Ludruk Jember Tetap Eksis

JEMBER — Keberadaan beragam etnis di Kabupaten Jember memperkaya ragam seni dan budaya. Warga dari etnis Jawa, Madura, Arab, Cina, Mandar, Using, dan lain-lain turut memperkaya kebudayaan Jemberan.

Pengajar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej), Ikwan Setiawan, mengatakan Kabupaten Jember yang terletak di wilayah ujung timur Jawa, selama ini dikenal sebagai penghasil tembakau, kakou, kopi, gula, jeruk, dan hasil-hasil perkebunan dan pertanian yang lain.

Pengurus Dewan Kesenian Jember (DKJ), Yongky Gigih Prasisko. -Foto: Ist/Makmun Hidayat

Namun sejatinya, menurut Ikwan, Jember juga kaya akan ragam seni dan budaya. Apa yang jarang diperhatikan adalah Jember sebagai wilayah yang dibesarkan oleh para pekebun kolonial Belanda dengan mendatangkan warga bermacam etnis juga kaya akan ragam seni dan budaya.

“Warga dari etnis Jawa, Madura, Arab, Cina, Mandar, Using, dan yang lain memperkaya kebudayaan Jemberan hingga saat ini,” kata Ikwan, ketika dihubungi Cendana News, Rabu (3/1/2018).

Ia menambahkan, meskipun pengaruh budaya pop dan budaya internet serta karnaval melalui Jember Fashion Carnival mulai menjadi dominan, para pelaku seni dan masyarakat masih berusaha mempertahankan kesenian rakyat yang merupakan warisan dari generasi-generasi sebelumnya.

Salah satu kesenian yang masih hidup hingga saat ini adalah ludruk. Berbeda dengan ludruk Suroboyoan yang menggunakan bahasa Jawa dialek Arek, ludruk Jemberan, kata Ikwan, sebagian besar menggunakan bahasa Madura dan sebagian kecil menggunakan bahasa Jawa.

“Masyarakat Madura di Jember memang sangat menggemari kesenian ludruk atau kesenian topeng,” tutur Ikwan.

Senada dengan Ikwan, pengurus Dewan Kesenian Jember (DKJ), Yongky Gigih Prasisko, mengatakan, masyarakat Jember biasanya akan menggelar pertunjukkan ludruk ketika peringatan Hari Kemerdekaan RI dan hajatan-hajatan keluarga.

Ada pun lakon yang terkenal, kata Yongki, adalah lakon perjuangan seperti Sogol Pendekar Sumur Gemuling, Sakerah, Sarip Tambakoso, Sawunggaling.

“Ada juga lakon legenda seperti Lutung Kasarung dan lakon garapan sendiri. Seperti yang dipentaskan oleh Ludruk Putra Rengganis yang menggelar lakon Lutung Kasarung di Desa Serut, Kecamatan Panti, Jember, belum lama ini,” kata Yongky.

Ia menambahkan, ludruk pimpinan Hanapi ini melayani permintaan tuan rumah yang mengkhitankan putranya.  Setiap pertunjukkan ludruk di Jember, boleh dibilang mendapat sambutan positif dari warga. Mereka ramai-ramai menonton bersama saat ada pertunjukkan ludruk.

Menurut Ikwan, ramainya pertunjukkan ludruk di Jember menunjukkan, bahwa di tengah gempuran budaya televisi, film, dangdut koplo yang luar biasa, kesenian rakyat masih mendapatkan tempat tersendiri dalam pikiran warga.

“Mereka tidak membenci televisi dan budaya pop lainnya, tetapi juga masih berusaha mencintai budaya lokal Jemberan yang ikut menjadi bagian dari kehidupan mereka,” ungkap Ikwan.

Di tengah perubahan zaman, ludruk Jemberaan mampu bertahan. Kuncinya, tak lepas dari elan vital para pelaku ludruk sendiri dalam mempertahankan kesenian ludruk dan fokus dalam proses alih generasi.

“Kegigihan para pelaku ludruk untuk terus mempromosikan dan mempertahankan kesenian ini, termasuk melalui regenerasi menjadi salah satu rumus bertahannya ludruk Jemberan di tengah perubahan zaman,” ujar Ikwan.

Sementara itu, Yongky mengatakan, untuk terus mengembangkan kesenian ludruk ini, Dewan Kesenian Jember terus melakukan pendampingan kepada kelompok-kelompok yang ada di Jember.

“Kegiatan pendampingan dilakukan untuk memberikan semangat dan mencarikan jalan bagi pemberdayaan para seniman ludruk Jemberan,” imbuhnya.

Ludruk Lakon Lutung Kasarung

Saat disinggung tentang lakon Lutung Kasarung yang belum lama ini digelar di Desa Serut, Kecamatan Panti, Jember, Yongky menjelaskan lakon ini bercerita tentang intrik perebutan kekuasaan antara dua putri, Purbabarang dan Purbasari.

“Raja sebenarnya menginginkan Purbasari sebagai penggantinya, tetapi Purbabarang tidak terima dan meminta bantuan nenek sihir,” imbuhnya.

Akibatnya, Purbasari terkena penyakit dan diasingkan ke hutan. Di hutan itulah dia ditemani Lutung Kasarung yang sebenarnya jelmaan Sunan Abu dari kahyangan.

Ketulusan Purbasari menjadikan Lutung Kasarung berjuang untuk mengembalikan wajah cantiknya. Sehingga mereka berdua akhirnya kembali ke istana.

Dalam sebuah perlombaan di istana, Purbasari bisa mengalahkan Purbabarang. Akhirnya, Purbasari diangkat menjadi Ratu Kejayaan.

Menurut Yongky, pesan dari lakon ini adalah bahwa ketika kekuasaan sudah menjadi hak dari seseorang, tidak bisa orang lain merebutnya. “Intrik apa pun yang ia lakukan, pada saatnya sang pemilik kekuasaan yang akan berkuasa” tuturnya.

Lihat juga...