Panglima TNI Resmikan Kapal Perang ‘I Gusti Ngurah Rai’

DENPASAR – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, meresmikan kapal perang TNI AL di dermaga selatan Benoa Denpasar Bali, Rabu, (10/1/2018).

Peresmian Kapal ke-322 milik TNI AL tersebut juga turut dihadiri oleh beberapa pejabat kabinet kerja Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, -Foto: Sultan Anshori

Kapal buatan dalam negeri oleh PT PAL yang bekerja sama dengan pihak perusahaan kapal Belanda Damen Schelde Naval Ship Building (DSNS) tersebut diberi nama KRI I Gusti Ngurah Rai.

“Pengukuhan nama KRI I Gusti Ngurah Rai ini melengkapi berbagai KRI sebelumnya. Hal ini bagian integral pertahanan kita, sekaligus menandai kebangkitan kembali kejayaan TNI AL,” Ucap Panglima Hadi di hadapan awak media.

Lebih jauh, Panglima TNI juga menyampaikan, pemberian nama kapal perang dengan nama pahlawan  nasional I Gusti Ngurah Rai bukan sekedar untuk menghargai jasa para pahlawan, namun untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan patriotisme, dan menghidupkan sang tokoh dalam keseharian, menjadikannya suri teladan dan panduan bagi para generasi penerus bangsa dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Menurut pria asli Malang, Jawa Timur, ini, kapal perang berukuran 105 x 14 meter ini memiliki sistem persenjataan sekunder yang mampu mengincar target di perairan, baik dalam maupun dangkal, seperti torpedo AKS A-244S.

Selain itu, meriam close in weapon system juga disematkan dengan Millennium Gun 35 mm, yang berfungsi menangkis serangan udara dan ancaman dari permukaan jarak dekat.

“KRI I Gusti Ngurah Rai-332 merupakan kapal yang mampu membawa 120 kru dengan kecepatan hingga 28 knot, dan ini merupakan kapal terbaik kedua di kelasnya yang dimiliki oleh negara kita”. pungkas Hadi.

Kapal ini merupakan kapal kombatan jenis fregat generasi pertama yang dibuat di Indonesia bersama KRI Raden Eddy Martadinata-331 dan kapal perang ini merupakan bagian keberhasilan alih teknologi alutisista, karena 80 persen dikerjakan di dalam negeri.

Di samping itu, kapal kedua dari proyek SIGMA 10514 PKR ini memiliki tingkat teknologi peperangan laut paling modern yang dimiliki TNI AL.

Kapal yang dibangun di PT PAL Surabaya ini mengadopsi teknologi modular dan siluman (stealth) dan mampu dioperasikan untuk peperangan anti kapal permukaan, anti serangan udara, anti kapal selam, dan peperangan elektronika.

Lihat juga...