Pedagang Berharap Pemda Menata Pasar Tingkat Maumere

MAUMERE – Para pedagang yang berjualan di pasar Tingkat Maumere berharap, pemerintah kabupaten Sikka melalui dinas perdagangan, koperasi dan usaha kecil manengah melakukan renovasi dan penataan pasar yang berada di pusat pertokoan tersebut.

“Kalau bias, pasar ini segera dilakukan renovasi dan penataan, sebab tempatnya sudah sangat semrawut dan dipenuhi oleh pedagang, baik pedagang harian maupun para pemilik kios,” sebut Matias Ratu Redo, Selasa (9/1/2018).

Matias mengeluhkan banyaknya pedagang kecil yang menjual sayur dan aneka hasil kebun seperti singkong dan kelapa yang berjualan di lorong-lorong, bahkan hingga meluber ke jalan raya di depan pasar.

“Saya kasihan sekali melihat orang-orang tua dari kampung yang menjual hasil kebun mereka dengan menggelar dagangan di tanah sejak dari pintu masuk hingga ke lorong-lorong di dalam pasar,” ungkapnya.

Matias berharap, pasar Tingkat segera ditata, sebab setelah adanya pembongkaran lapak pedagang pakaian bekas di sisi selatan pasar, banyak penjual dari kampung yang menggelar dagangan secara tidak teratur. Apalagi, saat musim hujan mereka pasti tidak bisa berjualan.

“Harusnya lahan di bekas tempat penjualan pakaian bekas bisa dibangun los-los permanen, sehingga pedagang sayur dan hasil kebun dari kampung-kampung bisa berjualan di tempat ini dan lebih nyaman. Mereka juga bisa terhindar dari hujan dan panas,” tuturnya.

Hal senada juga dikeluhkan Sisilia Nona, pedagang hasil kebun asal Nelle yang berjualan di lorong bagian dalam pasar Tingkat. Menurutnya, pemerintah harus segera menata pasar ini, sebab sudah mulai semrawut dan penuh oleh pedagang.

Setiap pagi hari, kata Sisilia, banyak pedagang sayuran dan hasil kebun dari kampung-kampung di sekitar kota Maumere yang membawa aneka hasil kebun mereka dan berjualan di pasar ini. Mereka duduk di tanah dan menggelar dagangan di atas wadah terpal bekas atau kertas karton atau sak semen.

“Kasihan sekali kalau hujan mereka terpaksa mengangkat jualan mereka dan berteduh di dalam kios-kios yang ada di pasar. Apalagi, umur mereka rata-rata sudah tua dan kebanyakan mereka perempuan,” sesalnya.

Saat terjadi hujan, air mengalir dari terpal-terpal bekas yang dipakai sebagai wadah berteduh yang diikat menggunakan tali plastik pada tembok pagar. Dagangan pun ditutup dengan terpal agar tidak terkena hujan.

Saluran air di dalam areal pasar pun berantakan sekali dan tampak dikerjakan asal jadi oleh pihak kontraktor. Saluran air yang dikerjakan tidak dilengkapi dengan penutup, sehingga pedagang hanya menutupnya dengan papan seadanya, agar pengunjung tidak terperosok ke dalam lubang saluran air.

Lihat juga...