusia terdiri jiwa dan raga. “Seringkali mereka hanya berpikir raganya, tapi tidak berpikir ada rohnya. Itulah yang sulit dalam akting,“ ungkapnya.
Christine menyampaikan, ia mungkin akan membagikan pengalaman-pengalamannya dalam berakting kepada yang muda-muda. “Paras cantik itu bonus. Apalagi, teknologi canggih sekarang gampang membuat orang bisa kelihatan cantik, “ papar penerima Lifetime Achievement (Pengabdian Seumur Hidup) di ajang SCTV Awards 2002.
Menjadi seorang aktor itu tidak mudah, katanya, karena dalam akting itu dibutuhkan personality dan karakter yang kuat. Karena kalau berakting itu harus keluar-masuk dalam karakter yang berbeda. Kalau tidak mengenal dirinya sendiri, tentu sangat membahayakan.
“Jangankan di Indonesia, karena di luar negeri pun banyak aktor yang frustasi, terjerat narkoba sampai nekat bunuh diri. “Hal itu karena banyak yang tidak mampu menjaga jati dirinya,“ tegasnya.
Christine menekankan pentingnya pemahaman tentang akting yang sebenarnya. Banyak orang yang memanipulasi, tapi belum memberikan jiwanya atau rohnya pada karakter yang diperankannya. “Sempurna atau tidak akan terasa aktingnya dilakukan penuh kesungguhan,“ tandasnya.