Pengolahan Sampah KSM Aceh Barat Kesulitan Bahan Baku

MEULABOH – Kelompok swadaya masyarakat (KSM) Kabel Sejahtera, Desa Kampung Belakang, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat, kesulitan mendapat bahan baku sampah anorganik untuk kegiatan bisnisnya.

Ketua KSM Kabel Sejahtera, Zulfahmi mengatakan, industri pengolahan sampah menjadi bahan setengah jadi yang dikelola KSM Kabel Sejahtera membutuhkan 4 ton sampah plastik setiap bulannya. Sampah yang dibutuhkan seperti kemasan air mineral untuk diolah menjadi cacahan plastik.

“Idealnya untuk kebutuhan bahan baku olahan 4 hingga 5 ton per bulannya, namun karena keterbatasan pasokan dan terbatasnya lokasi untuk penjemuran. Selama ini produksi cacahan plastik kita jauh lebih rendah dari target maksimal,” ungkapnya, Senin (8/1/2018).

Zulfahmi mengatakan, alat prasarana yang merupakan bantuan pemerintah melalui dana APBN 2016 memiliki kapasitas mesin produksi 100 Kg/jam. Kapasitas tersebut untuk mengolah bahan baku seperti botol air mineral, kemasan air mineral serta plastik sejenisnya yang dijual masyarakat.

Kapasitas produksi mesin sebesar 100 kilogram per hari, dalam 22 hari atau satu bulan operasional KSM Kabel Sejahtera bisa memproduksi 3,4 ton cacahan plastik. KSM Kabel Sejahtera menampung sampah plastik yang dijual oleh masyarakat dengan harga Rp2.500/Kg untuk jenis A3. Setelah diolah menjadi bahan cacahan plastik KSM Kabel Sejahtear menjualnya ke pasar pengumpul seharga Rp5.400/Kg.

Sementara untuk jenis A1 seharga Rp6.500/Kg dan dijual seharga Rp9.700-Rp10.500/Kg. “Sampah plastik A3 berupa kemasan air mineral yang belum dibersihkan, sementara plastik jenis A1 adalah sampah yang hanya tinggal dicacah,” tandasnya.

Lebih lanjut dikatakan, usaha pencacahan plastik tersebut berawal dari bantuan suntikan dana desa. Bantuan tersebut mendorong produktivitas masyarakat untuk mengembangkan usaha dengan membentuk KSM yang beranggotakan sejumlah warga lokal desa. KSM tersebut menjadi pengelola usaha pencacahan plastik tersebut.

Zulfahmi menyampaikan, dirinya bermaksud mendorong pihak desa lain, termasuk lembaga sekolah untuk mengelola sampah anorganik dengan menyediakan bank sampah. Hasilnhya kemudian dijual kepada KSM Kabel Sejahtera dengan harga yang sesuai.

Upaya pengembangan usaha tersebut diharapkan bisa menampung tenaga kerja lokal lebih banyak. Selama ini usaha desa tersebut hanya mempekerjakan tiga orang sehingga produksi bahan baku juga masih terbatas. “Kita menginginkan sekolah-sekolah dan desa bisa membuat bank sampah, kami siap menjemput membeli. Sebenarnya dari produksi sampah yang dikelola oleh pemerintah daerah juga bisa dipilah untuk kita beli,” katanya menambahkan.

Zulfahmi menyampaikan, tidak semua sampah atau limbah bisa mereka olah karena mesin yang mereka miliki hanya untuk beberapa jenis limbah, karena itu tidak mudah mendapatkan pasokan bahan baku sampah plastik anorganik yang maksimal. (Ant)

Lihat juga...