Serangan Layu Fusarium, Omzet Jual-Beli Pisang Lesu

LAMPUNG – Serangan penyakit layu fusarium yang mengakibatkan sebagian tanaman pisang berbagai jenis milik petani di Kecamatan Penengahan layu dengan ciri fisik daun menguning dan buah membusuk kehitaman pada bagian dalam, membuat petani mengalami kerugian.

Babe (30) salah satu petani pisang menyebut, jenis pisang yang mudah terserang di wilayah Desa Tanjungheran di antaranya kepok dan raja nangka, jenis pisang muli lebih tahan serangan penyakit layu fusarium.

Pemilik sekitar 500 batang tanaman pisang tersebut mengaku, dari hasil menanam pisang dengan masa panen setiap umur 25 hari sekali, dirinya sudah tidak bisa memanen jenis pisang kepok dan raja. Sementara jenis pisang muli dengan masa panen 15 hari masih bisa memberinya keuntungan.

Iwan, salah satu pengepul pisang di Desa Tanjungheran Kecamatan Penengahan [Foto: Henk Widi]
Buah pisang yang dijual dengan sistem tandan dan sebagian sistem timbang tersebut diakuinya memberi keuntungan di atas Rp1 juta per bulan. Namun semenjak serangan hama fusarium ada, dirinya mengalami penurunan hasil hanya berkisar Rp500 ribu per bulan.

“Awalnya penyakit hanya menyerang daun, namun menjalar ke bagian buah sehingga buah pisang siap panen kualitasnya menurun. Saat saya jual tidak laku karena pada bagian dalam buah berwarna hitam meski bagian luar terlihat bagus,” terang Babe, salah satu pemilik kebun pisang di Dusun Jati Desa Tanjungheran Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Rabu (24/1/2018).

Penyakit layu fusarium, diakui Babe, disebutnya juga dialami petani lain pemilik kebun pisang yang menyerang pasca cuaca ekstrim melanda wilayah Lampung Selatan dengan angin barat yang melanda sebagian wilayah tersebut sejak bulan Desember hingga awal Januari.

Asyifa KPS lokasi pengepulan pisang di Desa Tanjungheran mengalami kekosongan stok pasca layu fusarium [Foto: Henk Widi]
Beruntung selain menanam komoditas pisang sebagai hasil perkebunan Babe dan petani lain juga memiliki hasil komoditas perkebunan jenis kakao dan kelapa sehingga saat tanaman pisang diserang penyakit petani masih bisa mendapatkan hasil.

Babe menyebut langkah yang dilakukan pasca tanaman pisangnya terserang penyakit layu fusarium hanya bisa diatasi dengan cara dimusnahkan. Serangan akibat jamur fusarium oxysporum tersebut cepat menjalar akibat penggunaan alat tebang yang sudah terkena penyakit layu fusarium. Sebagian terbawa angin barat yang masih melanda wilayah tersebut.

Dampak serangan layu fusarium tersebut juga diakui oleh Iwan (36), salah satu pemilik usaha jual beli hasil pertanian yang mendirikan kios Asyifa KPS (Kelapa, Pisang, Sayuran) dengan sekali pengiriman pisang mencapai 4 ton, kini hanya mengirimkan sebanyak 2 ton setiap pekan.

Pisang yang dibeli diakuinya merupakan hasil pertanian dari warga di wilayah yang tidak terdampak layu fusarium terutama di wilayah yang terlindung di balik lereng Gunung Rajabasa.

Iwan menyebut, membeli komoditas pisang dari petani dengan jenis ambon, raja nangka, janten, kepok, serai menyesuaikan kelas biasa, rames dan super. Harga yang cukup bagus di tingkat petani disebutnya terkendala kurangnya pasokan karena pisang yang terkena layu fusarium bisa dilihat dari ciri fisik menghitam dan layu. Saat proses penyortiran sebagian pisang terpaksa disingkirkan.

“Saat ada serangan layu fusarium petani sudah tahu pisang yang bisa dijual atau tidak. Namun kerap kondisi luarnya bagus tapi dalamnya rusak sehingga kita harus lebih hati-hati,” terang Iwan.

Harga pisang disebutnya masih cukup stabil. Jenis Ambon dibeli dari petani seharga Rp2.500 per kilogram, ambon super dibeli Rp3.000 per kilogram. Pisang tanduk Rp2.500 per kilogram, pisang raja nangka Rp1.000 per kilogram, sementara jenis muli dibeli dengan sistem tandan seharga Rp10.000 per tandan.

Selain komoditas pisang beberapa petani disebut Iwan menjual komoditas kelapa dengan harga berdasarkan kelas A dan B seharga Rp5.500 per gandeng dan kelas C seharga Rp3.200 per gandeng.

Sebagian tanaman pisang milik warga yang terkena layu fusarium [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...