Walhi DIY: Banjir dan Longsor Alarm Bagi Pemerintah

YOGYAKARTA — Direktur Eksekutif Walhi DIY, Halik Sandera, menyebut meluasnya bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di DIY sejak kemarin, diakibatkan kerena daya dukung dan tampungan lingkungan yang sudah terlampaui atau tidak mampu menahan intensitas air hujan yang berlangsung menerus menerus.

Hal ini pun dikatakan harus menjadi alarm atau perhatian serius bagi pemerintah. Ia menyebut selain dipengaruhi faktor cuaca berupa Siklon Tropis Cempaka, pemerintah seharusnya sudah memiliki rencana kontigensi matang untuk menghadapi setiap musim hujan dengan berbagai potensi bencana.

“Kejadian banjir dan longsor yang meluas, seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah. Bahwa daya dukung dan daya tampungan lingkungan sudah terlampaui. Seharusnya sudah ada rencana kontigensi yang disusun untuk menghadap musim hujan,” katanya kepada Cendana News.

Walhi pun menyoroti kejadian banjir yang merata di Gunungkidul sebagai daerah yang selama ini dianggap selalu kekeringan. Namun justru mengalami bencana banjir sejak 2 atau 3 tahun terakhir, setiap kali musim hujan tiba. Kerena itulah Halik menilai menjadi sangat mendesak dilakukan gerakan bersama untuk mengatasi run off di musim hujan sehingga kejadian banjir dan longsor bisa diminimalisir.

“Perkembangan penduduk dan diikuti oleh meluasnya wilayah pemukiman yang berkembang secara organik sudah menunjukkan dan berdampak pada kejadian banjir dan longsor. Apalagi Gunungkidul sekarang terus membuka kran investasi yang dapat mmpercepat dan memperluas kejadian-kejadian tersebut,” katanya.

Menurut Halik upaya untuk mencegah atau meminimalisir bencana agar tidak semakin meluas, sebenarnya bisa dilakukan. Yakni dengan memberikan pemahaman kepada seluruh warga pentingnya melakukan pengelolaan sumber daya air.

“Pemerintah seharusnya melakukan moratorium tambang dan pembangunan skala besar, sementara merkuat sektor pertanian dan perkebunan serta UMKM yang berkembang. Selain itu penting bagi warga melakukan pengelolaan air hujan untuk ditampung dan diresapkan. Yakni degan melestarikan tampungan alami seperti telaga, ponor, goa dan bukit KARST yang ada,” tutupnya.

Sejumlah akses jalan utama yang menghubungkan Yogyakarta dan kabupaten di sekitarnya lumpuh akibat bajir sejak Selasa kemarin/Foto: Jatmika H Kusmargana.
Lihat juga...