Mangut Lele Pedas Kuliner Khas Penggugah Selera
LAMPUNG — Mangut lele, kuliner khas dari daerah Yogyakarta satu ini juga dapat ditemui di daerah-daerah transmigrasi, salah satunya di Dusun Bantul Desa Tanjungsari Kecamatan Palas Kabupaten Lampung Selatan.
Hastini (60) salah satu ibu rumah tangga asal Bantul Yogyakarta yang sudah pindah ke Lampung sejak tahun 1975 menyebutkan, meski sudah berdomisili di daerah baru, namun kekhasan daerah tetap dijaga. Terlebih dengan berbekal resep turun temurun membuat mangut lele tidaklah terlalu sulit.
“Bahan baku melimpah di sini sehingga dapat diolah dengan berbagai cara, salah satunya mangut lele dengan rasa gurih santan kelapa dan kepedasan cabai,” ungkap Hastini saat ditemui Cendana News tengah melakukan proses pengolahan kuliner mangut lele di dapur rumahnya.
Ikan lele yang akan diolah dibeli dari pembudidaya di wilayah tersebut dengan harga Rp20.000 per kilogram atau lebih kurang empat ekor ikan lele. Setelah itu dibersihkan dengan dicuci bersih menggunakan air mengalir untuk menghilangkan bau amis.
“Biasanya ikan lele setelah dibeli kami diamkan terlebih dahulu ke dalam bak selama dua malam untuk menghilangkan lendir serta menghilangkan aroma lumpur apalagi ikan lele yang dibudidayakan di kolam tanah,” terang Hastini.
Ikan yang sudah dibersihkan terlebih dahulu direndam selama beberapa menit dalam perasan jeruk nipis, garam dan ketumbar untuk menghilangkan aroma amis. Pengolahan awal dengan proses penggorengan hingga kering, sembari beragam bumbu juga disiapkan.

Santan kelapa tua disiapkan ditambah dengan garam dapur, jahe dimemarkan dan lengkuas juga dimemarkan. Tambahan bumbu halus yang akan digerus menggunakan cobek di antaranya bawang merah, bawang putih, kemiri, cabai rawit, cabai merah besar dan ketumbar secukupnya disiapkan sebagai bumbu racikan yang menambah cita rasa khas mangut lele.
Selanjutnya, setelah ikan selesai digoreng dalam kondisi tidak terlalu garing semua bumbu dan santan siap dipergunakan untuk dicampurkan dan dimasak menggunakan wajan. Setelah semua bumbu dan santan mulai matang dan bumbu meresap, maka mangut lele siap disajikan dalam kondisi hangat.
Suminto, salah satu cucu mengakui kuliner tersebut kerap disajikan saat makan bersama.
“Menu mangut lele ini kalau di sejumlah warung makan bisa kita beli namun lebih nikmat mengolah sendiri dan dimakan secara bancakan atau bersama sama,” terang Suminto.
Mangut lele pas disantap saat makan pagi, siang atau malam dipadukan dengan nasi hangat. Rasa gurih santan, empuknya daging lele dan kepedasan sambal membuat kebersamaan dalam kesahajaan tetap dipertahankan oleh keluarga yang sebagian besar berasal dari Bantul tersebut.