Sejarawan: Hingga 1965, Pak Harto Blessing in Disguise
BANDUNG — Sejarawan, Prof. Dr. Aminuddin Kasdi, mementahkan pandangan Asvi Warman Adam terkait teori kudeta merangkak yang menyebutkan G30S merupakan ambisi Soeharto. Aminuddin menyebut, peristiwa G30S tidak terjadi tiba-tiba, ada gejala-gejala sebelumnya.
“Kalau Soeharto punya ambisi begitu, apakah ada catatan sejarah dari sebelum 1965 yang mengarah ke situ? Saya melihat sepanjang ini tidak ada. Tapi, kalau memang ada, boleh jadi pendirian ini saya ubah,” kata Aminuddin, dalam Diskusi Buku ‘Kaum Merah Menjarah’ di Islamic Festival & Book Fair 2017 Jawa Barat, di Pusdai Bandung.
Ia menambahkan, Soeharto pertama kali menjadi Komandan Korem, Brigade di Yogyakarta, kemudian menjadi Pangdam Diponegoro. Setelah itu, sekolah di Seskoad, lalu menjadi Panglima Komando Pembebasan Irian Barat, selanjutnya menjadi Pangkostrad.
“Dari catatan itu, tidak ada catatan hitam Pak Harto. Memang pernah disinyalir tidak ada kesinkronan pemikiran antara Pak Nasution dengan Pak Yani, tapi itu kan internal Angkatan Darat, dan tidak pernah sampai ada konflik,” imbuhnya.
Dalam sejarah juga pernah terjadi gerakan koreksi dari daerah terhadap pemerintah pusat, yakni PRRI/Permesta (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Rakyat Semesta). Itu pun, kata Aminuddin, dapat dikendalikan oleh Pak Nasution, tetapi biang keladinya, menurut Aminuddin, adalah PKI.
“Tahun 1961 itu eks PRRI/Permesta akan diberi amnesti oleh pemerintah pusat, tapi dicegah oleh PKI,” ungkap Aminuddin.
Aminuddin menilai, pada diri Soeharto tidak ada catatan hitam, bahkan Soeharto itu sampai dengan 1965 adalah blessing in disguise (berkah yang tersembunyi). Soeharto adalah seorang perwira yang hanya sekali waktu terdengar, karena ia menjadi Panglima Mandala. Kemudian menjadi Panglima Koraga Ganyang Malaysia, dan tiba-tiba ditugaskan menjadi Pangkostrad.
“Waktu itu, namanya Caduad, Cadangan Umum Angkatan Darat. Pak Harto diserahi mengelola Caduad yang dulu kantornya di sebelah Gedung 58, Menteng. Oleh Pak Harto, karena sebagai ahli strategi kemudian direvisi nama itu menjadi pasukan Komando Strategi Angkatan Darat (Kostrad),” ungkap Aminuddin.