Dana Terbatas, DLH Sikka Hanya Bangun Satu Dry Dam

MAUMERE — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sikka berniat membangun beberapa bendungan kering (dry dam) di beberapa daerah dataran tinggi di sebelah selatan Kota Maumere.

Bendungan ini untuk menampung banjir saat hujan agar air tidak mengalir ke utara dan menggenangi jalanan di Kota Maumere, namun anggaran terbatas sehingga tidak bisa terealisasi.

“Anggaran di dinas kami terbatas sehingga kami untuk 2017 hanya membangun satu buah dry dam saja. Sementara sisanya membangun sumur-sumur resapan. Untuk 2018 tidak ada anggaran dan kami sedang usulkan untuk dibangun beberapa buah pada 2019 nanti,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sikka Ir. Yunida Pollo, Rabu (24/1/2018).

Dikatakan Yunida, dry dam dibangun di Kelurahan Nangalimang mengingat saat hujan lebat daerah ini sering terjadi banjir. Air dari perbukitan dan pemukiman di wilayah selatan yang berada di dataran tinggi akan mengalir melewati Jalan Trans Maumere-Ende.

“Banjir juga mengalir melewati kali mati dan perbukitan yang ada di Kelurahan Nangalimang bahkan mengalir hingga ke tengah Kota Maumere dan menggenangi jalan-jalan utama dan rumha warga. Bila dana cukup kami ingin bangun beberapa buah termasuk di Nelle juga,” ungkapnya.

Untuk satu buah dry dam yang baru selesai dibangun di Kelurahan Nangalimang dan beroperasi awal Januari 2018 terang Yunida. Dibutuhkan dana sebesar 360 juta rupiah untuk membangun dry dam, yang berukuran panjang 25 meter, lebar 10 meter dengan kedalaman 10 meter.

“Untuk pengerjaannya memang tidak lama paling butuh waktu 3 bulan saja. Namun kami juga meminta agar masyarakat bisa menghibahkan tanahnya sebab tidak dianggarkan dana untuk ganti rugi lahan,” sebutnya.

Jitro Boki, Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Nangalimang Kecamatan Alok saat ditemui Cendana News menyebutkan, pembangunan dry dam memang sudah lama diusulkan warga namun sering terkendala lahan.

Masyarakat sekitar lokasi yang akan dibangun dry dam terang Jitro tidak bersedia lahannya dibangun dry dam. Meski daerah tersebut sering tergenang banjir saat musim hujan tiba. Pernah salah satu warga sudah setuju tapi saat hendak dibangun meminta ganti rugi lahan sebesar belasan juta rupiah.

“Lahan yang sekarang dipergunakan merupakan milik Ignasius Moa Nong seorang Aparatur Sipil Negara yang bermukim di samping dry dam yang diberikan secara secara gratis. Kami ingin bangun juga di RT 10 RW 03 tapi lahannya tidak ada, sebab untuk bangun ini saja sudah tiga kali pindah lokasi,” pungkasnya.

Awalnya kata Jitro pihak kontraktor tidak membangun pagar pengaman di sekeliling dry dam. Namun warga protes dan menyampaikan ke pihak kelurahan sehingga akhirnya dibangun pagar pengaman di sekelilingnya dengan kawat berduri. Jadi anak-anak dan hewan ternak tidak bisa melewati areal dry dam.

Disaksikan Cendana News, Rabu (24/1/2018) lokasi bendungan yang berada persis di sebelah selatan jalan tersebut sudah terisi air lumpur dengan ketinggian sekitar 2 meter akibat hujan yang terjadi sejak pagi. Saluran untuk membelokan air dari jalan ke dry dam masih digenangi pasir dan tanah.

Konstruksi dinding dry dam berupa semen tanpa plester atau dilapisi semen sedangkan bagian dasar dry dam berupa tanah tanpa disemen, sehingga membuat air mudah meresap. Sekeliling dry dam sudah ditanami oleh pepohonan seperti lamtoro, sengon dan juga nangka.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sikka Ir. Yunida Pollo-Foto : Ebed de Rosary.

 

Lihat juga...