Distanbun Lebak: Meski Terjadi Puso, Produksi Pangan Tetap Surplus
LEBAK — Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Banten mencatat 615 hektare tanaman padi sepanjang tahun 2017 puso atau gagal panen.
“Meski tanaman padi itu puso, namun produksi pangan surplus,” kata Pelaksana Data Statistik Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak Supardi saat dihubungi di Lebak, Minggu.
Tanaman padi yang mengalami gagal panen itu akibat cuaca buruk yang melanda wilayah Kabupaten Lebak.
Cuaca buruk tersebut berdampak terhadap produksi dan produktivitas pangan akibat serangan hama wereng batang coklat (WBC), kebanjiran dan kekeringan.
Tanaman padi yang dilaporkan puso sepanjang tahun 2017 seluas 615 hektare terdiri dari serangan WBC seluas 204 hektare, kekeringan enam hektare dan kebanjiran 405 hektare.
Kendati demikian, produksi pangan surplus selama 13 bulan ke depan atau 157.118 ton setara beras dengan areal tanam seluas 110.034 hektare.
Produksi beras sebanyak 157.118 ton itu mencukupi kebutuhan pangan hingga awal 2019.
“Kami optimistis panen raya diperkirakan Februari-Maret mendatang dari angka tanam November-Desember 2017 seluas 30.000 hektare dipastikan berhasil,” katanya menjelaskan.
Ia mengajak petani mempercepat tanam guna mendukung swasembada pangan.
Apalagi, Kementerian Pertanian menggulirkan program upaya khusus (upsus) padi,jagung dan kedelai.
Distanbun mengapresiasi produksi beras sepanjang 2017 menembus 300.841 ton sehingga persedian pangan melimpah dan mencukupi untuk warga Kabupaten Lebak yang berpenduduk 1,2 juta jiwa itu.
Konsumsi beras warga Lebak sekitar 11.977 ton per bulan atau 143.724 ton per tahun dengan rata-rata per kapita sebanyak 134 kilogram.
Karena itu, produksi beras di Lebak surplus sekitar 157.118 ton dan aman hingga 13 bulan ke depan.
“Kami berharap tanaman padi tahun 2018 tidak terserang hama dan banjir,” katanya menjelaskan.
Samian (50) seorang petani Desa Rangkasbitung Timur Kabupaten Lebak mengatakan dirinya kini terpaksa membeli beras akibat tanaman padi tahun 2017 terserang hama WBC sehingga produksi pangan menurun drastis.
Biasanya, tanaman padi seluas satu hektare mendapatkan gabah kering pungut (GKP) sebanyak 50 karung.
Namun, produksi gabah ternyata menghasilkan sebanyak delapan karung sehingga merugi dan hingga kini menyisakan utang ke tengkulak.
“Kami optimistis tanaman padi seluas satu hektare pada Februari mendatang panen raya karena tanamanya cukup subur dan menghijau dedaunanya tanpa serangan hama dan penyakit tanaman,” katanya.[Ant]