BAZNAS Bangun Kekuatan Lumbung Padi di Asmat

JAKARTA — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dalam mengatasi Kejadian Luar Biasa (KLB) gizi buruk dan campak dengan mengirim tim medis ke Asmat, Provinsi Papua, pada Kamis (18/1/2018) malam ini.

Anggota BAZNAS, Nana Mintarti mengatakan, KLB ini terjadi kaitannya dengan gizi buruk. Artinya, ini krisis pangan yang berupa protein.

“Gizi buruk itu bukan bayi tidak diberi makan, tapi makanannya tidak seimbang secara nutrisi,” kata Nana pada konferensi pers di Menara Taspen, Jakarta, Kamis (18/1/2018) sore.

Lumbung pangan ini, jelas Nana, merupakan program jangka panjang dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Asmat. Dengan program ini, BAZNAS akan lakukan inisiasi mengajak masyarakat Asmat untuk stok penyanggah pangan.

Jadi menurutnya, selain mengajari bercocok tanam sesuai dengan potensi tanaman lokal yang tumbuh di sana. Mereka juga diajari menyiapkan cadangan pangan.

“Sehingga ketika terjadi paceklik panjang atau cuaca tidak menentu masih punya cadangan pangan. Ini yang akan kita inisiasi, lumpung pangan itu penting,” kata Nana.

Disampaikan dia, lumbung pangan ini terkait dengan pemberdayaan ekonomi yang selaras dengan program Zakat Community Deplopment (ZCD).

Dalam pemberdayaan ini, BAZNAS akan melakukan kapasitas penguatan pada respon bencana alam juga kesehatan. Dengan langkah ini masyarakat Asmat mempunyai perhatian dan kesiapan untuk menghadapi berbagai krisis baik yang disebabkan oleh alam maupun seperti KLB gizi buruk dan campak yang saat ini terjadi.

Selain itu, jelas Nana, BAZNAS juga akan mendirikan 10 pos kesehatan. Yakni yang terdiri satu pos induk dan 9 pos mobile yang memberikan pelayanan kepada masyarakat Asmat.

“Kita tahu kondisi di pedalaman Asmat itu sangat sulit terjangkau sehingga harus ada layanan yang sifatnya mobile,” kata Nana.

Terkait dengan pos kesehatan ini, jelas dia, tim medis BAZNAS akan membangun kader-kader kesehatan lokal. BAZNAS akan berkaloborasi dengan mitra-mitra lokal, yakni relawan dan pemerintah daerah (Pemda).

Kader kesehatan tersebut akan diberikan pelatihan, di antaranya penguatan kapasitas agar mereka mampu melakukan diteksi dini dan mitigasi sehingga KLB ini tidak meledak.

“KLB gizi buruk dan campak karena tidak ada diteksi dini. Masyarakat Asmat tidak tahu ciri-ciri campak itu seperti apa dan bagaimana ngobatinya. Inilah pentingnya kader kesehatan,” ungkap Nana.

Disampaikan dia, program pendidikan juga akan disematkan kepada masyarakat Asmat. Baik itu pendidikan formal maupun non normal dengan tujuan untuk mencerdaskan masyarakat di sana. Sehingga kapasitas kekuatan masyarakat Asmat terbangun dengan kokoh baik di bidang pangan, kesehatan, dan pendidikan.

Lihat juga...