Buah Durian, Sumber Pendapatan Besar Petani di Lamsel
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG — Perkebunan durian sebagai salah satu komoditas unggulan warga desa Banjarmasin, kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, mampu memberikan penghasilan yang cukup besar bagi warga.
Adam (50) salah satu pemilik puluhan pohon durian lokal jenis lioh, ketan, labu, kemuning dan lainnya, mengaku sudah memanen 2.000 buah dari biasanya mencapai 5.000 buah durian per musim. Sisanya masih berada di pohon untuk dipanen saat sudah tua dan sebagian menunggu jatuh.
Selama musim durian, ia menghabiskan waktu sepanjang hari secara bergantian dengan sang istri, untuk menunggu durian jatuh di kebun. Dalam sehari sekitar 10 hingga 20 durian jatuhan berbagai ukuran dikumpulkan dan disortir berdasarkan ukuran, dengan harga jual di tingkat petani mencapai Rp10.000 per buah atau Rp20.000 per gandeng ukuran kecil, Rp20.000 per buah atau Rp40.000 per gandeng.

Menunggu durian jatuh, bahkan hingga menginap di kebun, kata Adam, menjadi tradisi para petani dengan sistem umbulan. Gubuk-gubuk sementara yang dibuat sebagai lokasi menunggu buah durian sekaligus menjadi rumah kedua bagi para petani pemilik kebun durian.
Ia menyebut, masa panen buah durian setahun sekali menjadi sumber penghasilan petani yang juga menanam berbagai komoditas lain berupa cengkih dan kakao.
Sebagian pohon durian disebutnya dijual dengan sistem borongan dengan tiga pohon dijual seharga Rp2 juta. Sistem borongan tersebut biasanya sengaja dilakukan pada pohon durian yang jauh dari lokasi gubuk menunggu dan kerap dibeli oleh pengepul, sekaligus penjual buah durian di sepanjang tepi Jalan Lintas Sumatera.
Hingga pertengahan Januari dengan rata-rata harga Rp40 ribu per gandeng, dirinya sudah memperoleh uang penjualan durian sekitar Rp40 juta. Hasil tersebut diakuinya belum dari keseluruhan panen buah durian, karena biasanya ia bisa memiliki omzet sekitar Rp90 juta.
“Membaiknya harga buah durian membuat kami harus menunggu di kebun siang malam bergantian, mengantisipasi adanya pencurian buah durian,”beber Adam.
Selain Adam, salah satu pemilik kebun durian bernama Andini, juga mengaku rela tidur di kebun bersama suami untuk menunggu durian yang berjumlah sekitar 40 pohon, pada masa durian masak. Menurutnya, tanda durian masak pada pohon bisa dilihat saat ada beberapa buah durian sudah jatuh, selanjutnya setiap hari dalam satu pohon minimal empat hingga lima durian akan berjatuhan setiap hari.
Selain dijual secara satuan dan gandengan, kata Andini, sebagian besar buah durian miliknya dijual secara borongan kepada pedagang durian keliling. Rasa beragam dari buah durian, di antaranya manis dan tak berasa membuat pedagang kerap mencampur untuk dijual secara berkeliling. Pembeli yang menginginkan rasa durian manis kerap sengaja ke kebun sekaligus berwisata di kebun durian.
“Akhir pekan selalu ramai keluarga yang mengajak serta anak-anaknya berwisata di kebun durian, sembari melihat proses durian jatuh dan bisa memilih durian manis langsung dari pohon,” terang Andini.
Selama masa panen buah durian, Andini memperoleh omzet sekitar Rp50 juta. Hasil tersebut diakuinya bisa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan sebagian ditabung menunggu musim panen durian berikutnya.
Abdul Hamid (50), tokoh masyarakat desa Banjarmasin, mengakui pendapatan masyarakat meningkat selama musim buah durian. Sebagai salah satu desa di kaki Gunung Rajabasa, desa tersebut menjadi penyumbang terbesar buah durian yang dijual di sepanjang Jalan Lintas Sumatera, bahkan sebagian dikirim ke luar wilayah Lampung.
Pemilik kebun durian, kata Abdul Hamid, memiliki penghasilan minimal Rp30 juta bahkan bisa mencapai Rp100 juta, terutama di saat harga durian yang mulai membaik akhir-akhir ini. Peningkatan pendapatan warga dari sektor perkebunan durian bisa ikut mendukung peningkatan ekonomi masyarakat, di samping dari hasil perkebunan lain berupa kelapa dan kakao.
“Pihak desa juga mulai melakukan kebijakan, agar pohon durian bisa dilestarikan, karena menjadi penyumbang ekonomi masyarakat desa,” terang Abdul Hamid.
Rata-rata, warga di wilayah Banjarmasin memiliki tiga hingga empat pohon durian. Sebagian bahkan memilih ratusan pohon durian. Selain sebagai sumber penghasilan petani, keberadaan perkebunan durian yang dekat dengan tempat wisata air terjun Way Kalam sekaligus menjadikan kawasan Banjarmasin dan Way Kalam menjadi tempat agrowisata durian. Selain bisa menikmati buah durian langsung dari kebun, masyarakat juga bisa menikmati kesejukan alam air terjun Way Kalam.