Yudi Latif Paparkan 5 Isu Strategis Bumikan Pancasila

JAKARTA – Situasi dan kondisi pascareformasi, bangsa Indonesia mengalami kemunduran budaya dan kehilangan jati diri yang semakin meninggalkan nilai ke-Indonesia-an yang bersumber pada Pancasila.

Demikian yang mengemuka dalam acara Simposium Nasional Kebudayaan yang diselenggarakan Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI-Polri (FKPPI), PPAD, dan Yayasan Suluh Nasional Bangsa (YSNB) bertema ‘Pembangunan Karakter Bangsa untuk Melestarikan dan Menyejahterakan NKRI Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945’.

Berangkat dari keprihatinan ini, Yudi Latif memaparkan lima isu strategis untuk membumikan Pancasila. Kelima isu tersebut disampaikan Kepala Unit Kerja Presiden (UKP) Pembinaan Ideologi Pancasila itu dalam kapasitasnya sebagai pembicara.

“Isu strategis membumikan Pancasila, pada bagian pertama, yaitu pemahaman Pancasila, yang membahas tentang intensitas pembelajaran Pancasila selama era reformasi memang mengalami penurunan yang mengakibatkan kurangnya wawasan Pancasila di kalangan pelajar dan kaum muda,“ kata Yudi Latif, di acara ‘Simposium Nasional Kebudayaan’ di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (20/11/2017).

Lebih lanjut, Yudi menerangkan, bahwa hal itu karena kurangnya efektivitas dan daya tarik pembelajaran Pancasila secara isi dan metodologi. “Sungguh memprihatinkan memang masih adanya distorsi sejarah akibat kurangnya akses terhadap sumber-sumber otentik,“ terang Yudi.

Pada bagian kedua, Inklusi Sosial. Yudi menyoal tentang arus globalisasi yang membawa kontestasi nilai dan kepentingan yang mengarah kepada menguatnya kecenderungan politisasi identitas. “Menguatnya gejala polarisasi dan fragmentasi sosial, baik berbasis identitas keagamaan, kesukuan, golongan dan kelas-kelas sosial. Justru itu menjadikan lemahnya budaya kewargaan,“ paparnya.

Ketiga, Keadilan Sosial. Terkait kebijakan pembangunan yang masih berorientasi pada peningkatan pertumbuhan ekonomi daripada peningkatan pendapatan. “Hal ini karena masih terjadi sentralisasi pembangunan ekonomi pada wilayah-wilayah tertentu. Dampaknya akan semakin meluasnya kesenjangan sosial antar pelaku ekonomi, antar daerah, antar bidang, antar sektor dan antar wilayah,“ tegas Yudi.

Keempat, Pelembagaan Pancasila. Lemahnya institusionalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kelembagaan sosial politik, ekonomi dan budaya. ”Hal ini akan berakibat kurangnya konsistensi dalam menjadikan Pancasila sebagai sumber dai segala sumber hukum dalam pembentukan peraturan perundang-undangan,“ tambahnya.

Terakhir, kelima, Keteladanan Pancasila. Yudi menekankan pada keadaan semakin maraknya sikap dan perilaku destruktif yang lebih mengedepankan hal-hal negatif di ruang publik. “Hal ini akan berakibat, antara lain, kurangnya apresiasi dan insentif terhadap prestasi dan praktik-praktik baik, serta kurang pengarusutamaan keteladanan Pancasila di ruang publik, “ tandasnya.

Lihat juga...