Usai Dideportasi, Keberadaan Ahmed Shafik Belum Diketahui

KAIRO – Keluarga mantan Perdana Menteri Mesir Ahmed Shafik mengklaim telah kehilangan kontak dengan Ahmed Shafik sejak sang mantan perdana menteri dideportasi dari Uni Emirat Arab (UAE) ke Kairo. Pernyataan tersebut disampaikan anak putri Ahmed Shafik yang bernama May, Minggu (3/12/2017).

Laporan adanya deportasi tersebut terjadi beberapa hari setelah Shafik mengumumkan niatnya mencalonkan diri dalam pemilihan presiden tahun depan. Shafik adalah mantan kepala staf angkatan udara dan menteri. Shafik dipandang oleh para pengeritik Presiden Abdel Fattah al- Sisi sebagai pesaing potensial bagi mantan panglima militer yang diperkirakan akan kembali mencalonkan diri untuk perode kedua tahun depan.

Para pendukung melihat Sisi, yang bersekutu dengan UAE dan Arab Saudi, sebagai kunci bagi stabilitas Mesir. Tapi pengeritik mengatakan Dia telah memenjarakan ratusan pembangkang dan mengekang kebebasan yang diperoleh setelah pergolakan 2011 yang menggulingkan Hosni Mubarak.

Rincian mengenai apa yang terjadi atas Shafik belum dapat diperoleh dengan jelas pada Minggu. Sebelumnya, Ia membuat pengumumuan mengejutkan mengenai niatnya untuk mencalonkan diri dalam pemilihan tahun 2018 dari UAE, tempat dimana Dia tinggal sementara bersama dengan keluarganya.

Keluarga mengatakan, Shafik dibawa dari rumah mereka pada Sabtu (2/12/2017) dan diterbangkan dengan pesawat pribadi ke Kairo. Seorang saksi mata mengatakan, otoritas Mesir mengawalnya dalam sebuah konvoi dari bandara.

“Kami tak tahu apa-apa mengenai dia sejak ia meninggalkan rumah kemarin. Jika ia dideportasi ia semestinya sudah bisa pulang sekarang, bukan tak diketahui dimana keberadaannya. Kami pikir dia diculik,” kata puteri Shafik yang bernama May.

Keluarga dan pengacara mengatakan mereka berencana mengajukan keluhan ke kantor penuntut umum mengenai keberadaan Shafik. “Saya menyerukan penguasa Mesir untuk mengizinkanku bertemu Dia (Ahmed Shafik). Untuk mengeceknya dan mengonfirmasi ketibaannya di Mesir,” kata pengacara Dina Adly Hussein dalam sebuah pernyataannya.

Penguasa UAE membenarkan ia meninggalkan Keamiran itu tanpa memberikan rincian mengapa hal tersebut dilakukan. Kementerian Luar Negeri Mesir menyatakan pihaknya tidak bertanggung jawab atas kasus tersebut.

Sementara sebuah sumber resmi di Kementerian Dalam Negeri Mesir berkata,”Kami tidak tahu apa-apa tentang Shafik. Kami tidak menangkapnya dan kami tidak menerima permintaan dari pihak kejaksaan untuk menangkap dia atau membawa dia pulang,” ujar sumber tersebut. (Ant)

Lihat juga...