JAKARTA – Dubes RI untuk Mesir Helmy Fauzi mengonfirmasi bahwa tidak ada WNI (Warga Negara Indonesia) menjadi korban serangan teror bom di Sinai, Mesir, pada Jumat (24/11/2017). Dilaporkan teror tersebut telah menewaskan 155 orang.
“Berdasarkan pemantuan KBRI Kairo dan pelacakan melalui sumber keamanan Mesir, sejauh ini diperoleh informasi tak ada WNI yang menjadi korban serangan tersebut,” kata Helmy Fauzi, Jumat (24/11/2017).
Menurut Helmi, pada Jumat (24/11/2017) telah terjadi ledakan Improvised Explosive Device (IED) yang dilancarkan oleh kelompok teroris yang tidak dikenal di samping Masjid Ar-Raudhah, Markas Bir El-Abd di kota El-Arish, Sinai Utara, Mesir. Peledakan tersebut dilakukan oleh sejumlah milisi dan telah menewaskan lebih dari 230 orang di masjid Ar-Raudah. Mereka meledakkan bom dan menembaki jamaah dalam serangan paling mematikan selama sejarah modern negara tersebut.
Belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab, namun sejak 2013 pasukan keamanan Mesir telah berjuang menangani afiliasi ISIS di wilayah yang sebagian besar terdiri dari gurun itu. Sementara itu, milisi-milisi telah membunuh ratusan polisi dan tentara.
Media pemerintah Mesir memperlihatkan keberadaan gambar para korban yang berlumuran darah dan tubuh-tubuh yang ditutup selimut di dalam masjid Al Rawdah di Bir al-Abed, sebelah barat El Arish, kota utama di Sinai Utara. Jamaah sedang menyelesaikan shalat Jumat di masjid ketika sebuah bom meledak. Sekitar 40 pria bersenjata memasang posisi di luar masjid dengan mobil jip dan melepaskan tembakan dari berbagai arah saat orang-orang mencoba melarikan diri.
“Mereka menembaki orang-orang saat mereka meninggalkan masjid. Mereka juga menembaki ambulans,” ujar seorang penduduk setempat yang kerabatnya berada di tempat kejadian.
Kantor kejaksaan dalam sebuah pernyataan mengatakan, bahwa 235 orang tewas dan 109 lainnya terluka dalam insiden tersebut. Menyerang masjid akan menjadi perubahan taktik bagi milisi Sinai, yang biasanya menyerang tentara dan polisi dan gereja-gereja Kristen.
Media lokal mengatakan beberapa anggota jamaah beraliran Sufi, oleh kelompok-kelompok seperti ISIS dijadikan target karena mereka menghormati para wali dan tempat-tempat suci. Bagi milisi Islamis hal tersebut sama saja dengan penyembahan berhala. Para jihadis juga menyerang suku-suku setempat beserta milisi mereka karena bekerja sama dengan tentara dan polisi sehingga kelompok jihadis menganggap mereka sebagai penghianat.
Sinai adalah salah satu wilayah yang merupakan cabang ISIS yang masih ada, setelah runtuhnya kekhalifahan yang diumumkan sendiri di Suriah dan Irak pascakekalahan militer oleh pasukan yang didukung AS. Presiden Abdel Fattah al-Sisi, mantan komandan angkatan bersenjata yang menghadirkan dirinya sebagai benteng pertahanan terhadap militansi Islam, mengadakan pertemuan darurat dengan menteri pertahanan dan menteri dalam negeri serta kepala intelijen segera setelah serangan tersebut.
Keamanan telah lama menjadi salah satu sumber utama dukungan publik bagi mantan jenderal yang diperkirakan akan mencalonkan kembali pada pemilihan awal tahun depan untuk masa jabatan empat tahun berikutnya.
“Keadilan akan ditegakkan terhadap semua pihak yang berpartisipasi, memberikan kontribusi, mendukung, mendanai, atau menghasut serangan pengecut ini,” demikian Sisi dalam sebuah pernyataan.
Presiden A.S. Donald Trump melalui Twitter pada Jumat menyebut serangan itu sebagai serangan teroris yang mengerikan dan pengecut. “Dunia tidak dapat menoleransi terorisme, kita harus mengalahkan mereka secara militer dan mendiskreditkan ideologi ekstremis yang menjadi dasar keberadaan mereka,” tambahnya.
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian juga mengecam serangan tersebut dan mengatakan bahwa Paris berada di pihak Mesir dengan sekutu-sekutunya.(Ant)