Musim Hujan Tak Tentu, Petani Sikka Tidak Serempak Tanam Jagung

MAUMERE — Musim hujan yang tidak menentu dan tidak sesuai ramalan yang dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten dalam hal ini Dinas Pertanian Kabupaten Sikka berdasarkan ramalan dari BMKG mengakibatkan penanaman jagung oleh petani tidak dilakukan secara serempak.

“Prediksi hujan juga tidak pasti dan waktu pertemuan di kabupaten, BMKG menjelaskan Desember 2017 sudah masuk musim hujan dan petani disuruh menanam. Tapi kami juga serba salah harus menyampaikan ke petani sebab musim hujannya tidak pasti,” sebut Ignatius Iking, penyuluh swadaya pertanian dan penangkar benih, Senin (15/1/2017).

Dikatakan Iking, pihaknya dilema juga tapi hasil prediksi musim hujan ini tetap disampaikan kepada petani dan semua itu kembali kepada petani sendiri. Jadi tidak heran kalau ada yang mulai tanam jagung pada November akhir dan ada yang menanam pada awal dan pertengahan Desember 2017.

“Apabila merasa sudah bisa tanam maka silahkan ditanam. Banyak petani menanam jagung Hibrida dan jagung lokal sebab desa Langir dan kecamatan Kangae umumnya merupakan sentra produksi jagung di kabupaten Sikka,” tuturnya.

Seperti dikatakan BMKG bahwa di bulan Desember sudah musim hujan kata Iking tetapi kenyataannya hanya wal Desember saja sementara pertengahan Desember hujan tidak turun.Hujan mulai turun lagi akhir Desember sehingga ramalan yang disampaikan tidak sesuai kenyataan yang terjadi.

Gapoktan Wa Wua sendiri yang teridir dari 15 kelompok tani dengan anggota sebanyak 300 petani terang Iking, kepemilikan lahannya paling banyak setengah hektare bahkan ada yang seperempat hektar saja.Dengan demikian bila di rata-rata maka total lahan jagung di Gapoktan Wa Wua sebanyak 150 hektar.

“Untuk jagung Hibrida,musim tanam tahun ini kami dapat bantuan sebanyak 20 hektare untuk 7 kelompok tani sehingga sehingga total 140 hektare lahan yang akan ditanami dengan jagung Hibrida. Ada juga yang menanam jagung lokal,” sebutnya.

Karena kelompok lainnya tidak dapat maka tutur Iking, pihaknya mengambil kebijakan dan juga berdasarkan kesepakatan bersama agar benih tersebut juga dibagikan ke kelompok lain yang tidak mendapatkan bantuan benih jagung Hibrida.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Maumere, Adi Laksmena mengatakan, pada Januari 2018, untuk Kota Maumere dan Paga , prakiraan curah hujan antara 201 sampai 300 milimeter dan masuk kategori atas normal. Sementara Magepanda, Ledalero,Lela dan Magetlegar curah hujannya normal dan semua wilayah curah hujannya lebih tinggi dari pada Desember 2017.

“Wilayah Waigete prakiraan curah hujan bulan Januari berkisar antara 301 sampai 400 milimeter dan masuk kategori normal karena untuk daerah ini curah hujannya tinggi dengan rata-rata 349 sampai 400 milimeter dan Waigete masuk daerah basah,” ungkapnya.

Prakiraan curah hujan untuk bulan Februari 2018 beber Adi, Maumere, Ledalero, Magepanda, Paga,Lela dan Magetlegar curah hujannya 201 sampai 300 milimeter dengan sifat hujan normal dan untuk Waigete juga sama curah hujannya tapi masuk kategori di bawah normal.

Disaksikan Cendana News Senin (15/1/2018) di sentra jagung di Kecamatan Kangae, banyak jagung yang baru berumur sebulan, sementara yang berumur sekitar dua bulan dan mulai mengeluarkan bunga hanya beberapa lahan saja dan ada juga yang berumur satu setengah bulan.

Lihat juga...