Presiden Soeharto Ingatkan Perlunya Regenerasi Petani

JAKARTA — Generasi muda di keluarga tani jaman sekarang sudah tidak minat lagi mengeluti profesi sebagai petani, bahkan di kalangan mahasiswa lulusan fakultas pertanian itu sendiri. Apalagi orang tua sekarang lebih banyak menginginkan anaknya bisa kerja kantoran, berseragam, dan mendapat digaji tetap.

Badan Pusat Statistik (BPS) menerbitkan laporan Sensus Pertanian 2013, menyatakan keengganan generasi muda yang mengolah lahan pertanian membuat jumlah petani menyusut hingga 5 juta orang dalam kurun 2003-2013.

Jika diringkas, 60,8 persen petani di Indonesia berada dalam usia di atas 45 tahun. Usia produktif seseorang sudah menurun cukup drastis pada usia sepuh seperti itu. Apalagi 73,97 persennya berpendidikan hanya sampai SD. Daya saing mereka tentu lebih rendah dalam strategi bertani gaya modern.

Keengganan generasi muda yang mengolah lahan pertanian, sebenarnya sudah dikhawatirkan berpuluh tahun lalu, saat Orde Baru, sebagaimana yang dilansir Soeharto.co.

Tanpa melakukan pembinaan generasi muda khususnya pada keluarga petani, usaha pembangunan pertanian dan swasembada beras yang sudah tercapai akan sulit dipertahankan kelestariannya.

Presiden Soeharto menegaskan hal ini pada puncak peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke VIII yang dipusatkan di Balai Budidaya Air Tawar, Sukabumi, 17 Oktober 1988.

Lebih lanjut, Presiden menerangkan apabila kita tidak berhasil mempertahankan swasembada beras, untuk melakukan pembangunan pertanian yang tangguh sulit untuk kita wujudkan.

“Indonesia perlu bekerja keras dan penuh kewaspadaan untuk mempertahankan swasembada beras yang telah dicapai pada 1984. Indonesia harus melanjutkan pembangunan pertanian pada umumnya, sehingga benar-benar terwujud pertanian yang tangguh menjelang tahap tinggal landas dalam Pelita VI, “ terang Presiden.

Di samping itu. presiden mengingatkan akan pertambahan penduduk, serta semakin meningkatnya kebutuhan gizi makanan masyarakat. “Peningkatan efisiensi dalam produksi pertanian kita seperti penanganan lepas panen. Harus diupayakan supaya tidak ada produksi pertanian yang terbuang sia-sia. “ ungkapnya.

Presiden Soeharto menegaskan kita menyadari bahwa kunci utama keberhasilan pembangunan pertanian, adalah pada peranan dan usaha berjuta-juta kaum tani kita.

“Saya yakin kaum tani Indonesia akan mampu menjawab tantangan-tantangan pembangunan pertanian. Sebab kaum tani Indonesia, adalah pekerja keras, sangat ulet dan tahan uji. Yang mereka perlukan adalah rangsangan, dorongan dan suasana yang menggairahkan semangat kerja mereka,” ujar Presiden Soeharto lagi.

Karena itu untuk kesekian kalinya Presiden meminta lagi, agar seluruh jajaran aparatur pemerintah, khususnya yang bertugas di bidang pertanian, agar memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dan memberikan bimbingan yang tepat.

Dengan langkah tersebut dapat meningkatkan semangat kerja dan memperluas prakarsa kaum tani. Dengan demikian, kaum tani Indonesia akan dapat mengembangkan dirinya menjadi petani-petani yang tanggung.

Pembangunan kita memang memerlukan petani-petani yang tangguh yaitu petani yang memiliki keterampilan dalam menerapkan teknologi yang terus berkembang pesat, mampu meningkatkan usaha taninya dan mandiri.

Kemajuan Besar

Di bagian lain presiden menyebutkan, memang kemajuan besar yang kita capai dalam pembangunan nasional selama ini adalah peningkatan produksi beras, sehingga kita sekarang telah dapat berswasembada beras. Peningkatan produksi beras itu telah memberikan sumbangan yang besar dalam perturnbuhan ekonomi kita.

Yang tidak kalah penting, peningkatan produksi beras itu telah mengangkat tingkat hidup berjuta­juta petani dan keluarganya. Karena kaum tani merupakan lapisan terbesar masyarakat kita, maka peningkatan taraf hidup kaum tani itu berarti peningkatan taraf hidup rakyat, yang merupakan tujuan utama dari pembangunan kita.

“Dengan meningkatnya produksi beras, dengan meningkatnya penghasilan petani, maka naik pula daya beli masyarakat kita. Ini berarti terbukanya pasaran yang luas bagi barang-barang hasil industri dalam negeri. Pada gilirannya, keberhasilan pembangunan pertanian benar-benar menjadi kekuatan penggerak majunya roda-roda perekonomian dan pembangunan nasional kita,” ucap presiden menutup sambutannya.

Dalam kesempatan itu Menteri Pertanian Ir. Wardoyo menyebutkan, dalam tahun 1989 kita berusaha mencapai sasaran produksi padi sebesar 44,38 juta ton GKG atau meningkatkan produksi padi sebesar 4% dari produksi 1988 yang direncanakan sebesar 42,5 juta ton GKG.

Menurut Wardoyo, berhasil atau tidaknya mencapai sasaran tersebut tergantung dari banyak faktor, seperti ketepatan petani penerapan teknologi yang dianjurkan, iklim yang dapat membantu, tetapi sebaiknya dapat mengurangi keberhasilan usaha.

Peningkatan produksi, ada tidaknya serta berat ringannya serangan jasad pengganggu tanaman berupa hama dan penyakit, merangsang tidaknya harga gabah/beras yang diterima petani serta kesigapan dan kepekaan petani dan aparat menangani masalah­masalah yang berkaitan dengan usaha peningkatan produksi.

Peringatan HPS ke-VIII tahun 1988 ini diselenggarakan dengan tema yang ditetapkan FAO “Rural Youth”. Sedang tema nasional adalah “Dinarnisasi Pemuda Pedesaan dalam Melestarikan Swasembada pangan dan mewujudkan Pertanian Tangguh”.

Gubemur/KDH Prop. Jabar H.R. Muh. Yogie SM dalam laporannya pada kesempatan itu mengemukakan budidaya mina padi di Jabar semula dikenal di Kabupaten Ciamis, kemudian menyebar keseluruhan Jabar dan merupakan kegiatan pendederan yang menghasilkan produksi benih untuk dikembangkan lebih lanjut di kolam, jaring terapung (keramba-red) dan sebagainya.

Luas area yang dikembangkan dengan sistim mina-padi di Jabar tahun 1987 mencapai 21.178 ton, Sukaburni memiliki 5.483 ha, yang berarti 118 darikeseluruhan Jabar dengan hasil 4.385 ton, atau kira-kira seperlima dari seluruh Jabar.

Pemasarannya telah dilakukan melalui KUD oleh kelompok tani sendiri, sesuai dengan keadaan daerah masing-masing. Angka-angka itu memberikan gambaran, cukup alasan untuk mengembangkannya pada tahun 1988/89 ini” tambahnya.

Sementara Dirjen FAO, Dr. Edouard Saouma, dalam sambutan tertulisnya mengatakan,al tahun ini HPS mengambil tema ‘Pemuda Pedesaan’ para pemuda yang berumur di antara 15-24 tahun yang di pundaknya digantungkan harapan dunia di masa yang akan datang dalam mencukupi kebutuhan pangan.

Hadir dalam acara ini beberapa menteri al. Menkop/Kabulog, Bustanil Arifin SH, Mendagri Rudini, Menpora Ir. Akbar Tandjung, Pangab Jend. TNI Tri Soetrisno, Kepala BKKBN .

Setelah temu wicara dengan para Taruna Tani, Presiden dengan didampingi oleh Mentan Ir. Wardoyo, Menkop/Kabulog BustanilArifin SH, dan Dirjen Perikanan R. Soeprapto melakukan panenan ikan nila mas, di area Mina-Padi di lokasi upacara HPS ke VIII.

Sekarang, Presiden Joko Widodo memang mencantumkan kedaulatan pangan sebagai salah satu program prioritas dalam Nawacita. Program Jokowi ini berbeda dari program ketahanan pangan di era Soeharto. Dalam konsep ketahanan pangan, seluruh kebutuhan makanan masyarakat Indonesia harus terpenuhi, tak peduli dari mana sumbernya.

Visi tentang kedaulatan pangan sudah digembar-gemborkan Jokowi sejak masa kampanye. Ia bahkan mendapat dukungan dari Serikat Petani Indonesia (SPI)—organisasi petani yang mengampanyekan kedaulatan pangan. Tetapi Jokowi tampak masih akan berusaha untuk mencapai kedaulatan pangan.

Masih banyak PR yang harus dilakukan pemerintahan Jokowi-JK agar Indonesia bisa mandiri dan berdaulat pangan, sebagaimana dulu pencapaian Presiden Soeharto dalam swasembada pangan pada era Orde Baru

Lihat juga...