LAMPUNG – Hujan yang mulai mengguyur sebagian wilayah kabupaten Lampung Selatan mulai dimanfaatkan oleh sebagian besar petani untuk memulai masa tanam salah satunya di wilayah Kecamatan Sragi di desa Mandalasari dengan memulai bercocok tanam jagung.
Budiono, warga setempat menyebut, mulai memanfaatkan lahan karet miliknya seluas satu hektar untuk ditanami komoditas pertanian jenis jagung disela sela sebanyak 650 batang karet yang masih belum memasuki masa penyadapan atau tanaman menghasilkan (TM).

“Sebelum umur enam tahun sengaja saya lakukan pemangkasan pada saat puncak kemarau bulan September lalu dengan tujuan agar penguapan pada daun berkurang. Bahkan sekarang sudah mulai bersemi sembari dimanfaatkan untuk tumpangsari dengan tanaman jagung,” terang Budiono, salah satu warga desa Mandalasari Kecamatan Sragi Lampung Selatan saat ditemui Cendana News, Senin (13/11/2017).
Sebagai pemilik kebun karet rakyat, Budiono mengaku, menjadikan karet sebagai investasi jangka panjang dengan hasil yang diperoleh rata-rata mencapai 1 ton lateks per tahun sehingga ia memerlukan investasi jangka pendek dengan memanfaatkan sela tanaman karet sebagai lahan jagung yang bisa dipanen dalam kurun waktu sekitar 4 bulan.

“Kalau pada lahan terbuka maksimal bisa mencapai tujuh ton, namun karena ditanam dengan sistem tumpangsari hasil yang akan kita peroleh bisa lebih sedikit karena sebagian tanaman ternaungi karet,” beber Budiono.
Sulitnya mencari benih jagung bermutu pun tak menghalangi Budiono untuk menanam jagung dengan benih DK 999 yang harganya relatif lebih murah dengan harga saat ini Rp90.000. Meski pada musim sebelumnya hanya berkisar Rp55.000. Sementara bibit jagung jenis lain semisal Pioner, NK, Bisi bahkan cukup mahal hingga kisaran Rp400.000 hingga Rp500.000 per kilogram dan masih sulit ditemui di kios pertanian.
Pemanfaatan lahan di sela-sela tanaman karet belum memasuki masa penyadapan dengan jarak tanam sekitar 2 x 3 meter, sebagian berada pada tanah datar dan lahan miring diakui Budiono ditargetkan bisa saling menguntungkan. Keuntungan menanam jagung dengan hasil yang bisa mencapai lima ton per hektar sekaligus memberi manfaat untuk tanaman karet yang ikut terpupuk selama dua kali dalam satu kali masa tanam jagung.

Proses penanaman jagung pada lahan karet tersebut, diakui Budiono, menggunakan sistem upahan dengan sebanyak 5 pekerja melakukan sistem koak (melubangi tanah dengan cangkul) yang dibayar dengan upah tukang koak Rp70 .000 dan buruh wur (penanam) sebesar Rp50.000. Penanaman jagung pada masa hujan yang mulai turun di wilayah tersebut sekaligus diiringi tumbuhnya rumput sehingga dilakukan proses penyemprotan gulma dengan herbisida.
Selain pada tanaman karet sistem tumpangsari juga diterapkan oleh warga Sragi dengan pemanfaatan lahan tanaman kelapa sawit yang dipergunakan untuk lahan penanaman jagung khususnya saat tanaman karet masih belum produktif. Selain menunggu masa panen tanaman kelapa sawit petani memanfaatkan lahan untuk menanam jagung dengan tujuan memperoleh hasil tanaman jagung yang melimpah.