Cuaca Ekstrem, Petani Cabai di Penengahan, Rugi

LAMPUNG – Kondisi cuaca akhir-akhir ini yang tak menentu dengan cuaca yang kerap terjadi hujan dengan angin kencang disusul cuaca panas terik membuat tanaman cabai keriting dan cabai caplak milik petani mengalami kerusakan.

Saipan (40) penanam sebanyak 7.000 batang tanaman cabai mengaku, imbas cuaca tak menentu membuat tanaman cabainya banyak yang terserang penyakit busuk, penyakit bulai dan trip, ditandai keritingnya daun cabai.

Memasuki masa panen kelima, Saipan yang memanfaatkan lahan di dekat lahan sawah menyebut, kondisi cuaca bahkan membuat sebagian tanaman cabai miliknya banyak yang layu dan akhirnya membusuk.

Pengurangan produksi akibat cuaca ekstrim tersebut mengakibatkan kerugian yang cukup besar karena dalam kondisi normal sekali petik dirinya bisa memperoleh hingga 4 kuintal cabai keriting namun kini hanya 2 kuintal sekali petik.

“Saat kondisi hujan bahkan kerap saya harus menahan untuk tidak melakukan proses pemanenan karena rentan terjadi pembusukan pada buah cabai keriting yang saya miliki. Apalagi juga ada keterbatasan alat pengering untuk menghindarkan cabai dari kerusakan,” ungkap Saipan, salah satu petani penanam cabai di Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, Senin (22/1/2018).

Para buruh petik cabai [Foto: Henk Widi]
Kendala cuaca juga terjadi saat proses pemanenan cabai dengan kondisi cuaca yang panas tiba-tiba hujan sehingga proses pemanenan terpaksa dihentikan sementara. Selanjutnya cabai keriting yang telah dipetik harus cepat-cepat dianginkan mempergunakan kipas khusus sesampainya di rumah. Sebelum proses penyortiran lebih lanjut untuk buah cabai yang sudah matang dilakukan.

Kondisi tersebut diakuinya hampir merata dialami oleh petani penanam cabai di wilayah tersebut yang sebagian besar menanam cabai dengan jumlah lahan diperkirakan mencapai lebih dari 30 hektar tersebar di Dusun Buring, Dusun Sukabaru dan di Desa Tanjungheran.

Antisipasi mengalami kerugian lebih besar pun dilakukan. Sebab pemanenan sekitar 4 kuintal sekali petik menghasilkan uang sebesar Rp12 juta, namun kini hanya mencapai hasil Rp6 juta. Maka, pemetikan terpaksa dilakukan saat kondisi cabai masih hijau.

“Jika cabai keriting dipanen masih hijau harganya bisa turun setengahnya. Tapi dibandingkan menunggu lebih lama justru bisa membusuk terpaksa dipanen saat masih hijau,” bebernya.

Cabai keriting dengan tingkat kematangan sempurna dan grade besar per kilogram diakuinya rata-rata saat ini dibeli oleh pengepul dengan harga Rp30.000 per kilogram. Sementara dalam kondisi masih hijau harganya hanya mencapai Rp15.000 per kilogram. Cabai keriting sendiri kerap dikirim ke pasar tradisional di Padang Sumatera Barat dan sebagian ke pasar lokal di Lampung.

Proses penyortiran cabai keriting yang telah dipetik sebelum dijual ke pengepul [Foto: Henk Widi]
Hasil panen cabai yang diperoleh menurun dibandingkan saat kondisi cuaca musim kemarau memang tidak sebanding dengan pengeluaran yang diperlukan untuk bibit, pupuk, operasional perawatan serta upah para tenaga kerja.

Dalam satu musim panen, Saipan mengaku, bisa memperoleh hasil panen sekitar 8 ton dengan harga jual Rp30.000 dirinya bisa mendapatkan omzet sekitar Rp240 juta. Namun dengan penurunan produksi ia hanya mendapatkan sekitar 5 ton dalam satu musim, dirinya hanya memperoleh sekitar Rp150 juta.

“Omzet memang terlihat besar namun saya masih memiliki kewajiban untuk membayar cicilan pinjaman bank, hutang pupuk serta biaya operasional lain yang harus dibayarkan,” keluh Saipan.

Petani cabai lain bernama Suwarno juga mengalami kondisi yang sama dengan penurunan produksi akibat faktor cuaca yang ekstrim. Kerugian besar akibat faktor cuaca tersebut diakuinya sekaligus menjadi pelajaran karena ia menyebut baru dua kali melakukan proses penanaman cabai keriting. Musim pertama dilakukan saat musim kemarau sementara saat masa penanaman kedua proses pemanenan dilakukan ketika musim hujan tiba.

“Kegagalan panen sekaligus kerugian menjadi resiko yang harus ditanggung petani cabai sehingga menjadi pelajaran untuk masa tanam berikutnya,” terang Suwarno.

Sebagian tanaman cabai keriting yang sudah mengalami pembusukan, diakui Suwarno, akan segera diregenerasi dengan tanaman baru. Meski Suwarno menyebut masih akan menunggu kondisi cuaca membaik dan harga yang menguntungkan.

Berdasarkan pengalamannya, proses penanaman cabai keriting kerap dilakukan petani menjelang hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dengan prediksi tingkat permintaan yang tinggi cabai sebagai bumbu.

Sebagian tanaman cabai caplak yang mengalami kerusakan akibat curah hujan tinggi [Foto: Henk Widi]
Lihat juga...