Sejarawan dari Yogyakarta Angkat Penelitiannya ke Media Film

JAKARTA — Film menjadi media yang cukup ampuh untuk mendekatkan sejarah pada masyarakat. Sebuah film dapat memberikan kita berbagai informasi yang cukup padat. Sebuah film berdurasi mulai beberapa puluh menit hingga paling panjang hanya tiga jam mampu menyampaikan informasi.

Setidaknya akan lebih singkat daripada membaca setumpuk buku. Apalagi masyarakat kita sekarang di era komunikasi yang sudah sedemikian canggih. Bentuk kepraktisan dari media film ini coba dimanfaatkan sebagai sarana untuk menambah wawasan sejarah. Lewat film tentu masyarakat akan lebih mudah untuk memahami sejarah.

Demikian yang kini dilakukan Aan Ratmanto, sejarawan dan penulis buku sejarah dari Yogyakarta, yang memfilmkan hasil penelitiannya untuk dapat mendekatkan sejarah pada masyarakat.

“Saya rencanakan akan memfilmkan tiga hasil penelitian saya, “ kata Aan Ratmanto menuturkan penelitiannya tentang Pasukan Pak Harto, saat bertandang ke kantor Cendana News, beberapa waktu yang lalu.

Film pertama yang akan dibuatnya film dokumenter berjudul ‘Wehrkreise III’, dimana ia tidak membahas tentang kontroversialnya Serangan Umum 1 Maret 1949, tapi ia akan memvisualkan kisah heroik pasukan Wehrkreise III pimpinan Pak Harto yang empat hari mengadakan Serangan Umum malam hari.

“Karena fakta heroik ini kan belum banyak diketahui masyarakat. Semoga dengan memfilmkan penelitian ini masyarakat akan jadi tahu sejarah yang sebenarnya, “ ungkapnya.

Kemudian, film kedua, ‘Plein Pouvoir’ yang diadaptasi dari bukunya yang berjudul ‘Mengawal Transisi: Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Pemerintahan Transisi Republik Indonesia Yogyakarta 1949’.

“Konsepnya kan ‘Plein Pouvoir’ jadi saya jadikan judul filmnya, “ bebernya.

Terakhir, film ketiga, sebuah film fiksi yang masih dalam tataran ide dan belum ada judulnya. Disebut film fiksi karena ia sudah memasukkan ide-idenya yang kekinian.

“Sebenarnya, intinya rekonsiliasi. Bahan-bahannya sejarah. Saya membidik dua tokoh antara tokoh Indonesia dan tokoh Belanda. Mereka sering berdebat, tapi ketika tentara Belanda ditarik. Pokoknya, rekonsiliasi. Poinnya 350 tahun dijajah, sebenarnya di samping peperangan terjadi, tapi mereka sudah saling kenal jadi seharusnya menjadi sahabat, “ paparnya panjang lebar.

Sebelumnya, Aan sudah memfilmkan hasil penelitiannya dengan judul ‘Jogja Kembali’ yang masuk di festival film ‘Jogja-NETPAC Asian Festival Film’ kategori DIY Short 2016.

Dalam film dokumenter berdurasi 24 menit ini, ia mengisahkan tentang dua peristiwa besar yang terjadi pasca-Agresi Militer Belanda II: Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Peristiwa Yogja Kembali.

“Peristiwa kedua tenggelam dalam bayang kejadian pertama. Akibatnya, peristiwa ini dituturkan dan diwariskan dalam keadaan yang tidak utuh, “ ungkapnya.

Selama ini narasi Yogja Kembali selalu berhenti pada 29 Juni 1949. Pada kenyataannya, Yogja Kembali hanyalah satu bagian dari penarikan tentara Kerajaan Belanda dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang berlangsung sejak 24 hingga 30 Juni 1949 dan ditutup dengan Proklamasi 30 Juni 1949 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

“Yogja Kembali adalah simbol pengalihan kekuasan dari Belanda ke Republik Indonesia, “ tegasnya.

Lihat juga...