2018, Blok Mahakam Dikelola Pertamina
BALIKPAPAN – Tepat pukul 00.00 WITA pada 1 Januari 2018, wilayah kerja (WK) Mahakam sebagai produksi gas bumi terbesar di Indonesia dari Total E&P Indonesie (TEPI) beralih ke PT Pertamina (Persero).
WK Mahakam di Kalimantan Timur telah dikelola TEPI bersama Inpex selama 50 tahun dan mulai hari ini (1/1/2018) dikelola oleh Pertamina Hulu Mahakam yang merupakan cucu perusahaan Pertamina.
Dalam proses serah terima pengelolaan Mahakam President and GM Total E&P Indonesie, Arividya Noviyato mengungkapkan, TEPI mulai melakukan kontrak kerja sama WK Mahakam bersama Inpex pada 6 Oktober 1966 untuk jangka waktu 30 tahun. Kemudian memperoleh partisipasi dari Inpex pada akhir 1970 dan ditentukan sebagai operator.
Selanjutnya pada 1991, TEPI memperpanjang kontrak selama 20 tahun sampai 30 Maret 2017. Kontrak Mahakam mengalami tambahan waktu selama 9 bulan hingga 31 Desember 2017.
“Saat awal tahun 1970-an total bersama Inpex melakukan eksplorasi, satu sumur ditemukan untuk gas. Kemudian satu sumur lagi, dan saat itu kondisi harga minyak tidak begitu baik. Dengan optimis kami tetap melakukan pengeboran,” jelasnya, saat malam pergantian tahun 2018 pada serah terima pengelolaan blok Mahakam di Balikpapan.
Menurutnya, awal mahakam mulai beroperasi 1974 dari sumur satu ke sumur lainnya seperti Handil, tambora, tunu dan lainnya.
“Karyawan yang dimiliki TEPI 50 persen lebih merupakan warga berusia 35 tahun ke bawah dan masih memiliki produktivitas tinggi. Blok Mahakam sejak tahun 2000-an memproduksi lebih besar dari lainnya,” paparnya.
Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi dalam sambutannya mengatakan, pengelolaan WK Mahakam sebagai produsen gas bumi terbesar di Indonesia menyumbang sekitar 13% persen produksi gas nasional, tidak dapat dilepas dari usaha keras operator sebelumnya.
“Sebagai wakil Pemerintah Indonesia kami mengucapkan terima kasih atas kontribusi dan kerja keras Total E&P Indonesie sebagai Kontraktor Kontrak Kerjasama WK Mahakam serta Inpex Indonesia sebagai mitra TEPI,” ucapnya.
Dikatakannya, seluruh persiapan alih kelola telah disiapkan dalam dua tahun terakhir, untuk menjaga kontinuitas operasional WK Mahakam pasca 31 Desember 2017, SKK Migas, Pertamina Hulu Mahakam, dan TEPI telah bekerjasama untuk proses alih kelola yang lancar sehingga terlaksana kesinambungan operasi dan produksi migas dari WK Mahakam.
“Selama masa transisi TEPI, telah menjalankan kerja dan tidak mengganggu proses produksi. Proses alih kelola juga berjalan lancar sehingga operasi dan produksi migas dari WK Mahakam dapat berjalan berkesinambungan,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam menuturkan, selama masa peralihan Pertamina telah melakukan berbagai upaya dan koordinasi dengan semua pihak terkait. Pengelolaan dilaksanakan dengan tetap menjaga produksi WK Mahakam yang telah melewati masa puncak produksi pada periode 2003-2009, mengontrol biaya operasi dan tetap mengedepankan QHSSE (Quality, Health, Safety, Security and Environment) dalam operasional.
“Sebagai komitmen menjaga kesinambungan operasi dan produksi, sampai hari ini kami telah menuntaskan pemboran 14 sumur dan akan menyelesaikan sumur ke -15 dalam beberapa hari ke depan, yang ditargetkan dari Juni hingga Desember 2017. Transfer pekerja TEPI menjadi pekerja PHM telah mencapai 98,23 persen, kemudian melakukan penyesuaian kontrak kerja untuk 530 kontrak eksisting dengan pihak ketiga dengan nilai USD 1,27 miliar untuk menjaga kesinambungan kegiatan produksi di Blok Mahakam,” kata Syamsu Alam.
Apalagi dalam upaya pengeboran yang dilakukan Pertamina berhasil dilakukan dengan menekan biaya pengeboran sumur hingga lebih efisien 23% terhadap anggaran, mencatat waktu pengeboran lebih cepat hingga 25%, mendapatkan potensi penambahan cadangan hingga 120% serta memperoleh penambahan ketebalan reservoir sebesar 115%. Semua pencapaian itu merupakan bukti kerja keras dan kolaborasi yang baik antara pekerja yang terus bekerja dengan penuh semangat.
“Komitmen penuh Pertamina untuk kesinambungan produksi di wilayah kerja juga dibuktikan dengan anggaran yang dikucurkan pada 2018 yang lebih dari US$1,7 miliar untuk kegiatan eksplorasi, pengembangan dan produksi,” tukasnya.
Berdasarkan data SKK Migas, per November 2017, WK Mahakam berproduksi minyak dan kondensat sebesar 52 ribu barel minyak per hari dan 1.360 juta kaki kubik gas bumi per hari. Potensi di Blok Mahakam masih cukup menjanjikan. Cadangan terbukti per 1 Januari 2016 sebesar 4,9 TCF gas, 57 juta barrel minyak dan 45 juta barrel kondensat.
Pengelolaan WK Mahakam oleh Pertamina, menjadikan Pertamina sebagai penyumbang lebih dari 30% produksi minyak dan gas nasional pada tahun 2018.