Petani di Lamsel, Panen Buah Sukun dan Jengkol
LAMPUNG — Musim panen sejumlah komoditas perkebunan, saat ini, memberi dampak positif bagi sejumlah petani pekebun sistem tumpang sari di Lampung Selatan.
Ardian (30) salah satu petani pemilik lahan kebun di lereng Gunung Rajabasa, menyebut bulan Januari menjadi puncak masa panen komoditas perkebunan seperti kakao, sukun, jengkol dan cabai jawa.
Harga menjanjikan dari sejumlah komoditas perkebunan itu, yakni buah sukun Rp3.000 per buah, sehingga dari satu pohon dengan hasil panen 100 buah saja dirinya memperoleh Rp300.000, belum termasuk pohon lain, yang ditanam secara tumpang sari seperti jagung dan pisang.
Selain sukun dari hasil kebun miliknya, ia juga memperoleh uang tambahan dari beberapa jenis tanaman lain, yakni jengkol, yang dijualnya seharga Rp20.000 per kilogram.
“Komoditas jengkol pernah melonjak naik di pasaran, sehingga menguntungkan bagi sejumlah petani. Meski sekarang masih turun harganya, namun memberi keuntungan bagi petani pekebun seperti kami,” beber Ardian, yang menjual beragam komoditas pertaniannya ke salah satu pengepul hasil pertanian di tepi Jalan Lintas Sumatera Kecamatan Penengahan, Senin (15/1/2018).
Komoditas pertanian yang dihasilkan pada kebun miliknya, berupa sukun disebutnya kerap dipasok ke sejumlah pedagang kuliner sukun goreng dan pembuatan keripik sukun dari jenis sukun alam yang memiliki rasa renyah dan gurih.
Sementara untuk komoditas jengkol, Ardian menyebut permintaan dominan dari para pemilik usaha kuliner rumah makan di wilayah Serang dan Jakarta untuk pembuatan semur jengkol. Pasokan jengkol yang melimpah bersamaan dengan panen raya membuat harga jengkol stabil di level petani dan pengepul hasil pertanian dan perkebunan.
Selain menjual beragam komoditas perkebunan dari hasil kebun miliknya, Ardian juga membeli sejumlah komoditas perkebunan dari petani lain, di antaranya kelapa dan pisang, dengan keuntungan selisih jual ke pengepul sebesar Rp2.000 hingga Rp5.000 per buah.
Kelapa muda yang dibeli dari petani seharga Rp2.500 per gandeng, dijual ke pengepul dengan harga Rp3.500, sehingga di tingkat konsumen bisa mencapai Rp8.000 hingga Rp10.000 per buah.
“Sebagian petani pemilik kebun menjadikan hasil kebun sebagai sumber penghasilan tambahan, selain hasil utama dari tanaman kakao dan pisang yang bisa dipanen setiap pekan,” terang Ardian.
Komoditas tanaman kakao yang saat ini bernilai jual Rp23.000 hingga Rp25.000, disebutnya masih cukup rendah karena pernah mencapai level harga Rp30.000 per kilogram.
Jenis komoditas pisang dengan berbagai kualitas, di antaranya kelas rames, sedang dan super, disebutnya dijual ke pengepul dengan harga bervariasi, mulai dari Rp15.000 hingga Rp30.000 per tandan, mulai jenis kepok, raja nangka, ambon dan jenis pisang lain.
Salah satu pemilik usaha jual beli komoditas pertanian, Matsupi, mengaku sejumlah komoditas pertanian yang tengah mengalami panen raya saat ini cenderung turun. Selain itu, melimpahnya pasokan sejumlah komoditas pertanian membuat sejumlah lapak banjir stok di wilayah Serang dan Tangerang, berdampak anjloknya harga sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan.
“Kami memiliki sejumlah karyawan yang mencari komoditas pertanian ke sejumlah desa, lalu dikumpulkan dan dikirim ke sejumlah pasar di Jakarta dan sekitarnya,” terang Matsupi.
Sebagian besar komoditas perkebunan yang dibeli dari petani, disebutnya pada musim hujan dengan jumlah pasokan air berlimpah membuat hasil panen maksimal dan mempengaruhi harga. Kondisi berbeda akan terjadi pada saat musim kemarau, dengan beberapa jenis komoditas pertanian mengalami penyusutan produksi, dan akan membuat harga komoditas pertanian dan perkebunan naik.
Kelancaran pasokan dan distribusi barang yang mempergunakan kendaraan ekspedisi, juga disebutnya kerap terpengaruh dengan kenaikan harga bahan bakar minyak dan tarif jasa penyeberangan dengan kapal laut.
Beruntung, pada awal 2018 belum terjadi kenaikan harga BBM termasuk kenaikan tarif jasa penyeberangan sehingga biaya pengangkutan masih stabil, dengan satu kali pengiriman menggunakan truk membutuhkan biaya Rp2juta hingga Rp3 juta melalui sistem borongan.