Petani Cabai Jawa Mulai Merasakan Untung
LAMPUNG — Petani cabai jawa (piper retrofractum), mulai merasakan berkah dari budi daya tanaman merambat yang banyak tumbuh di pekarangan dan sengaja dibudidayakan di perkebunan sebagai tanaman sela pada tanaman utama, seperti coklat, durian serta pepohonan lain.
Meski cabai Jawa tidak seterkenal cabai merah besar, rawit dan jenis cabai bahan baku bumbu, namun Rosa (24), mengaku membudidayakan cabai jawa sebagai bumbu dan komoditas pertanian tersebut harganya mulai membaik.
Rosa menyebut, tanaman merambat yang banyak dibudidayakan warga Dusun Umbul Keong, Desa Klaten, tersebut ditanam oleh sebagian besar warga secara intensif, selayaknya tanaman lada dengan manfaat utama sebagai bumbu kuliner tradisional rendang, lodeh serta masakan lain.

“Awalnya hanya beberapa rumpun, namun karena fungsinya yang banyak bisa menggantikan cabai rawit serta cabai merah saat harga di pasaran mahal. Akhirnya, oleh nenek dan ibu saya dikembangkan hingga ada yang tingginya mencapai lima meter, merambat di pohon durian,” terang Rosa, saat ditemui Cendana News tengah memetik cabai jawa di depan rumahnya, Senin (20/11/2017).
Selain untuk kebutuhan bumbu beberapa kuliner tradisional, Rosa juga menjualnya ke pengepul sebagai bahan pembuatan obat herbal dengan harga per kilogram mencapai Rp20.000 hingga Rp30.000 per kilogram dua tahun sebelumnya.
Pada 2016, ia bahkan masih menjual cabai jawa dalam kondisi kering sempurna dengan harga Rp45.000 per kilogram, namun pada saat masa panen bulan November ini ia memastikan pengepul menerima cabai jawa kering dengan harga Rp70.000 per kilogram.
Kenaikan harga cabai jawa tersebut diakuinya cukup beralasan. Sebab, memasuki bulan November hingga beberapa bulan ke depan, musim hujan meningkatkan permintaan akan bahan herbal penghangat badan sekaligus kuliner dengan bahan baku bumbu cabai jawa cukup diminati.
Cabai jawa yang juga dikenal dengan cabai puyang atau lada jawa tersebut, kata Rosa, banyak diminta untuk pembuatan obat berbahan rempah, meski pembudidaya cabai jawa cukup terbatas.
Rosa juga menyebut, di dusun tersebut pembudidaya tanaman menjalar seperti sirih dan tanaman lada tersebut masih terbilang sedikit. Sebagian ditanam sebagai tanaman hias sekaligus memiliki fungsi sebagai obat herbal yang bisa diambil langsung dan juga sebagai bumbu dapur.
Sebagian warga sengaja membudidayakan tanaman cabai jawa dengan mengambil batang yang menjalar di tanah dan menjadi tunas baru untuk dipencarkan.
Anton, sang suami, yang ikut merawat tanaman cabai jawa tersebut mengatakan, membaiknya harga cabai jawa kering membuatnya telaten memetik setiap buah cabai jawa yang matang ditandai dengan warna kuning kemerahan. Selanjutnya dijemur di atas tampah memanfaatkan panas matahari.
Meski demikian, selama musim hujan bersamaan dengan panen cabai jawa yang bisa dilakukan bertahap, membuat proses penjemuran lebih lama dibandingkan saat musim panas.
“Meski penanaman cabai jawa tidak dilakukan secara intensif, namun sejak November sudah bisa dipanen. Sebagian ada yang masih muda. Puncaknya bisa Februari tahun depan panen raya,” terang Anton.
Musim panen yang dilakukan oleh petani pemilik tanaman cabai jawa diakui Anton juga pada bulan November merupakan buah penyelang atau selingan sebelum puncak masa panen pada bulan Februari.
Faktor sedikitnya pasokan pada bulan November sebelum puncak masa panen cabai jawa, juga diakuinya membuat harga cabai jawa bertengger pada angka yang membawa berkah pembudidaya cabai jawa seperti dirinya, pada harga Rp70.000. Harga sebelumnya hanya berkisar Rp35.000 hingga Rp50.000 per kilogram.
Rendi, pemilik tanaman cabai jawa lain yang memiliki ratusan tanaman cabai jawa, mengaku masih melakukan perawatan pada tanaman merambat yang menjalar pada pohon leresede dan pohon kakao dengan buah penyelang dan dikumpulkannya untuk proses penjemuran.
Ia berharap, panen puncak cabai jawa pada Februari mendatang harga masih berkisar Rp70.000 per kilogram, atau jika turun masih berkisar di atas Rp45.000 per kilogram.
Perawatan yang sederhana dengan pemberian pupuk kandang, diakuinya membuat tanaman cabai jawa bisa dijadikan tanaman investasi menjanjikan. Selain itu, belum banyak petani secara intensif menanam cabai jawa sebagai komoditas ekonomi bernilai tinggi tersebut.
Peluang penanaman cabai jawa bahkan disebut Rendi menjadi investasi yang cukup menjanjikan pada lahan perkebunan dipadukan dengan tanaman produktif lainnya.