Jelang Pemulangan, Ketegangan Meningkat di Kamp Pengungsi Rohingya

GUNGDUM – Suasana tegang di kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh mengalami peningkatan. Para pengungsi menggelar aksi demonstrasi dengan spanduk berisi penolakan untuk dipindahkan pada Minggu (21/1/2018).

Aksi dilakukan saat Pelapor Khusus PBB Yanghee Lee mengunjungi kamp-kamp di sepanjang perbatasan Bangladesh-Myanmar. Beberapa pemimpin pengungsi mengatakan, bahwa perwira militer Bangladesh telah mengancam untuk merebut kartu jatah makanan mereka jika tidak kembali.

Berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani pekan lalu, Myanmar akan menerima pengungsi Rohingya dari Bangladesh di dua pusat penerimaan. Sebuah kamp sementara telah disiapkan di dekat perbatasan mulai Selasa (16/1/2018). Proses pemindahan akan dilakukan secara bertahap dan berlanjut hingga dua tahun ke depan.

Para pengungsi menolak untuk kembali kecuali keselamatan mereka dapat dijamin, dan masyarakat Myanmar mengabulkan tuntutan mereka untuk diberi kewarganegaraan serta dimasukkan ke dalam daftar etnis minoritas yang diakui. Mereka juga meminta agar rumah, masjid dan sekolah mereka yang dibakar atau rusak dalam operasi militer dibangun kembali.

Lebih dari 655.500 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh setelah militer Myanmar melakukan kekerasan di bagian utara negara bagian Rakhine. Serangan dari militer tersebut diklaim sebagai tanggapan terhadap serangan militan kepada pasukan keamanan pada 25 Agustus. PBB menyebut kegiatan tersebut sebagai pembersihan etnis Rohingya namun disangkal oleh Myanmar.

Para tetua Rohingya mengatakan, pejabat tentara Bangladesh telah memanggil atau bertemu mereka selama dua hari terakhir. Tentara Bangladesh, meminta mereka untuk menyiapkan daftar keluarga dari kamp mereka untuk dipulangkan. Empat dari mereka mengatakan bahwa mereka termasuk di antara lebih dari 70 pemimpin kamp yang mewakili ribuan pengungsi dan bertemu dengan perwira militer di kamp Gungdum pada Sabtu (20/1/2018).

“Ketika kami mengatakan bahwa kami tidak dapat menyediakan daftar karena orang-orang belum siap untuk kembali, mereka meminta kami untuk membawa kartu WP mereka,” ujar seorang pemimpin di kamp Gungdum Musa.

WP adalah kartu bantuan makan yang diberikan oleh Program Pangan Dunia PBB.

Juru bicara tentara Bangladesh Rashedul Hasan mengatakan, bahwa dia tidak mengetahui tentara yang mengancam akan mengambil kartu makanan. Ratusan pengungsi antre di pusat bantuan di setiap kamp tiap pagi untuk mengambil makanan dengan menggunakan kartu tersebut. Pusat-pusat tersebut dikelola oleh tentara Bangladesh.

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) telah berulang kali mengatakan bahwa Rohingya yang akan kembali harus bersifat sukarela. “UNHCR belum menjadi bagian dari diskusi (pada pemulangan) sampai saat ini, namun telah menawarkan dukungan untuk terlibat dalam proses tersebut untuk memastikan bahwa suara para pengungsi didengar. Langkah pengembalian pengungsi harus ditentukan oleh para pengungsi itu sendiri,” ujar seorang petugas perlindungan senior UNHCR Caroline Gluck. (Ant)

Lihat juga...