Tak Lagi Menguntungkan, Supriyo Geluti Usaha Gamping

YOGYAKARTA — Pagi itu, Supriyo, kakek 75 tahun warga dusun Kunden, Sendangsari, Pajangan, Bantul, nampak sedang memecah bongkahan batu kapur dengan kedua tangannya. Sembari duduk pada batang kayu kelapa atau biasa disebut Glugu, ia tak henti menghantam batu dengan sebuah palu di tangan kanannya.

Meski tak lagi muda, Supriyo, masih terlihat begitu sehat dan gagah. Dibantu salah seorang karyawannya, setiap hari ia mengolah bongkahan batu kapur dengan cara dibakar, menjadi bahan campuran pembuat bangunan atau biasa disebut gamping.

Ya, Supriyo, merupakan satu dari sedikit pembuat batu gamping tradisional di kawasan Pajangan, Bantul yang masih tersisa. Sejak beberapa dekade silam, kawasan ini memang banyak terdapat pengrajin batu gamping. Namun seiring habisnya lokasi penambangan batu kapur, serta banyaknya pabrik bermunculan, profesi ini semakin ditinggalkan.

“Sekarang sudah tidak ada lagi yang mau membuat gamping. Cari bahan baku susah, kerjanya berat, dan jualnya sulit,” katanya kepala Cendana News belum lama ini.

Meski bukan lagi pekerjaan yang menguntungkan, Supriyo mengaku tetap setia menjadi seorang pembuat gamping. Selain meneruskan usaha turun temurun milik keluarga, ia mengaku tak memiliki kemampuan lain selain mengolah batu kapur menjadi Gamping.

“Sekarang semua bahan batu kapur harus beli dari daerah Gunungkidul. Per ritnya Rp600 ribu. Di sini sudah tidak ada lagi,” katanya.

Tak hanya bahan baku utama berupa batu kapur, bahan lainnya yakni kayu untuk bahan utama pembakaran juga harus dibeli Supriyo dengan harga tinggi. Jutaan rupiah setiap ritnya, tergantung jenis kayu dan kondisi.

“Kayu juga beli, kalau harus cari sendiri susah, dan tidak akan cukup untuk bakar batu,” katanya.

Dalam sekali bakar, Supriyo mengaku bisa menghasilkan sekitar 600 karung sak bahan campuran pembuat bangunan atau gamping. Setiap sak biasa ia jual Rp12 ribu. Yakni dengan disetorkan ke sejumlah toko-toko bangunan di sejumlah daerah seperti Godean dan Bantul.

“Dulu itu sebulan bisa obong (bakar) hingga dua kali. Tapi kalau sekarang sebulan bakar satu kali saja sudah bagus. Kadang sebulan malah tidak obong karena barang belum habis,” katanya.

Sulitnya menjual produk gamping itu menurut Supriyo disebabkan karena orang tak lagi menggunakan gamping sebagai bahan bangunan. Orang lebih memilih bubuk campuran batu kapur mentah olahan pabrik yang biasa disebut Mil.

“Padahal dari sisi kekuatan, gamping sebenarnya lebih bagus karena dibakar. Kalau mil kan tidak dibakar, hanya batu kapur mentah yang dihancurkan. Harganya juga lebih murah gamping,” katanya.

Melihat kondisi pasar seperti itu, Supriyo hanya bisa pasrah. Ia hanya berharap pemerintah dapat memberikan solusi bagi pelaku Usaha pembuatan gamping seperti dirinya.

Lihat juga...