Kasus HIV/AIDS di Sikka, Meningkat

MAUMERE – Penyakit HIV dan AIDS menjadi fenomena gunung es di kabupaten Sikka. Hingga November  2017, sebanyak 673 kasus terdata dan terus mengalami peningkatan sehingga Pemda Sikka mengajak semua pihak terlibat.

“Masih banyak kasus yang belum diketahui, masyarakat masih sulit diajak memeriksakan darahnya di klinik VCT di rumah sakit dan puskesmas, agar bisa diketahui,” ungkap Wakil Bupati Sikka, Drs. Paolus Nong Susar, Jumat (1/12/2017).

Kepada Cendana News, Nong Susar mengatakan, dirinya sengaja mengumpulkan semua dinas terkait pada Rabu (29/11) di kantornya bersama dengan KPA Sikka, tokoh agama, relawan, LSM Yankestra, TRuK-F serta ODHA yang tergabung dalam ‘Kelompok Dukungan Sebata (KDS) Flores Plus’, guna membahas langkah bersama mengatasinya.

“Kami tidak bisa kita bekerja sendiri tanpa keterlibatan banyak pihak, guna membahasnya mulai dari perilaku bermasalah dan juga soal kebijakan dari pemerintah yang harus diambil seperti apa,” terangnya.

Penanganan HIV dan AIDS. kata Nong Susar, harus dilaksanakan lintas sektoral. Dalam hal ini pemerintah sebagai regulator lewat kegiatan di bidang kesehatan didukung Dinas Sosial, Nakertrans dan juga dari bagian Kesra, agar upaya yang selama ini dilakukan lebih meluas dan masif untuk memerangi penyakit ini.

“Sekarang kita di Sikka khususnya dengan KPA, mengajak teman-teman ODHA yang adalah orang terdepan untuk membagikan kisah mereka, sehingga kita menggempur persoalan AIDS ini tidak dalam soal perilaku seks bebas, tetapi juga factor-faktor lain yang ikut berkontribusi di dalamnya,” terangnya.

Sementara itu, Sekretaris KPA kabupaten Sikka, Yohanes Siga menyampaikan, Komisi Penanggulangan AIDS provinsi NTT telah sebulan bekerja sama dengan gereja-gereja di wilayah kabupaten Sikka, menggelar pelatihan kepada tokoh-tokoh agama dalam rangka penanggulangan HIV/AIDS.

“Baru-baru ini, KPA proivinsi NTT bekerja sama dengan gereja di wilayah Pantura Sikka, menggelar pelatihan pencegahan HIV/AIDS kepada tokoh-tokoh agama, ini bukti kerja sama lintas sektoral dalam rangka memerangi virus yang mematikan ini,” tuturnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit pada Dinas Kesehatan kabupaten Sikka, dr. Harlin Hutauruk, Msi, menjelaskan, kasus HIV/AIDS di kabupaten Sikka meningkat dari tahun ke tahun sejak 2003 hingga September 2017, terdapat  673 kasus HIV/AIDS.

“Hasil pemeriksaan klinik VCT di rumah Sakit Dr. Tc. Hillers Maumere di 2017 ada 350 orang yang melakukan pemeriksaan, dan hasilnya 77 orang positif mengidap HIV dan ibu hamil pemeriksaan dari bulan Januari sampai September 2017 ada 5 orang positif mengidap HIV,” terangnya.

Pada 2017, ada 77 kasus terdeteksi, ungkap Herlin, di mana kondisi yang ditemukan di lapangan 68 persen penderita terdeteksi AIDS dan 32 persennya mengidap HIV. Trend penemuan dari tahun ke tahun semakin meningkat dan menyerang golongan umur produktif usia 25 sampai 49 tahun sebanyak 75 persen.

Kecamatan yang paling banyak kasus HIN/AIDS ini, urainya, yakni kecamatan Alok disusul Alok Timur, Alok Barat, Nita, Paga, Kangae Bola, Mapitara, Doreng dan lain-lain. Artinya, penyebaran virus mematikan ini sudah merata di 21 kecamatan.

“Strategi yang dilakukan saat ini adalah menambahkan klinik VCT dan CST di 2017, yakni di Puskesmas Beru, Kopeta, Wolomarang dan RS St. Elisabeth Lela serta Puskesmas Waipare untuk CST,” bebernya.

Selain itu, ungkap Herlin, telah dibentuk Warga Peduli AIDS (WPA) berdasarkan Instruksi Bupati Sikka Nomor 4 tahun 2015 tentang pembentukan Warga Peduli AIDS (WPA), para ODHA diberikan kartu Jaminan Kesehatan (BPJS Kesehatan)  serta desa menyiapkan dana untuk penanggulangan AIDS.

Lihat juga...