Proyek JTTS Bahayakan Warga, Camat Penengahan Turun Tangan

LAMPUNG – Hujan deras yang melanda wilayah Kabupaten Lampung Selatan selama beberapa hari dengan intensitas yang deras dan terjadi dalam waktu berbeda, ikut berimbas pada warga di Dusun Perkumpulan Keluarga Sulawesi atau Dusun PKS Desa Penengahan Kecamatan Penengahan.

Dampak hujan deras tersebut, menurut Suirah (50), salah satu warga yang tinggal terowongan (box) di bawah jalan tol trans sumatera (JTTS) serta gorong-gorong mengakibatkan gorong-gorong tersumbat, air meluap ke perumahan warga disertai lumpur.

Pihak pelaksana proyek pembangunan JTTS yang tengah melakukan proses pembangunan saluran air dan talud bahkan diakui Suirah telah melakukan pembersihan selama tiga hari terakhir sejak Sabtu (18/11) hingga Minggu (19/11). Namun gorong-gorong saluran air masih tersumbat setengahnya oleh lumpur dan air dengan potensi terjangan banjir masih akan terjadi dengan kondisi musim hujan yang masih kerap terjadi di wilayah tersebut. Genangan air akibat banjir diakuinya bahkan melanda sebagian rumah warga dengan ketinggian air mencapai 50-60 sentimeter dan surut saat hujan reda.

Koharudin, camat Kecamatan Penengahan saat meninjau lokasi rumah enam warga di Dusun PKS Desa Penengahan yang terimbas banjir dampak JTTS. [Foto: Henk Widi]
“Kami sudah mengantisipasi saat hujan turun malam hari dengan berjaga-jaga khawatir rumah terkena longsoran atau diterjang banjir dari bagian atas, dari dua arah selatan dan timur. Sementara rumah kami tepat berada di lereng timbunan jalan tol meski lokasi berada di luar lahan terdampak jalan tol,” terang Suirah, salah satu warga Dusun Perkumpulan Keluarga Sulawesi Desa Penengahan Kecamatan Penengahan saat ditemui Cendana News di dekat rumahnya, Senin (20/11/2017).

Kekhawatiran Suirah tersebut bukan tanpa alasan. Sebab selama dua hari berturut-turut sebanyak enam rumah yang dihuni enam kepala keluarga merasakan dampak banjir air dan lumpur di areal sepanjang 300 meter, meliputi rumah milik warga di sepanjang saluran drainase diantaranya Asmawati, Samsudin, Nuarasiah, Haji Bahri, Suirah dan Anilah yang sebagian isi rumahnya terendam banjir air disertai lumpur. Kondisi tersebut diakuinya belum pernah terjadi sebelum proyek JTTS dikerjakan meski setelah kejadian tersebut pihak pelaksana JTTS yang dikerjakan pada ruas Bakauheni-Terbanggibesar paket I Bakauheni-Sidomulyo tersebut dikerjakan PT. Pembangunan Perumahan (PP).

Pasca banjir di wilayah tersebut yang melanda enam rumah, camat kecamatan Penengahan, Drs.Koharudin dan sekretaris desa Penengahan, Firdaus yang sebelumnya telah meninjau lokasi dampak banjir bahkan kembali mengecek kondisi rumah warga terdampak banjir air dan lumpur pada lokasi timbunan JTTS tersebut. Koharudin menyebut telah berkoordinasi dengan pihak pelaksana JTTS dalam hal ini PT. PP karena diakuinya di wilayah Penengahan beberapa wilayah terdampak JTTS juga perlu mendapat perhatian saat hujan tiba.

“Kami pihak desa hingga kecamatan tidak tinggal diam karena warga terdampak proyek jalan tol trans Sumatera justru bukan warga yang lahannya dibebaskan atau mendapat ganti rugi namun di luar itu,” ungkap Koharudin saat diwawancarai Cendana News.

Firdaus, Sekdes Desa Penengahan dan Koharudin Camat Penengahan mengunjungi warga terdampak banjir. [Foto: Henk Widi]
Beberapa desa yang saat ini menjadi perhatiannya, menurut Koharudin, di antaranya Desa Penengahan, Desa Klaten dengan potensi banjir akibat luapan air saluran drainase dampak dari konstruksi gorong-gorong yang tidak memadai. Koordinasi dengan pelaksana tol diakuinya termasuk potensi kerawanan bencana di dusun PKS yang berada di bawah timbunan tanah JTTS dengan ketinggian di atas 80 meter dan kemiringan (elevasi) mencapai 30 derajat sehingga potensi bencana longsor masih mengintai.

Terkait bantuan atau kompensasi yang akan diberikan oleh pelaksana proyek JTTS, Koharudin menyebut, belum bisa memastikan namun dengan kerugian yang dialami warga ia berharap ada uluran tangan dari pihak pelaksana proyek JTTS terlebih banjir disebabkan imbas dari pembangunan bukan murni bencana alam. Sudut kemiringan yang tajam dan sangat dekat dengan perumahan warga tersebut diakui Koharudin bahkan membuat warga khawatir bencana mengancam sewaktu-waktu dalam jangka dekat atau jangka panjang.

Senada dengan Koharudin, sekretaris desa Penengahan, Firdaus yang berada di lokasi mengaku sebetulnya imbas pembangunan JTTS di wilayah tersebut tidak hanya akibat banjir yang baru terjadi beberapa hari ini dan masih akan berpotensi terjadi selama hujan masih melanda. Dampak kebisingan dan debu beterbangan diakui Firdaus masih dirasakan warga setiap hari dan kondisi tersebut sudah disampaikan kepada pihak pelaksana proyek JTTS.

Berdasarkan diskusi dengan pihak kecamatan dan desa, Firdaus menyebut, kondisi tersebut akan didiskusikan dengan pelaksana proyek JTTS dan pihak terkait untuk opsi pemindahan warga dari lokasi yang didiami saat ini. Karena potensi bencana bisa datang sewaktu-waktu terutama hujan dipastikan akan melanda wilayah tersebut hingga bulan Desember.

Berdasarkan penuturan warga dengan pihak desa dan kecamatan, warga terdampak rela dipindahkan dengan alasan faktor keselamatan tidak hanya sebanyak enam rumah. Namun lebih dari sembilan rumah di lokasi tersebut ikut berpotensi terkena longsoran tanah.

Terkait kondisi rumah warga yang terkana banjir dan berpotensi rawan terkena longsoran di lokasi dekat pembangunan proyek JTTS tersebut, general affairs PT. Pembangunan Perumahan, Yus Yusuf, saat akan dikonfirmasi Cendana News masih belum bisa dihubungi.

Warga Siap Direlokasi dari Rumah Rawan Bencana

Potensi bencana akibat lokasi rumah yang berada tepat di bawah timbunan tanah tol dengan sudut kemiringan yang curam di dekat lokasi proyek pembangunan jalan tol trans Sumatera tersebut, diakui oleh Haji Bahri, Kepala Dusun PKS sekaligus pemilik rumah terdampak banjir air disertai lumpur yang melanda perumahan warga selama hampir tiga hari terakhir sejak Sabtu (18/11) hingga Minggu (19/11).

Ia mengaku, akibat hujan yang berimbas air disertai lumpur mengalir dari lereng terjal, proyek JTTS yang sebagian masih berupa tanah merah dipadatkan terbawa aliran air dan memasuki areal perumahan warga dan akses jalan penghubung Dusun PKS dan kampung Laban Sunda digenangi lumpur. Hj. Bahri mengaku was-was meski sejak pagi ini belum ada tanda-tanda hujan kembali turun namun dengan musim hujan yang masih berlangsung, ia masih was-was longsor atau banjir bisa menerjang perumahan warga.

“Saya khawatir saat hujan terjadi pada malam hari karena saluran gorong-gorong sudah tersumbat setengahnya oleh tanah padas dan lumpur, bahkan di aliran drainase yang dibuat air masih menggenang disertai lumpur,” beber Hj. Bahri.

Tinggal di lokasi tersebut selama puluhan tahun, diakui Haji Basri, tidak lantas membuat dirinya bersikukuh tetap menempati rumah yang tepat berbatasan dengan drainase yang tengah dibangun di bawah tanah timbunan JTTS. Bangunan drainase yang letaknya lebih tinggi dari bangunan rumah dikhawatirkan berpotensi menyebabkan banjir sehingga dengan adanya opsi direlokasi ia dan beberapa warga siap menerima opsi tersebut. Jika memang menjadi pilihan terakhir dengan uang ganti rugi yang sesuai.

Laki-laki yang hendak membangun rumah di lokasi terdampak banjir akibat tersumbatnya gorong-gorong sekaligus longsoran lumpur tersebut bahkan terpaksa membatalkan niat untuk membangun rumah meski material pasir, batu-bata sudah disiapkan menunggu koordinasi lanjutan antara pemerintah desa, kecamatan dan pihak pelaksana JTTS. Apakah opsi relokasi akan dilakukan atau dilakukan perbaikan drainase serta tanah timbunan yang sudut kemiringannya sangat tajam.

Lihat juga...