Sinergi Pencari Jerami dan Pemilik Lahan Sawah
LAMPUNG – Dua jenis pencari jerami di wilayah kabupaten Lampung Selatan menurut salah satu petani, Sarto (39), memiliki peranan penting dalam dunia pertanian sawah di wilayah tersebut.
Jenis pertama pencari jerami yang mencari jerami atas permintaan perusahaan penggemukan sapi (feed loter), pencari jerami perseorangan oleh peternak tradisional. Bagi Sarto, keberadaan pencari jerami tersebut ikut membantu sebagai petani karena secara tidak langsung ikut membersihkan limbah sisa panen berupa jerami yang maksimal akan dibakar atau dipergunakan sebagai pupuk.
Proses pencarian jerami yang mulai marak dilakukan oleh petani di wilayah tersebut diakuinya akibat faktor semakin berkurangnya lahan penggembalaan sehingga petani peternak lebih banyak melakukan aktivitas mencari pakan tanpa menggembalakan ternak sapi. Imbasnya sejumlah petani yang melakukan panen saat ini ikut terbantu. Baik pemilik lahan maupun tenaga pemanen yang akan memperoleh hasil dari pembagian padi pemilik dengan sistem ceblok bagi hasil.

Sarto mengungkapkan, pada luas lahan satu hektar miliknya ditanami oleh sebanyak lima petani penanam padi yang akan mendapatkan padi dengan bagi hasil, saat proses penanaman dilakukan dengan sistem ceblok. Saat proses pemanenan, perontokan padi, sebagian besar anggota keluarga penanam akan membantu melakukan beberapa tahap pemanenan hingga padi sampai ke rumah pemilik.
Proses tersebut, diakuinya, berupa pemotongan padi (ngarit), proses penyusunan batang padi yang sudah dipotong dalam tumpukan (numpuk, proses perontokan padi/nggepyok), pembersihan padi dari kotoran (ngayak) hingga proses membawa padi dalam karung ke rumah pemilik (ngunjal) yang masih dijalankan oleh warga asal Jawa Tengah yang menetap di Lampung Selatan.

“Keuntungan timbal balik pastinya dengan membantu petani pencari jerami bisa memperoleh jerami segar. Langsung dari sawah dan pemilik padi. Dibantu dalam proses perontokan sehingga mempercepat waktu,” terang Sarto.
Beberapa pencari jerami yang dibayar oleh perusahaan penggemukan sapi di wilayah kecamatan Sidomulyo hingga kabupaten Lampung Timur, diakui Sarto, bahkan melakukan hal yang sama ikut membantu merontokkan padi karena pada sejumlah wilayah jerami sudah dijual dengan sistem tonase. Meski di lahan sawah miliknya masih digratiskan tanpa harus membayar. Sebagian pemilik lahan juga ikut terbantu percepatan pembersihan lahan tanpa ada limbah jerami sisa panen.
Sumiran, salah satu pekerja yang mencari jerami untuk perusahaan penggemukan sapi menyebut, kerap mencari jerami tanpa melakukan pemilahan karena jerami difungsikan sebagai alas tidur ternak sapi. Sebagian dipergunakan sabagai pakan sapi dengan cara dicacah untuk diberikan kepada ternak sapi penggemukan. Dicampurkan dengan jenis pakan lain berupa jenjet jagung, dedak padi serta tetes tebu. Kebutuhan yang berbeda tersebut diakuinya sesuai dengan permintaan sang bos karena ia menyebut, pencarian jerami dibayar dengan sistem kerja harian sebesar Rp100 ribu per orang sebanyak 5 orang.
“Kami mencari jerami satu hari rata-rata bisa mencapai lima ton. Karena satu ton jerami saat ini dihargai sekitar tiga ratus ribu atau sekitar satu juta setengah untuk lima ton,” beber Sumiran.

Selama mencari jerami di wilayah Lampung Selatan, ia juga menyebut, ada dua tipe petani yang membiarkan jeraminya boleh diambil untuk pakan ternak. Namun ada sebagian pemilik jerami yang melarang mengambil jerami untuk pakan ternak. Khususnya bagi perusahaan penggemukan sapi dengan alasan akan menjual. Selain itu beberapa petani penanam padi organik melarang mengambil jerami yang sengaja akan dipergunakan sebagai pupuk.
Meski tidak dijual namun sang bos diakui oleh Sumiran juga kerap memberikan uang sebagai tanda terima kasih kepada pemilik sawah dengan besaran Rp50 ribu hingga Rp100 ribu untuk jerami yang bobotnya bisa mencapai dua ton lebih. Pemilik lahan sebagian juga ikut terbantu karena limbah jerami tidak mengotori sawah dan proses perontokan ikut dipercepat oleh pencari jerami.