CERPEN BERNANDO J. SUJIBTO
“APA masih jauh?”
Suara Zahir terdengar lirih. Bibirnya gemetar disepuh putik-putik salju yang mulai turun sore itu. Zahir terus memunduk sembari menyeret langkahnya di tengah remahan salju yang pelan-pelan menyelimuti permukaan tanah.
“Ayah,” Zahir sekali lagi memanggil ayahnya.
Bihran Seymus, ayahnya, yang berjarak satu meter di belakangnya hanya menghela nafas mendengar pertanyaan yang sama, yang sekitar 5 kilometer yang lalu keluar dari bibir bocah itu. Kedua mata Bihran lalu dipasang awas ke tubuh mungil anaknya. Dari belakang, dia melihat punggung anak itu mulai membungkuk, langkah kakinya diseret berat, dan sesekali tersandung batu-batu keras yang mulai ditutupi salju.
“Sebentar lagi sampai, Nak,” jawab Bihran.
Kalimat ‘Sebentar lagi sampai, Nak’ sudah diucapkan Bihran untuk ketiga kalinya dalam perjalanan sore itu. Bihran paham ia membutuhkan istirahat atau sekadar duduk sebentar melepas penat. Tapi cuaca sore itu memaksa perjalanan mereka harus berlalu tanpa jeda sedikit pun. Mereka tidak ingin cuaca sinting menghempaskan tubuhnya hingga malam larut dan —jika salju semakin lebat— mereka tak ubahnya seperti kecoak malang yang membawa rongsokan tubuhnya timbul tenggelam di tengah hamparan gemutih salju.
Tepat seperti anjing-anjing yang diombang-ambingkan badai salju akhir Desember. Jika itu terjadi, maut tak segan-segan akan menghantam mereka dengan cara yang paling congkak. Para pencabut nyawa yang dikirim khusus kepada mereka bisa datang kapan saja dengan wujud yang kejam: F-16, penembak jitu atau pasukan khusus yang dikirim baik oleh pasukan keamanan Turki ataupun Iran di perbatasan.
Bagi Bihran dan rombongannya, tertangkap oleh operasi keamanan di perbatasan Irak-Iran atau Irak-Turki bukan lagi sebuah keistimewaan. Mereka sudah berulang kali berhadapan dengan para pencabut nyawa itu. Jika beruntung, mereka masih bisa pulang dengan membawa nyawa kembali ke desa-desa nun jauh di tanah Irak utara, di tengah bebukitan dan ladang luas yang gersang. Apabila mereka tertangkap karena ada operasi di perbatasan, rombongan para pedagang selundupan itu sudah pasrah dan hanya berharap kepada Yang di Atas. Nyawa mereka seperti berada pada sebidak permainan dengan dadu yang siap dilempar oleh pasukan penjaga perbatasan. Pasukan keamanan di perbatasan itu adalah tuhan dengan huruf ‘t’ kecil yang akan mengirim mereka kepada dua pilihan: pulang membawa nyawa atau hidupnya selesai di situ.
Hidup dan mati bagi mereka begitu fana, lebih tipis dari daun zaitun!
Jika nasib mereka sedikit beruntung, barang-barang selundupan yang sudah mereka bawa dengan peluh dan keringat kuning dari Desa Zalle di Irak akan sia-sia dan mereka harus pulang dengan tangan hampa. Uang sebesar 270.000 Rial Iran (sekitar 8 US Dollar) yang mereka pertaruhkan dalam sekali perjalanan melayang diserobot takdir yang begitu ganas di tengah-tengah hidup mereka. Jarak 24 kilometer dengan melintasi tanah kering, bebukitan dan sungai curam yang harus mereka tempuh untuk tiba di Zarna, sebuah desa perbatasan di Iran, harus mereka kenang sebagai kembang-kembang kehidupan. Mungkin nanti malam, mungkin esok hari, atau mungkin lain waktu Tuhan memihak perjalanan mereka sehingga mereka bisa berjualan lagi untuk menyambung hidup.
Sudah berapa orang yang nyawanya meregang di rute perjalanan dagang selundupan yang sudah turun-temurun itu? Bihran sungguh tidak sanggup menghitungnya. Nama-nama orang dekat atau sahabat-sahabat terkasih di desanya satu per satu lenyap digilas kejamnya takdir di perbatasan. Selama 24 tahun melakoni pekerjaan itu, Bihran membayangkan mayat-mayat yang bergelimpangan di rute yang setiap hari dilaluinya itu setara dengan jumlah penduduk sekampung.
Ada dua cara mereka mati. Pertama, ditembak di tempat karena mereka dituduh membawa ganja, barang haram yang dilarang keras baik di Iran maupun di Turki. Ini tentu sangat jarang terjadi, kecuali pasukan keamanan itu sedang dirasuki setan, tangannya dikendalikan oleh arwah serigala liar, atau matanya disunting hantu-hantu pebukitan bekas Perang Salib.
Menyelundupkan ganja harus melewati ritual-ritual khusus dan tidak setiap orang di desa itu bisa melakukannya. Mereka tahu hari apa dan jam berapa harus bergerak dan menjual barang itu ke perbatasan. Bihran sudah pernah melakukannya, saat itu ke perbatasan Turki. Dia membawa dua karung ganja kering di punggungnya bersama Hasan dan Chomi, dua sahabat yang sudah tewas dipilin timah panas di perbatasan Iran tiga tahun lalu. Jam operasi mereka dari pukul satu hingga tiga malam hari dengan maksimal tiga orang anggota dalam sekali perjalanan. Satu syarat lagi, mereka harus bersama seekor anjing yang menjadi pemandu perjalanan mereka.
Kedua, ditembak oleh para pecundang penjaga perbatasan. Mereka tidak sempat tahu dari mana peluru yang menghantam jantung atau kepala itu datang. Untuk yang kedua ini, Bihran nyaris menyetor nyawanya secara gratis sekitar enam tahun silam. Tapi mungkin Tuhan sedang tidak tertarik mencabut nyawanya sehingga sebiji peluru yang menembus bahu kanannya itu masih bisa disembuhkan setelah tubuhnya sempat terlempar berguling-guling hingga ke tepi jurang.
Penduduk Desa Zalle, sebuah desa terpencil di Choman dengan lanskap dataran pegunungan dan lembah-lembah curam, dipenuhi batu-batu besar dan keras, rumah-rumah warga yang bertengger di sela-sela bukit, ladang-ladang gandum dan tanah luas untuk kambing piaraan, dan lahan untuk aneka ragam sayur dan buah-buahan di musim semi seperti delima. Desa yang dilewati oleh sungai Choman yang meliuk-liuk seperti ular zamenis yang mematikan itu —nyaris tidak mati karena tua atau oleh sebab sakit dan meringkuk di atas lantai kayu tempat tidur mereka. Ajal dan kematian dijemput di perjalanan, atau di tengah pertempuran kecil yang melibatkan pasukan-pasukan keamanaan di perbatasan dengan tuduhan gerakan separatis. Karena sebagian dari mereka mempunyai senjata api sisa-sisa perang Irak yang dikirim dari Rusia atau Amerika.
Sementara Bihran, yang kini sudah berusia 41 itu, hanya menghitung waktu untuk menemui ajalnya sendiri di perjalanan. Jika tidak hari itu, besok, besoknya lagi, atau besok dan besoknya lagi. Setiap menyambut matahari pagi, dalam doa dan kesadaran orang-orang desa Zalle sudah terbersit pula takdir kematian yang ikut mereka rapalkan. Pun demikian dengan Bihran: menyambut hari baru artinya mempersilakan kematian datang kapan saja.
“Ayah, bolehkah aku duduk sebentar?” tanya Zahir setelah melewati sungai sebelum menaiki bukit menuju titik terakhir di Zarna.
Dengan cekatan Bihran langsung mengangkat tangan kirinya kepada anggota rombongan yang berjumlah 16 orang dengan dua kuda dan satu keledai yang membawa semua jenis barang yang sebentar lagi akan dijual di perbatasan Iran.
“Kita berhenti sebentar untuk memeriksa dan memastikan barang kita masing-masing,” suara Bihran seperti teriakan yang tertahan oleh nafas lelah karena membawa beban 79 kilogram di punggungnya.
Semua orang memeriksa dan merapikan posisi barang masing-masing, termasuk muatan di punggung kuda dan keledai. Setelah semuanya beres, mereka kembali melanjutkan perjalanan yang akan sampai sebelum matahari tenggelam. Zahir seperti mendapatkan suntikan oksigen baru untuk melangkah menggapai perbatasan dan barang yang digendongnya akan segera ditukar dengan uang.
Perjalanan kali ini, bagi Zahir, bocah sembilan tahun itu, sungguh sangat malang. Ini pengalaman paling kejam selama mengikuti ayahnya sejak usia enam tahun. Nyaris setiap hari —bergantian dengan ibunya— Zahir mengikuti langkah ayahnya menjadi penjual barang-barang selundupan ke perbatasan. Jika ibunya ikut pergi ke perbatasan, Zahir menggantikan semua tugasnya di rumah, termasuk menjaga hewan ternak. Bersama waktu, setelah mengalami dan merasakan sendiri risiko pekerjaannya itu, Zahir ingin sekali menggantikan tugas ibunya yang ikut berseteru mempertaruhkan nasibnya di ujung jalan.
“Sekarang Zahir sudah kuat, Ibu. Selanjutnya biar Zahir bersama ayah yang pergi ke perbatasan,” ujar Zahir tepat pada malam ulang tahunnya yang kedelapan.
Mata ibunya meneteskan bulir-bulir bening seperti gerimis bulan Oktober di desa itu. Bihran bergeming menatap anak semata wayangnya itu dengan wajah ceria.
“Hidup kita seperti ini, anakku. Tak perlu kau cemaskan ibu. Perjalanan ke perbatasan sama saja seperti pergi ke bukit Sijaz untuk menggembalakan kambing,” suara ibunya terdengar begitu kuat.
Malam itu adalah momentum persaksian bagi bocah bernama Zahir. Karena setelah itu, dan hari-hari selanjutnya, ia akan lebih sering pergi ke perbatasan bersama ayah dan orang-orang di desanya. Jika dirinya sedang ingin masuk sekolah, berarti Zahir berangkat sore hari ke perbatasan, ikut jadwal rombongan terakhir.
Sore itu, di tengah hujan salju yang semakin lebat, Zahir tidak bisa menikmati istirah atau hiburan sekadarnya. Jika saja cuaca tidak sekeparat ini, tentu saja Bihran meminta rombongan untuk istirah lebih lama sembari menyanyikan lagu-lagu rakyat, menari, atau menuangkan teh dengan menghisap sebatang dua batang rokok. Tapi itu semua tak mungkin mereka lakukan kali ini. Salju yang turun begitu memaksa mereka harus tiba lebih cepat di Zarna.
“Nak, ayah yang bawa, ya,” pinta Bihran.
“Tidak usah, Yah. Zahir masih kuat!”
Di punggung Zahir, di dalam tas kain yang penuh dengan tambalan itu, ada sembilan botol bir dengan berat sekitar 17 kilogram. Bocah itu terus menyeret kakinya bersama langkah mereka yang tertatih-tatih di atas salju yang mulai licin. Dari kejauhan Bihran melihat dua sosok manusia yang mendekatinya dari arah titik pertemuan yang menjadi akhir perjalanan mereka. Bihran membiarkan rombongannya terus berjalan menuju dua orang itu, di tengah pandangan yang terbatas di tengah hujan salju yang memutih. Kedua sosok itu langsung memberikan isyarat kedua tangannya. Bihran meminta rombongan berhenti dan dia maju sendirian untuk memastikan kedua sosok itu.
“Bihran, barang-barang ini jangan dibawa sekarang. Berhenti dan turunkan di sini!” ujar Mehrez dengan bahasa Kurdi yang keras.
“Kami mendegar kabar akan ada operasi,” imbuh Aram.
Bihran diam kaku. Matanya menoleh ke belakang, ke rombongan yang seperti onggokan batu hitam di sana.
“Bawa bir?” tanya Mehrez penasaran.
“Ada di anakku.”
“Biar kita bayar sekarang birnya. Kami sedang butuh bir dingin-dingin begini. Sementara barang-barang sisanya bawa ke bukit itu, dan dini hari nanti kita urus. Bagaimana?”
“Bagaimana kalau kita tetap ke sana?”
“Mau apa? Para pembeli tidak akan berani datang.”
Bihran paham dalam situasi seperti itu tidak mungkin ada pembeli atau pemborong yang berani datang ke sebuah tempat di mana mereka biasa menjual barang-barang selundupan itu. Ujung desa Zarna tepat di perbatasan yang berjarak sekitar satu kilometer tak terlihat sama sekali di tengah hujan salju yang terus-menerus meringkus mereka.
Setelah melakukan perundingan dengan anggota rombongan, barang-barang itu akhirnya dibawa ke sebuah bukit yang jaraknya hanya ratusan meter. Sementara 30 kilogram tembakau dan sembilan botol bir yang dibawa Zahir sudah berada di tangan dua karib Bihran yang sudah lama berbisnis barang-barang selundupan di perbatasan Irak-Iran.
“Kalian pulang. Biar saya, Mustafa dan Zahir yang menjaga barang-barang ini,” tutup Bihran setelah meyakinkan rombongan untuk segera pulang menuju desa Zalle.
Zahir hanya melongo melihat tekad dan pilihan ayahnya malam itu. Pandangan Zahir diarahkan ke Mustafa. Sosok yang berada tepat di sampingnya itu terkenal sangat loyal kepada ayahnya. Tangannya lalu mengusap ubun-ubun Zahir.
“Kamu harus berani,” bisik Mustafa pelan.
Zahir hanya melongo. Entah keberanian macam apa yang harus ditanggungnya malam nanti bersama Mustafa dan ayahnya. Ini akan menjadi malam yang panjang bagi Zahir, di tengah putik-putik salju yang terus mengepung, pengalaman pertama bermalam di perbatasan! ***
Turki, 2016
Bernando J. Sujibto, dosen dan peneliti kawasan Turki dan Timur Tengah. Alumni pascasarjana di Selcuk University, Turki. Kini mengajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kumpulan puisi terbarunya Rumbalara Perjalanan (Diva Press Yogyakarta, 2017).
Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema dan panjang naskah bebas yang pasti tidak SARA. Kirimkan naskah beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.