Gus Sholah: Cinta Bangsa Bagian dari Iman
JAKARTA – Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Salahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah menegaskan, bahwa roh bangsa Indonesia adalah Pancasila, dalam sila pertama Ketuhanan Yang Maha esa. Berarti kita tidak bisa meninggalkan aspek Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hidup sehari-hari.
“Unsur terpenting dalam negara adalah rasa mencintai dan memiliki bangsa Indonesia. Beban terberat untuk menjaga bangsa ini ada di pundak umat Islam,” kata Gus Sholah dalam tausyiah acara Zikir Nasional 2017 bertajuk “Memperkuat Silaturahmi untuk Bangsa” di Masjid Agung At Tin TMII, Jakarta, belum lama ini.
Disampaikan Gus Sholah, umat Islam mayoritas, sebanyak 88 persen, berperan besar dalam memerdekakan Indonesia dari penjajahan. Bahkan sejak tahun 1930-an, umat Islam terutama di pesantren-pesantren dikenal dengan istilah ‘Hubbul Wathan Minal Iman’. Yakni, cinta bangsa adalah bagian dari iman.
“Hadratus Syaikh Hasyim Asyari, mengatakan cintailah agamamu, cintailah tempat kamu hidup. Karena saat itu bangsa Indonesia belum ada. Dalam konteks sekarang cintailah Islam dan cintailah Indonesia,” ujar Gus Sholah.
Mencintai itu, sebut dia, tidak sekedar dalam ucapan saja, tapi mewujudkan dalam bentuk perbuatan, tanggung jawab menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Gus Sholah juga menegaskan, bahwa keindonesiaan dan keislaman tidak satupun saling bertentangan. Itu sebabnya, resolusi jihad dicetuskan oleh Hasyim Asyari. Seruan jihad tersebut mampu memompa semangat pemuda Indonesia, agar berani melawan penjajah yang memiliki persenjataan sangat canggih.
“Saat itu resolusi jihad Hasyim Asyari menyatukan keindonesiaan dan keislaman,” ungkap Gus Sholah.
Menurutnya, masalah kebangsaan saat ini tidaklah seberat pada masa lalu. Yakni, saat banyak pemberontakan. Tapi bangsa Indonesia tetap menjaga kecintaan kepada Tanah Air.
“Dulu ada berbagai macam pemberontakan, ada Partai Komunis Indonesia (PKI). Tapi kita bisa melewati dengan kekuatan iman. Jadi kita harus tetap bersatu,” katanya.
Karena berbagai pemberontakan itu, sebut dia, banyak orang meramalkan Indonesia akan pecah jadi 7 negara. Ada penegakan negara Sumatera, juga ada negara Sulawesi yang diramalkan, saat itu.
“Alhamdulilah sampai akhir tahun 2017 ini, kita masih NKRI,” pungkas Gus Sholah.
