LAMPUNG — Musim hujan yang mulai merata memberi imbas pada industri rumahan kerupuk tradisional yang dikenal dengan kerupuk cacing di Dusun Pasuruan Bawah, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan. Kabupaten Lampung Selatan.
Menurut Sang pemilik, Dedi Irawan (35) kondisi cuaca musim penghujan dan cuaca kerap mendung membuat proses pengolahan kerupuk membutuhkan sinar matahari untuk pengeringan maksimal.
Industri rumahan pembuatan kerupuk rasa ikan dengan bahan utama tepung terigu,ikan serta berbagai bumbu tersebut sudah ditekuninya selama lima tahun. Dedi memperkerjakan enam orang karyawan.
Dalam dua pekan terakhir Dedi Irawan terpaksa meliburkan karyawan akibat kondisi cuaca yang tak mendukung untuk proses pengeringan kerupuk yang diproduksinya.
“Kurang maksimalnya sinar matahari sebagai pendukung pengeringan utama membuat kerupuk tidak mengembang dan berjamur,” terang Dedi saat ditemui Cendana News, Selasa (9/1/2018)
Dalam sehari Dedi bersama karyawan memproduksi 50 kilogram bahan baku pembuatan kerupuk. Selanjutnya dicetak mempergunakan mesin hidrolik yang mencetak bahan kerupuk seperti cacing, sehingga disebut kerupuk cacing.
Setelah diproses mempergunakan alat hidrolik, kerupuk dikukus dalam mesin berbahan bakar kayu. Setelah dilakukan pengukusan kerupuk proses pengeringan dilakukan di atas para para bambu untuk memudahkan pemindahan dalam proses penjemuran.
Dedi memastikan selama proses pengukusan dirinya membutuhkan sebanyak empat kubik kayu bakar selama dua pekan dengan biaya sekitar Rp300 ribu dengan ukuran sebanyak satu kendaraan L300.
Saat kondisi cuaca panas pasokan bahan bakar kayu cukup melimpah. Namun kini pasokan kayu bakar cukup sulit. Kondisi cuaca membuat stok kayu bakar dalam kondisi kering semakin berkurang di gudang miliknya.
“Saya kerap membeli kayu bakar dari sejumlah pengepul di dekat Gunung Rajabasa namun selama musim hujan ini pengepul juga kesulitan memperoleh kayu bakar berimbas ,” beber Dedi.
Omzet per bulan usaha kerupuk miliknya di atas Rp10 juta bisa tercapai jika dalam kondisi cuaca membaik. Dirinya memproduksi kerupuk matang dan dijual dalam kondisi siap goreng.
Kerupuk siap goreng atau kerupuk cacing mentah dengan kuota 5 ton sekali pengiriman ke beberapa wilayah di antaranya Bandarlampung, Metro dan wilayah Lampung. Kuota ini akan sulit tercapai selama musim penghujan berlangsung.
Selama musim kemarau Dedi Irawan memastikan proses penjemuran kerupuk cacing miliknya bisa dilakukan selama satu hari, dengan para-para sebanyak 500 buah ditempatkan pada penopang bambu.
Sebaliknya dalam musim penghujan saat ini ia mengaku membutuhkan waktu minimal dua hingga tiga hari penjemuran sehingga para-para harus ditutup dengan terpal.
Selain waktu yang lama dalam proses penjemuran dampak musim hujan berimbas kerupuk miliknya kerap kurang maksimal dan tidak mekar saat penggorengan dan berjamur.
Menurut Dedi sebelum proses penggorengan proses penyortiran harus dilakukan memisahkan kerupuk yang lembab dan berjamur. Setelah proses penggorengan yang dilakukan di lokasi pengolahan yang sama proses pembungkusan kerupuk.
Proses pembungkusan ini disebarkan ke beberapa rumah warga melibatkan warga setempat yang bekerja secara harian membantu mengemas kerupuk dalam plastik. Kerupuk tersebut dibungkus dalam kemasan seharga Rp2.000 dan Rp5.000 dan dikirim ke beberapa wilayah.
Selama memproduksi kerupuk Dedi Irawan yang bekerja membutuhkan sinar matahari membuat dirinya berupaya untuk membuat ruang penyimpanan sekaligus penjemuran tanpa terkendala cuaca menggunakan bangunan terbuat dari seng.
Namun keterbatasan modal dan lokasi yang masih menyewa pada bangunan milik orang membuat dirinya belum membuat bangunan untuk penjemuran dengan atap sehingga tidak perlu melakukan penutupan menggunakan plastik terpal.
