Pratikno: Anak Muda Seharusnya Melakukan Disrupsi Teknologi

YOGYAKARTA –– Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prof. Dr. Pratikno, mengajak pendidikan tinggi untuk mencetak anak-anak muda pembelajar kreatif dan inovatif di tengah perubahan era teknologi digital.

Menurutnya, kaum muda seharusnya tidak hanya sekedar menjadi pengguna dari disrupsi teknologi, namun mendisrupsi teknologi agar bisa memecahkan persoalan ekonomi sosial yang ada.

“Indonesia memerlukan entrepreneur hebat yang mampu mengatasi masalah sosial dan menjadi pemecah masalah,” kata Pratikno dalam diskusi ‘Sharing session’ yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di hotel Santika, Kamis (25/01/2018).

Pratikno memaparkan perubahan dahsyat revolusi industri keempat sekarang ini, menjadikan semua pemerintah di seluruh dunia berpikir keras untuk menyelaraskan pertumbuhan ekonomi negara mereka masing-masing.

Perubahan dari setiap disrupsi teknologi, kata Pratikno, memang mampu melahirkan jenis-jenis pekerjaan kerja baru namun menghilangkan jenis pekerjaan yang lama.

“Begitu ada inovasi. maka ada jenis pekerjaan tumbuh dan ada yang hilang,” katanya

Lebih lanjut Pratikno mencontohkan anak muda seperti Nadiem Anwar Makarim, pendiri perusahaan Go-Jek patut dicontoh oleh anak muda yang lain. Dikatakan, Nadiem merupakan salah satu anak muda yang berhasil melakukan disrupsi teknologi.

“Nadiem selalu mengatakan kepada saya bahwa mereka di Go-Jek selalu melakukan internal disruptor lebih dulu sebelum pihak eksternal melakukannya,” katanya.

Meski Nadiem Makrim jebolan hubungan internasional, kata Pratikno kepeduliannya pada persoalan sosial di masyarakat menginpirasinya untuk melakukan sesuatu yang bisa mengatasi hal itu, sehingga muncul ide bisnis Go-Jek yang bergerak dalam dunia digital.

Apa yang dilakukan oleh Nadiem, menurut Pratikno patut diapresiasi. Pasalnya nilai brand perusahaan Go-Jek saat ini lebih tinggi dibanding dari persuahaan taksi terbesar di Indonesia. Bahkan nilai jualnya lebih tinggi dari pada perusahaan maskapai milik negara.

Revolusi indusri keempat saat ini, kata Pratikno, tidak hanya sekedar dipahami oleh kalangan dunia pendidikan tinggi, namun diperlukan kerja keras untuk mencetak anak-anak muda pembelajar cerdas untuk melakukan disrupsi.

“Pendidikan tinggi perlu mengatisapasi perubahan revolusi teknologi. Kita perlu mencetak SDM pembelajar cerdas. Jangan sampai kita terlambat,” kata Pratikno di hadapan peserta diskusi yang diikuti beberapa dekan di lingkungan UGM.

Lihat juga...