Kue Putu Ayu, Jajanan Tradisional Disukai Berbagai Kalangan

LAMPUNG — Kue putu ayu atau putu bumbung merupakan kue basah yang masih banyak dijual oleh masyarakat dari berbagai tingkat usia dan kalangan meski kue tersebut merupakan jenis makanan tradisional yang dibuat dengan sederhana.

Hasan (30) salah satu penjual menyebutkan, ciri khas penjual kue tradisional tersebut dengan adanya bunyi mendengung saat uap air yang dipergunakan untuk mengukus. Selain itu ciri khas warna hijau dan harum aroma pandan membuat jajanan tradisional tersebut masih disukai hingga kini sekaligus menjadi sumber penghasilan bagi Hasan.

Dijelaskan, sebutan kue putu bumbung karena makanan tersebut dibuat dengan cara mencetak menggunakan bumbung pada beberapa tahun silam mempergunakan bambu dan kini diganti dengan pipa PVC. Bumbung untuk mencetak kue putu ayu dibuat dari potongan bambu berukuran sekitar 3-5 centimeter dengan satu porsi saat ini seharga Rp5.000 berisi sebanyak 8 kue putu.

“Kue putu bahannya terbuat dari beras ketan yang merupakan arti dari ketan dan kini masih dijual secara keliling dengan ciri khas bunyi mendenging seperti peluit berasal dari tungku uap untuk membuat kue putu ayu,” terang Hasan saat ditemui Cendana News di kampung nelayan Dusun Muara Piluk Bakauheni, Sabtu (6/1/2018).

Bahan pembuatan kue putu disebutnya berupa tepung ketan, parutan gula merah santan kelapa, telur ayam, kelapa parut dan pasta pandan yang disiapkan dalam wadah khusus. Semua bahan tersebut diakuinya dicampurkan menjadi sebuah adonan yang ditempatkan dalam wadah khusus sehingga bisa dicetak setiap ada pesanan dari pelanggan yang sebagian besar didominasi anak anak.

Dalam sehari ia membawa sebanyak lima kilogram adonan siap jual yang dibuat secara dadakan saat ada pesanan sehingga kue putu ayu tersebut tersaji dalam kondisi hangat. Saat ada pesanan ia menyiapkan bumbung yang diisi dengan adonan dan tungku telah disiapkan dalam kendaraan roda dua miliknya.

“Tungku yang dipakai berupa kaleng minyak yang diberi lubang, lalu di bawah tungku diberi kompor untuk memasak air sehingga hawa panas berupa uap air mendidih mematangkan kue putu,” terang Hasan.

Tepung beras ketan yang sudah siap dimasukkan dalam bumbung pipa pvc sebagai pengganti bumbung bambu tanpa lupa memberikan campuran parutan gula merah. Setelah kue putu matang selanjutnya kue disodok dengan alat khusus. Taburan kelapa parut, garam dan gula ditambahkan setelah kue tersebut matang.

Kue putu ayu atau putu bumbung siap disajikan [Foto: Henk Widi]
Anes, salah satu pembeli yang duduk di kelas empat sekolah dasar menyebutkan, mengetahui penjual putu sangat mudah karena ada suara khas terdengar setiap kali lewat. Bahkan dengan jarak sekitar dua puluh meter penjual kue putu sudah bisa diketahui keberadaannya melalui suara yang menyerupai kumbang cukup kencang tersebut.

“Anak anak selalu menanti penjual putu dan berkumpul di dekat penjual karena suaranya cukup keras sekaligus ingin membeli kue putu,” terang Anes.

Kue tersebut diakuinya memiliki rasa manis dan gurih dengan aroma pandan sehingga bisa dinikmati sembari meminum teh hangat.

Asep, salah satu warga yang membeli kue putu ayu atau putu bumbung menyebut jajanan tradisional tersebut sudah ada sejak dirinya masih kecil dan hingga kini disukai berbagai kalangan dan usia.

Selain dijual oleh pedagang keliling kue tersebut diakuinya bisa dijumpai di pasar sebagai jajanan pasar meski proses pembuatannya berbeda dan bentuknya tidak seperti putu bumbung. Sebagai kue tradisional ia menyebut proses pembuatan yang menarik membuat kue tersebut masih disukai anak anak dengan harga yang terbilang murah dan terjangkau anak anak.

Lihat juga...