Ubi Hitam, Pangan Lokal Warga Sikka
MAUMERE – Konsumsi pangan lokal seperti ubi dan singkong bagi warga kabupaten Sikka maupun provinsi NTT, mulai digandrungi sejak Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, gencar mempromosikan gerakan mengkonsumsi pangan lokal sejak sekitar 2015.
Meski demikian, konsumsi ubi hitam bagi warga kabupaten Sikka dan di Flores Timur hampir sering dilakukan, mengingat makanan ini selalu dijual setiap sore di sepanjang jalan Gajah Mada, Kota Maumere, bersama aneka makanan lokal lainnya seperti singkong rebus, pisang, kacang rebus dan lainnya.
Ibu Satria, pemilik warung Pojok Senja di jalan Gajah Mada Maumere, mengatakan, makanan lokal sudah menjadi konsumsi masyarakat Sikka setiap hari. “Ubi hitam paling banyak dibeli masyarakat, sebab rasanya yang beda dan hanya beberapa warung senja yang jual makanan lokal saja yang menjualnya,” ujarnya.

Dalam membuatnya, kata Satria, ubi direndam semalam dan dibuang airnya, lalu ditutup dengan daun Reo atau Turi selama satu atau dua malam hingga tumbuh jamur dan berwarna kehitaman. “Kalau sudah berwarna hitam, baru direbus hingga matang, lalu diangkat dan biasanya dihidangkan dengan lawar dari daun singkong”, terangnya.
Sepotong ubi hitam, lanjut Satria, dijual seharga seribu rupiah, dan dalam sehari dirinya bisa memperoleh 50 ribu rupiah, dan biasanya tidak banyak dihidangkan, karena pembeli juga suka membeli singkong rebus.
Biasanya, tambah Satria, penjualan pangan lokal di warungnya akan dimulai sejak pukul 17.00 WITA. Sebab, biasanya pembeli akan ramai saat malam hari, karena pangan lokal biasanya dimakan di waktu santai sambil berkumpul bersama teman atau keluarga.
Margaretha Wea, mengatakan, konsumsi pangan lokal di kabupaten Sikka mulai menggeliat setelah pemerintah mulai mengggalakannya dan di setiap acara pemerintahan selalu dihidangkan pangan lokal.
Dengan adanya semangat ini, lanjut Margaretha, masyarakat mulai banyak yang mengkonsumsi ubi hitam dan banyak yang menyukai ubi hitam yang sudah direbus tanpa dipotong-potong dan dicampur dengan parutan kelapa.
“Banyak juga yang mengirisnya kecil-kecil dan mencampurnya dengan parutan kelapa, dan biasanya dimakan dengan Lawar daun singkong dan juga ikan bakar”, pungkasnya.