Sejarah Perkembangan Pembangunan Indonesia Ada pada Pak Harto

JAKARTA —- Prestasi perkembangan pembangunan Indonesia sejatinya ada pada diri seorang Soeharto. Selama 32 Tahun memimpin negara, Program Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) selalu tertuang dalam pidatonya. Pak Harto gigih dan ulet dalam menjalankan ide dan rencananya.

Demikian antara lain diungkapkan Soenarto Soedarno, Mantan Asisten Sekretaris Negara Urusan Khusus, pada era kepemimpinan Presiden Soeharto ketika ditemui Cendana News, Kamis di Gedung Damandiri Jakarta.

Soenarto menceritakan Indonesia sampai saat ini pembangunan Indonesia bisa berkembang dalam berbagai bidang berawal dari konsep dan ide Pak Harto. Perkembangan sejarah pembangunan ini masyarakat Indonesia dapat dilihat dalam dokumentasi pidatonya.

“Apa yang telah dijalankan maupun akan dijalankan selalu dilaporkan bapak dalam bentuk pidato. Laporan pidato inilah yang pada akhirnya dirinya simpan sebagai dokumen negara, karena didalam pidato-pidato bapak terkandung atau memuat nilai-nilai etos kerja yang diterapkan Presiden Soeharto,” ujar Soenarto.

Menurutnya lagi, pidato-pidato Pak Harto setelah dibaca dikembalikan ke stafnya, dalam hal ini dirinya. Pidato tersebut bisa dikumpulkan, diarsipkan, serta didokumenkan. Dirinya sangat senang dan bahagia karena bisa mengoleksi dokumen pidato Presiden Soeharto.

Total sebanyak 4800 pidato mulai dari pidato laporan kepada rakyat, pidato laporan APBN, serta pidato laporan pertanggung jawaban sudah terkumpul menjadi satu didalam bentuk mikro film. Tidak hanya itu, dirinya juga sudah membuatkan daftar kronologis urutan pidato Presiden Soeharto sehingga akan dengan sangat mudah bisa dicocokkan dengan mikro film tersebut.

Sebenarnya dirinya tidak hanya ingin menyiapkan dan mengumpulkan dokumen pidato Pak Harto saja, tetapi juga pidato mulai dari Soekarno hingga presiden sekarang, hanya saja kendalanya sangat besar.

Ketika zaman Bung Karno begitu sulit karena beliau menjabat presiden di zaman revolusi. Pidato beliau kita tahu sendiri, beliau membaca dulu dan setelah membaca beliau sampaikan, kita nilai sebagai orator yang hebat di Negeri ini, teks pidato tidak dikembalikan,” katanya lagi.

Dirinya menilai bahwa hanya Pak Harto yang mempunyai atau memiliki kedisiplinan yang sangat tinggi, sehingga setiap kali selesai membaca pidato teks pidato tersebut selalu dikembalikan atau diberikan kembali ke staf kepresidenan.

Ketika B.J. Habibie, pidato beliau tidak dikembalikan ke staf. Ketika ingin diminta ada rasa ewuh pakewuh. Begitu juga ketika Gus Dur, maupun SBY, pidato tidak dikembalikan sehingga ketika dia ingin meminta untuk didokumentasikan takut teks atau naskah pidato yang aslinya sudah diubah sebelum didokumentasikan.

“Hanya Bapak Soeharto yang begitu disiplin dan teliti dalam segala hal, dan semuanya terdokumentasi dan tergambar dengan jelas dalam dokumen pidato bapak,”jelasnya.

Dirinya juga bangga karena SekNeg bekerjasama dengan arsip nasional telah menyimpan naskah atau teks-teks aslinya dan SekNeg juga meminta agar konsepnya dijadikan satu untuk memudahkan dalam mencarinya.

Soenarto melakukan dokumentasi ke dalam roll mikro film dengan tujuan agar keaslian teks dokumen pidato Pak Harto tetap terjaga dengan baik dan aman. Jika didokumentasikan dalam bentuk chip tentunya akan sangat mudah teks dokumen pidato dapat diubah dan tentunya akan menghilangkan fakta sejarah yang sebenarnya.

“Teks aslinya sudah tersimpan dengan aman di Arsip Nasional, sekarang copian dokumen pidato bapak yang tersimpan dalam mikro film akan diserahkan ke Perpusnas. Untuk selanjutnya diolah pihak Perpusnas agar masyarakat dapat membaca dan mengetahui fakta sejarah perkembangan pembangunan di Indonesia,” katanya lagi.

Roll Mikro Film Dokumen Pidato Presiden Soeharto/ Foto M. Fahrizal .
Lihat juga...