Gethuk Lindri Digemari di Lampung
LAMPUNG — Berbagai makanan khas dengan bahan baku singkong masih menjadi kuliner favorit bagi masyarakat di pedesaan, bahkan hingga perkotaan. Tanpa kecuali, di wilayah Lampung.
Salah satu kuliner khas berbahan baku singkong yang umum dikenal adalah getuk lindri. Makanan khas asal Pulau Jawa dan seiring proses transmigrasi ke Pulau Sumatera, di antaranya di Lampung, makanan tradisional tersebut kerap dibuat oleh masyarakat karena melimpahnya bahan baku singkong.
Karim (39), salah satu pedagang keliling yang sudah berjualan getuk lindri sejak enam tahun silam, menyebut getuk lindri menjadi penganan yang disukai berbagai kalangan. Tua, muda bahkan dari beragam kelas ekonomi menyukai kuliner tradisional tersebut dengan ciri khas getuk cetakan warna-warni dengan taburan gurih parutan kelapa dicampur garam dan gula putih. Kuliner ini bahkan kerap dijadikan pengganti sarapan pagi, karena kandungan karbohidrat dari singkong bisa menggantikan nasi.

Karim tak pelit berbagi ilmu saat dikulik bagaimana cara membuat getuk lindri yang memikat mata dengan warna-warninya yang menarik, sekaligus menggugah selera. Sang istri sebagai pembuat getuk lindri, sementara Karim mempersiapkan bahan baku singkong atau ketela pohon yang dibeli dari Kecamatan Palas, penghasil singkong. Setelah singkong dikupas dan dicuci bersih, proses pembuatan getuk lindri dimulai dengan perebusan dengan cara dikukus.
Dalam sehari, Karim dan Sayuti, sang istri, membuat sebanyak enam kilogram getuk lindri. Masing-masing dua kilogram getuk lindri asli warna singkong putih kekuningan, warna hijau pandan dan warna merah daun suji. Setelah bahan singkong matang dikukus, proses selanjutnya penghalusan menggunakan lesung (jublek) dihaluskan (ditutu) menggunakan alu terbuat dari kayu yang ujungnya diberi plastik bening.
“Plastik di ujung alu bertujuan membuat getuk tidak lengket, demikian juga pada bagian alas lesung juga diberi plastik, sehingga terjaga kebersihannya dan warna tetap menarik”, terang Karim.
Setelah sedikit halus, bahan-bahan lain disertakan, di antaranya gula pasir, kelapa parut kasar, vanili bubuk, diaduk bersama gula hingga larut yang dicampurkan dalam adonan singkong yang sudah direbus atau disebut proses pengulenan. Setelah tercampur merata, adonan dibagi dalam tiga bagian untuk pemberian warna berbeda menyesuaikan selera konsumen.
Sebuah alat yang dikenal dengan nama cetakan getuk lindri menyerupai cetakan mie pun disiapkan. Adonan yang sudah dibuat, dipisahkan tiga warna di antaranya original, hijau pandan dan merah, selanjutnya digiling sehingga menyerupai bentuk mie bulat yang memanjang, lalu dipotong sesuai ukuran.
Sembari mencetak adonan, proses pemarutan kelapa muda yang selanjutnya diberi taburan garam menciptakan rasa gurih juga dilakukan dengan dua butir kelapa diparut dan disertakan saat akan dijual.
“Uniknya getuk lindri disukai anak-anak, karena selain ada taburan parutan kelapa yang gurih, adanya cetakan seperti mie kerap diambil anak-anak dimakan seperti mie rasa manis”, terang Karim.
Dalam sehari, laki laki yang berkeliling ke puluhan sekolah itu mengaku membawa hasil olahan singkong tersebut sebanyak enam kilo yang dicetak menjadi 300 buah getuk lindri. Harga getuk satu potong seharga Rp500 terjangkau oleh anak-anak yang menyukai warna hijau pandan, dan sehat dikonsumsi, karena tanpa bahan pengawet.
Jika seluruh getuk lindri laku terjual, sebanyak Rp100 ribu hingga Rp150 ribu bisa berhasil dibawa pulang olehnya untuk modal pembuatan getuk hari berikutnya.
Eka, salah satu ibu rumah tangga yang kerap membeli getuk mengaku kuliner tradisional dari singkong tersebut kerap dibeli di pasar sebagai jajanan pasar. Namun, dengan adanya Karim yang berkeliling ke desa-desa dan sekolah, ia kerap membeli getuk lindri sebagai hidangan bagi suami dan anaknya ditemani menyeruput segelas teh saat pagi hari.
Harga yang terjangkau membuat Eka kerap membeli kue getuk lindri tersebut. Selain menyehatkan, getuk lindri juga terbuat dari singkong yang bahannya cukup aman, terutama jenis singkong roti.
“Setiap pagi saya beli getuk lindri beberapa potong sebagai hidangan dan anak saya juga menyukainya, karena unik warnanya dan rasa manis gurih cukup menggugah selera dan pas disajikan saat pagi hari”, tutup Eka.