Anies Tinjau Lokasi Kebakaran Museum Bahari
JAKARTA — Gubernur DKI, Anies Baswedan, meninjau lokasi kebakaran Museum Bahari di Penjaringan, Jakarta Utara, yang terjadi pada sekitar pukul 09.05 WIB, Selasa (16/1/2018).
Anies datang usai memimpin Apel Operasi Lintas Jaya 2018 di Monas, Jalan Medan Merdeka Selatan, dengan masih mengenakan seragam Dinas Perhubungan (Dishub). Setibanya di lokasi, pemadaman masih terus berjalan, namun api sudah mulai bisa dikendalikan.
“Alhamdulilah, apinya sudah bisa dikendalikan, kondisinya stabil tinggal pemadaman secara tuntas,” kata Anies di Penjaringan, Jakarta Utara, kepada wartawan.
Menurut Anies, sebelum petugas pemadam kebakaran (Damkar) Jakarta Utara tiba, petugas Museum Bahari memiliki alat pemadam yang cukup untuk memadamkan, hanya saja api sudah terlanjur besar.
“Sebetulnya alatnya cukup di sini, tapi api sudah terlanjur besar, sehingga membutuhkan petugas Damkar Jakarta Utara,” ucapnya.
Anies mengatakan, gedung Museum Bahari ini baru saja kelar direnovasi total pada November 2017. Dalam pemadaman, ada satu hal yang menyulitkan tim bekerja, karena ada lapisan alumunium sehingga membuat air sulit menembus ke dalam.
Selain itu, menurut Husnizon Nizar, Kepala UPY Museum Bahari, yang menjadi masalah terkena dampak kebakaran pada gedung C, karena banyaknya koleksi-koleksi bersejarah yang ikut terbakar.
Husnizon Nizar menjelaskan, di lantai 1 gedung C ada tempat koleksi alat-alat navigasi laut, seperti mercusuar dan rambu-rambu laut lain dan juga alat-alatnya berkaitan dengan transportasi laut.
Ada juga miniatur perahu tradisional di lantai satu gedung C, kemudian di blok 2 adalah ruangan pameran perang laut Jawa. Koleksinya benda-benda yang disumbangkan oleh kedutaan yang bekerja sama dengan museum bahari, kedutaan Amerika, Inggris, Australia dan Belanda.
Husnizon mengatakan, museum baru saja diresmikan pada 27 Februari oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B Pandjaitan. Husnizon mengatakan, titik awal kebakaran berada pada gedung C dari sisi utara dan pihaknya sudah berusaha untuk memadamkan api.
“Kita tahunya ada api di sisi utara gedung C. Untuk titik pastinya apakah di lantai 1 atau lantai dasar, karena petugas sudah berhadapan dengan asap, kita juga sudah berusaha memadamkan api, tapi karena asap tebal kita tidak sanggup,” ungkapnya.
Husnizon mengatakan, dalam waktu beberapa hari ini selalu mengalami lampu yang konslet, sehingga membutuhkan anggaran yang besar untuk perbaikan penggantian instalasi listrik untuk Museum Bahari.
Anies mengatakan, semalam telah memimpin rapat membicarakan antisipasi soal kebakaran di museum di tempat lain yang terdapat cagar budaya di Jakarta.
“Jadi, kita memang sudah menyiapkan antisipasinya supaya tidak ada kejadian ini, eh paginya kejadian. Di review semua tempat-tempat yang ada risiko disiapkan mitigasinya dan disiapkan alat-alatnya. Tapi, insyalallah dari kondisi ini menjadi pelajaran untuk kita mengamankan semuannya,” tegasnya.
Anies menambahkan, bahwa bangunan Museum Bahari ini telah diansuransikan.
Bangunan 1771 dan selama itu menjadi tempat penyimpanan rempah-rempah VOC waktu dulu. Jadi, salah satu gedung memang punya catatan sejarah panjang. “Di Jakarta tempat-tempat seperti ini akan kita amankan. Nanti kita akan pasti review semuanya,” imbuhnya.
Anies mengimbau kepada petugas museum untuk menjaga dan mengamankan seluruh koleksi yang ada di dalam museum. Supaya mengisolasi tempat dari orang-orang yang tidak berkepentingan tidak boleh masuk. Selain itu barang-barang ini merupakan barang-barang yang mempunyai nilai sejarah.
“Tadi, ada yang menanyakan soal berapa kerugiannya. Kalau barang-barang seperti ini tidak bisa dinilai dengan rupiah. Gedung bisa dihitung harga pergentengnya, harga eternitnya, tapi barang priceless tak bisa dihitung. Karena itu harus dijaga dengan baik,” katanya.
Sampai saat ini, Gedung Museum Bahari ditutup untuk dilakukan renovasi. Namun, sekarang masih terus memastikan tidak ada api lagi setelah itu dilakukan pembenahan dan beberapa lama waktu akan untuk dibuka kembali kepada masyarakat.