Ekonom: Lemahnya Daya Beli Penyebab Inflasi Rendah

JAKARTA — Tren turunnya inflasi yang terjadi saat ini ada potensi akibat dari daya beli yang melemah seiring dengan pendapatan nasional (PDB) nasional yang mencatatkan pertumbuhan yang melambat. Dimana ada indikasi menurunnya inflasi karena menurunnya daya beli efek dari perlambatan ekonomi, dan menurunnya sisi permintaan.

Ekonom PT Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih mengungkapkan inflasi mempengaruhi daya beli, dan daya beli sebagai tingkat indikator kesejahteraan.

“Inflasi dalam tren turun, mestinya daya beli membaik? Indikasi lain yang perlu diwaspadai adalah turunnya inflasi mengikuti perlambatan ekonomi dalam siklus ekonomi jangka pendek?,” katanya saat pemaparan pengendalian inflasi dalam kegiatan pelatihan wartawan daerah yang diselenggarakan BI pada 20-22 November 2017.

Inflasi bulan Oktober 2017 tercatat inflasi 0,01% mtm. Inflasi pada bulan Oktober 2017 itu dibawah rata-rata bulan Oktober sejak tahun 2009 0,16% mtm.

Ia menjelaskan sumber inflasi masih bersumber pada sisi permintaan. Dan kebijakan pemerintah dalam stabilisasi harga membuat “Harga terjangkau” melalui HET di tengah daya beli yang melemah. Namun perlu dipertimbangkan dampak negatifnya bagi dunia usaha.

“Pengendalian inflasi wajib dilakukan untuk mencegah ketidakstabilan politik,” pungkasnya.

Menurutnya, upaya membantu daya beli dengan bansos bersifat temporer diperlukan kegiatan usaha yang tumbuh dan penciptaan lapangan pekerjaan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Solusinya dengan dana desa dan transfer daerah diprioritaskan untuk penciptaan lapangan pekerjaan,” sebutnya.

Pada kesempatan yang sama Deputi Menteri Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir menjelaskan inflasi perlu dikendalikan karena inflasi yang rendah dan stabil merupakan prasyarat mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

“Inflasi juga menjadi salah satu indikator daya saing negara. Tingkat inflasi berpengaruh terhadap daya saing suatu negara dan akan keputusan ekonomi pelaku usaha,” terangnya.

Iskandar menjelaskan berdasarkan pertumbuhan ekonomi triwulan terakhir meningkat dari triwulan keempat tahun 2016. Pada triwulan III/2017 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,06%.

Dengan data itu pihaknya membantah daya beli menurun karena dari dasar itu apabila melihat konsumsi daya beli juga di lihat paling utama konsumsinya masih pada angka 4,93%.

“Kalau kita lihat tetap 4,93 dia (daya beli) tidak ada penurunan. Mungkin ada fenomena yang menarik yang memukul industri dalam negeri seperti yang tadi saya kemukakan. Ada memang pola switching dari belanja offline ke online,” pungkasnya.

Lihat juga...