Umat Hindu Lamsel Persiapkan Perayaan Galungan dan Kuningan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Tradisi perayaan Hari Suci Galungan dan Kuningan dipersiapkan umat Hindu di Lampung Selatan dengan berbagai kegiatan. Kaum laki laki dan wanita berbagi tugas untuk persiapan Galungan pada Rabu (14/4/2021).

Ketut Wiryaningsih, warga Dusun Buana Nirwana, Desa Bangunrejo, Kecamatan Ketapang menyebutkan, sejumlah wanita secara swadaya dan gotong royong membuat canang, banten atau sesaji. Sementara kaum laki laki melakukan pembersihan pura merajan atau pura keluarga dan pura kayangan atau pura desa. Selain itu persiapan pembuatan penjor dilakukan sembari membersihkan pekarangan rumah. Persiapan pembuatan canang dan penjor menggunakan janur.

Ketut Wiryaningsih bilang pembuatan canang akan diisi dengan bunga. Selain bunga canang yang dibentuk kotak, bulat atau porosan diisi dengan sirih, kapur, jajanan pasar, buah sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur kepada Sang Hyang Widi. Canang dipergunakan untuk sesaji di pura keluarga dan pura desa.

“Rerainan atau hari raya Galungan menyiapkan berbagai perlengkapan sembahyang untuk persembahan kepada Sang Hyang Widi dengan segala manifestasi sebagai tanda syukur serta keselamatan dengan kegiatan penyucian hingga perayaan Kuningan pada 24 April mendatang,” terang Ketut Wiryaningsih saat ditemui Cendana News, Minggu (11/4/2021).

Sebelum Galungan, Ketut Wiryaningsih menyebut pura merajan akan diberi hiasan. Sejumlah persiapan dilakukan agar saat Galungan ia dan keluarga bisa beribadah dengan nyaman. Sesaji yang disediakan berasal dari hasil kebun dan membeli di pasar.

Putu Wastian, warga Desa Bangunrejo menyebut menyiapkan penjor yang dibuat dari bambu tali berukuran sekitar sepuluh meter. Setelah dibersihkan ditambahkan hiasan janur dan berbagai hiasan pelengkap.

Makna penjor sebutnya sebagai simbol Naga Wasuki dan memiliki makna kerendahan hati. Sejumlah sesaji akan ditempatkan pada penjor berupa kelapa, padi, jajanan dan hiasan buatan tangan.

“Galungan memiliki arti kemenangan atau dharma atau kebaikan melawan adharma atau keburukan sekaligus ngayarin atau penyucian,”ulasnya.

Hiasan penjor sebut Putu Wastian akan ditempatkan pada pintu masuk halaman rumah. Setelah selesai membuat penjor yang dikerjakan dengan sistem gotong royong dilanjutkan dengan pembersihan pura. Pembersihan dilakukan dengan mencuci dan mengganti kain penutup.

Agung Putra, Pemangku di Pura Kayangan Tunggal Amertasari Desa Sripendowo, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan saat ditemui, Minggu (11/4/2021). Foto: Henk Widi

Agung Putra, pemangku atau pinandita Pura Kayangan Tunggal Amertasari Desa Sripendowo mengaku persiapan telah dilakukan. Sejumlah persiapan jelang Galungan sebutnya berupa sugihan dengan menghaturkan pengeresikan. Selanjutnya melakukan hari penyekeban dengan menguatkan hati agar bisa mengendalikan diri. Sehari sebelum Galungan dilakukan penampahan.

“Pada saat penampahan semua penjor harus sudah berdiri lengkap dengan hiasannya,” cetusnya.

Perayaan Galungan sebut Agung Putra dilakukan sesuai penanggalan Bali atau Pawukon yang jatuh 210 hari atau 6 bulan sekali. Perayaan Galungan menjadi momen kebersamaan dengan keluarga meski saat pandemi Covid-19 dibatasi. Beberapa hari setelahnya pada Sabtu (24/4/2021) dirayakan Kuningan. Kuningan dilakukan hanya sampai pukul 12.00 atau tajeg surya untuk mohon keselamatan dunia dan isinya.

Lihat juga...