Prancis Siap Negosiasi Jika Warganya Dijatuhi Hukuman Mati

PARIS – Paris menyebut siap melakukan campur tangan jika seorang gerilyawan dari Prancis dihukum mati di Irak atau Suriah. Kemungkinan terjadinya eksekusi tersebut muncul setelah pengadilan Irak pada bulan ini menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang wanita Jerman keturunan Maroko karena menjadi anggota IS.

Uni Eropa memiliki kebijakan lama untuk melawan hukuman mati dan semua negara anggota telah meninggalkan hukuman itu. “Prancis akan melakukan campur tangan, dengan melakukan perundingan dengan negara bersangkutan,” tandas Menteri kehakiman Prancis Nicole Belloubet menanggapi pernyataan kemungkinan adanya gerilyawan asal Prancis akan dieksekusi.

Negosiasi yang dilakukan disebutnya, bisa sampai melibatkan permintaan upaya ekstradisi. Namun Belloubet menyebut, bahwa situasi seperti itu akan dinilai kasus per kasus.

Jaksa penuntut umum Prancis Francois Molins mengatakan bulan ini bahwa diperkirakan 676 warga negara Prancis, termasuk 295 wanita, berada di wilayah Irak-Suriah. Prancis tetap melakukan siaga tinggi setelah mengalami gelombang serangan yang ditugaskan atau diilhami oleh militan kelompol IS pada 2015 dan 2016. Tercatat serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 200 orang.

Sementara itu, kurang dari seribu gerilyawan IS masih berada di Irak dan Suriah. Menurut koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat yang memerangi milisi garis keras Sunni. Irak dan Suriah telah mengumumkan kemenangan atas IS dalam beberapa pekan terakhir.

Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah setahun tentara kedua negara bersama berbagai sekutu asing dan pasukan militer daerah mengusir anggota IS, yang pernah membuat kekhalifahan yang mereka proklamasikan sendiri, dari semua kota dan desa.

AS telah memimpin sebuah koalisi internasional yang melakukan serangan udara terhadap IS sejak 2014. Serangan dilakukan kelompok tersebut menyapu sepertiga dari wilayah Irak. Pasukan AS telah bertugas sebagai penasihat di lapangan bersama dengan pasukan pemerintah Irak serta kelompok Kurdi dan Arab di Suriah.

“Oleh karena komitmen Koalisi dan kompetensi yang ditunjukkan dari rekan kami di Irak dan Suriah, diperkirakan ada kurang dari seribu teroris IS di dalam area operasi gabungan kami, sebagian besar dari mereka diburu di daerah gurun pasir timur Suriah dan Irak Barat,” kata koalisi pimpinan AS.

Angka tersebut tidak mencakup daerah-daerah di Suriah barat yang berada di bawah kendali pemerintahan Presiden Bashar al-Assad dan sekutu-sekutunya. Sekutu utama Assad, Rusia, juga mengatakan bahwa pertempuran utama dengan IS di Suriah telah berakhir. Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov mengatakan bahwa tugas utama di Suriah sekarang menghancurkan kelompok militan Islamis yang lain, yaitu Nusra Front.

Persekutuan pimpinan AS pada 5 Desember mengatakan ada kurang dari 3.000 petempur yang tersisa. Irak mengumumkan “kemenangan akhir” atas kelompok tersebut pada 9 Desember. Sebagian besar kelompok bersenjata terbunuh atau tertangkap dalam tiga tahun belakangan. (Ant)

Lihat juga...