Ribuan Pelajar-Mahasiswa Hongaria Tuntut Reformasi Pendidikan
BUDAPEST – Ribuan murid sekolah dan mahasiswa perguruan tinggi di Hongaria berunjuk rasa di luar gedung parlemen, Sabtu (20/1/2018). Mereka menuntut reformasi sistem pendidikan, yang dianggap gagal mempersiapkan kehidupan mereka di abad ke-21.
Para pelajar menyebut, sistem pendidikan saat ini terlalu kaku karena hanya memusatkan perhatian cenderung pada pembelajaran dengan menghafal fakta. Sistem pendidikan di Hongaria mereka anggap tidak mendorong anak didik untuk berpikir kritis ataupun kreatif.
Di tengah guyuran hujan dan suhu beku, para pelajar membentangkan spanduk-spanduk yang digambari ekspresi wajah marah serta ditulisi berbagai kalimat seperti “Saya tahu saya jadi tambah bodoh” dan “Otak saya menyusut.”
“Unjuk rasa ini pada dasarnya (dilakukan) untuk menuntut reformasi, tapi kita bisa katakan juga sebagai protes terhadap pemerintah, (unjuk rasa) untuk mengkritik tugas pemerintah dalam bidang pendidikan,” kata seorang pelajar berusia 17 tahun bernama Balazs Fuzfa.
Peserta demonstrasi lainnya, Flora Kokendi (21) mengatakan, sistem pendidikan umum di Hongaria saat ini berjalan tidak baik. “Saya sangat setuju bahwa sistem pendidikan umum saat ini buruk,” tandasnya.
Para demonstrasi mengecam pimpinan Perdana Menteri Viktor Orban yang telah dianggap gagal mereformasi sistem pendidikan dan kesehatan. Dua bidang tersebut juga mengalami masalah besar dampaknya banyak anak muda cerdas Hongaria yang kemudian pindah ke negara-negara Eropa barat. Mereka mencari kondisi yang lebih baik demi masa depan.
Para pelajar dan mahasiswa juga menuntut agar pelajar diberi kebebasan memilih buku pelajaran serta agar jam sekolah wajib dikurangi. “Pendidikan yang adil, demokratis dan modern untuk semua pelajar,” demikian bunyi salah satu selebaran yang dibuat oleh para penyelenggara unjuk rasa.
Partai asal PM Orban, Fidesz, diperkirakan akan memenangi periode ketiga berturut-turut dalam pemilihan tahun ini, yang dijadwalkan berlangsung pada 8 April. Orban, yang mulai berkuasa sejak 2010, telah menggunakan masa jabatanya untuk mengubah ratusan undang-undang dan undang-undang dasar serta memusatkan kekuasaan.
Reformasi yang dilakukan Orban seperti dalam bidang kehakiman dan media tercatat telah memicu konflik dengan Uni Eropa. (Ant)