Anyaman Lontar Hanna, Official Merchandise Asian Games 2018
JAKARTA – Usaha dan jerih payah yang dilakukan Hanna Keraf membantu ibu-ibu di seluruh Indonesia untuk mendapatkan pendapatan alternatif kini membuahkan hasil. Duanyam, anyaman produk lokal Indonesia yang menjadi kebanggaannya, terpilih menjadi Official Merchandise Asian Games 2018.
“Duanyam, yaitu anyaman lontar. Kami memberikan akses pasar terhadap perempuan-perempuan di daerah pelosok Indonesia yang menghasilkan produk-produk anyaman,“ kata Hanna Keraf, co founder & chief community officer Duanyam, kepada Cendana News, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.
Lebih lanjut, perempuan kelahiran Jakarta, 14 Desember 1988 itu menerangkan, program Duanyam salah satunya juga memberikan pelatihan dan peningkatan kualitas produk anyaman.
“Kita bikinkan rumah anyaman sederhana di pulau Solor, Flores Timur. Di situ kita bikin pembagian divisi untuk pengerjaan anyaman. Misalnya, ada yang tugasnya hanya penyemiran, pewarnaan, pengawetan, dan pembuatan sampel,“ terang jebolan studi bidang Bisnis Internasional di Universitas Ritsumeikan Jepang.
“Kemudian, produk-produk ini kita kerjasamakan dengan desainer, ritel-ritel Jakarta dan kita memberikan akses pasar langsung setelah mereka mendapatkan peningkatan usaha,“ imbuhnya.
Awal ketertarikan Hanna pada produk anyaman, terkait isu sosial ekonomi, ia mendengar dari salah satu teman dokter yang ada di Maumere. Teman tersebut menceritakan sebenarnya program-program pemerintah sudah baik sekali, ada jampersal (jaminan persalinan) dan ada pula jamkesmas (jaminan kesehatan nasional).
“Semua akses kesehatan itu gratis. Yang menjadi isu kuat, masalahnya bagaimana ibu-ibu bisa mengakses program-program kesehatan itu. Ternyata ongkos transportasi dari rumah ke rumah sakit kan tidak ditanggung pemerintah, sehingga kita berusaha mencarikan bagaimana mereka bisa mendapatkan pendapatan alternatif,“ ungkapnya.
Hanna melihat ada produk tenun, misalnya. Tapi kalau tenun untuk pendapatan uangnya panjang, bisa dua tiga bulan. Sedangkan dengan anyaman lontar produksinya bisa tiga jam dan bisa segera mendapatkan uang tunai.
Pernah ada kisah, pada tahun 2014, lanjutnya, masih banyak ibu yang lebih memilih melahirkan di kampung dengan dukun beranak, karena bayarnya bisa pakai ternak ayam, bukan dengan uang tunai. Apalagi jika masih harus naik angkot ke rumah sakit. Ternyata, pernah ada masalah, seorang ibu yang komplikasi, malam-malam mau melahirkan terlambat, dia melahirkan di pinggir jalan dengan ditandu orang-orang kampung, anaknya meninggal, ibunya pendarahan, tapi memang masih selamat.
“Kita berharap dengan adanya produk anyaman lontar ini, ibu-ibu bisa mendapatkan uang tunai,“ harapnya.
Harapan Hanna segala usaha ekonomi seperti ini bisa memberikan dampak yang positif, terutama terhadap ibu-ibu di daerah terpencil. Sehingga mereka tidak kerepotan menghadapi masalah sehari-hari, misalnya ketika melahirkan dan membutuhkan uang.
“Duanyam kita sekarang ada 17 desa, sekitar 450 ibu-ibu di NTT. Kemudian kita juga sudah mulai masuk di Nabire, Papua, di Berau, Kalimantan Timur, sampai ke Sidoarjo, Jawa Timur. “Dalam duanyam, tim kita sekitar 30 orang,“ katanya.
Duanyam terpilih menjadi official merchandise Asian Games 2018, menurut Hanna, proses seleksi melalui Inasgoc (Indonesian Asian Games Organizing Committee) yang cukup ketat.
“Tidak semua produk bisa menjadi official merchandise Asian Games 2018. Mungkin dilihat dari range produknya. Karena kita kerjasama dengan ibu-ibu di seluruh Indonesia. Ekspektasi produksi kita sekitar 40.000 produk,“ tegasnya.
Tidak semua produk boleh dibuat, imbuhnya, karena desainnya harus seizin Inasgoc.
“Saya sangat senang bisa mendukung ajang olahraga Asian Games 2018. Merchandise dengan anyaman produk lokal Indonesia yang menjadi kebanggaan kami,“ tandasnya.