Reformasi Koperasi, Tumbuhkan Ekonomi Nasional

JAKARTA – Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop dan UKM) mencatat kontribusi koperasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada kuartal III 2017 sebesar 4,48 persen.

Angka tersebut setara dengan Rp 451.953,01 miliar sementara PDB sebesar Rp 10.096.300 miliar. PDB ini mengalami meningkatan dibanding tahun sebelumnya 3,99 persen.

Demikian disampaikan Menteri Koperasi dan UKM (Menkop dan UKM), Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga pada konferensi pers Capaian Kinerja 2017 di Gedung Kemenkop dan UKM, Jakarta, Jumat (5/1/2018).

Namun demikian menurutnya, angka tersebut masih kecil jika melihat kontribusi koperasi di negara Eropa yang mencapai 8 persen. Itu karena mereka sudah lama.

“Kita baru pecah telur dari 1,171 persen pada 2014, kini tahun 2017 kontribusi koperasi pada PDB naik 4,48 persen. Ini kita pecah telur tertinggi, dan target 2018 naik 1 persen,” kata Puspayoga.

Kontribusi koperasi terhadap PDB ini, sebut dia, selain meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional juga tentunya memberikan pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat. Karena tanpa PDB koperasi meningkat, tentu pemerataan kesejahteraan itu sangat sulit dicapai.

“Semakin tinggi PDB koperasi ini, sumbangan kepada pertumbuhan ekonomi. Jadi kalau PDB meningkat kesejahteraan juga meningkat,” ujarnya.

Sejalan dengan pelaksanaan reformasi koperasi yang ditargetkan oleh Presiden Jokowi yang dilakukan dalam dua tahun terakhir, terlihat ada dampak nyata.

Dijelaskan Puspyoga, reformasi koperasi yang dimulai dengan pembenahan data menghasilkan gambaran koperasi aktif dan tidak aktif.

Berdasarkan data per Desember 2017, jumlah koperasi sebanyak 153.171 unit. “75 ribu koperasi sudah sehat, dan 75 ribu belum sehat perlu dibina lagi. Sekitar 45 ribu dibubarkan karena tidak aktif. Tahun 2018, koperasi harus sehat semua,” ujar Puspoyoga.

Dari jumlah koperasi 153.171 unit tersebut, jelas dia, tercatat anggota koperasi aktif 26.535.640 orang. Dan jumlah UMKM tercatat sebesar 59.697.827 unit.

Kembali Puspayoga menegaskan, bahwa semangat pembubaran koperasi itu bukan untuk membubarkan, tapi untuk membuat data base supaya ke depan bisa membuat program-program yang lebih baik.

Puspayoga mengungkapkan, ke depan pihaknya ingin agar koperasi lebih menekankan kualitas. Meskipun jumlahnya sedikit, punya anggota yang banyak.

“Ketimbang jumlahnya banyak tapi anggotanya sedikit. Kami menginginkan agar koperasi bisa meningkatkan kualitas,” ujarnya.

Disampaikan dia, bahwa selain peningkatan kontribusi ke PDB nasional, koperasi juga menorehkan catatan baik lainnya. Ada lima koperasi yang telah menjadi penyalur kredit Ultra Mikro (UM) dan dua koperasi penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai penyalur di seluruh Indonesia. Seperti di Banten, Jakarta dan Lampung.

Bahkan, kata Puspoyoga, anak perusahaan Koperasi Kospin Jasa telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). “Kita dorong lagi koperasi lain, anak usahanya masuk bursa efek, agar lebih banyak lagi,” pungkasnya.